Showing posts with label GUSTY RIKARNO. Show all posts
Showing posts with label GUSTY RIKARNO. Show all posts

Wednesday, 20 July 2016

Tentang Mama ...


Terdengar kabar dari kampung. Kakak iparku mengirim pesan. Singkat saja. "Mama sakit". Begitulah mereka di kampung di sekitar bulan Februari. Kadang untuk membeli pulsa seharga 7000 rupiah saja, sulitnya minta ampun. Bukan karena malas untuk membeli tapi memang karena tidak ada uang. Sudahlah. Kalau mau bahas tentang kampungku mungkin butuh kertas ribuan lembar. Kembali tentang mama. Setelah mendapat pesan itu, tiba_tiba hariku terasa gelap. Pikiranku berantakan. Jatungku berdebar. Wajah tulus mama melintas. Wanita hebat yang pernah kukenal. Usianya memang sudah uzur. 74 tahun. HP_ku berdering dan saya semakin ketakutan. Kakak sulungku menelphon. "Mama baik_baik saja", katanya tenang. Kakak memang begitu. Dia tidak mau mencerita kesulitan atau persoalan di kampung kepada kami adik_adiknya di rantauan. Menurut kakak, lima hari terakhir ini mama selalu mengeluh kesakitan pada lambungnya. Terasa perih dan menikam. Sulit tidur dan nafsu makan berkurang. Tapi sekarang sudah agak membaik. Beberapa ramuan tradisional dari Ema Hanes terlihat mujarab. Mendengar kabar itu, mendung hatiku cerah kembali. 
Bagiku, mama adalah segalanya. Saya selalu siap melakukan apa saja untuk kebahagiaan dan kebaikan mama. Untuk nama seorang mama Margareta Naul, terasa tidak bisa diwakili ratusan bait puisi. Mama adalah matahariku. Bicara soal mama bukan berarti mengesampingkan apalagi menomorduakan bapa. Namun, untuk kali ini saya ingin fokus tentang mama. Dalam satu kesempatan, mama bercerita tentang dua buah mimpi miliknya dan sulit dilupakan. Yah...semacam mimpi terindah dan paling berkesan dalam hidupnya. Mimpi itu tentang saya dan kakak saya nomor 4. Tentang saya, mama bermimpi melewati sebuah kali. Katanya, perjalanan itu hendak ke rumah nenek. Tapi belum sampai tujuan, gelombang banjir badang mendekat. Mama histeris dan berjuang menyelamatkan diri. Pada rusuk tebing berlicin, ia berjuang sekuat tenaga menghindar. Sebuah suara tiba_tiba muncul dari puncak tebing itu. Suara orangtua yang tdk dikenalinya. "Ulurkan tanganmu". Mama terselamatkan. Kepada orang tua itu mama bertanya, "Apakah bapa melihat  Ory? Ia anak bungsuku". Ory adalah nama pertamaku. Nama kesayangan keluarga. "Kamu jalan saja. Ia ada di sana"', jawab orangtua itu. Tak lama berselang, mama mendapatiku di atas pohon yang besar. Mama tersadar kembali dari mimpinya saat saya turun mendapati mama. Mimpi ini akhirnya membuat mama selalu optimis jika suatu saat, saya bakal menjadi orang hebat walau tak harus menjadi seorang penjabat. Tanpa disadari, mimpi mama adalah hidup saya. Ketergantunganku secara psikologis pada mama sangat tinggi. Mama adalah bentuk lain dari diriku. Mama adalah "roh" yang membuatku ada dan berarti. 
Saya menghabiskan masa kecil dan Sekolah Dasar (SD) di Regho. Sebuah kampung kecil di Kabupaten Manggarai Barat_Flores. Kampung tua tempat dulu bertahta seorang Dalu (Mungkin untuk saat ini jabatan Dalu setara dengan Gubernur. Wakil pemerintah pusat di daerah)  yang membawahi beberapa wilayah kekuasaan). Di sini juga terdapat dua buah obyek wisata kebanggan Manggarai Barat. Watu Timbang Raung dan gua Nisi Ketek. Nanti saya akan ceritakan pada kalian tentang kedua obyek wisata ini. Walaupun tidak setenar Komodo tetapi kedua obyek wisata ini memiliki cerita mistik yang sarat makna. Tujuh tahun saya di bangku SD. Tahan kelas di kelas 2 SD, membuat saya trauma. Kata wali kelasku, saya belum lancar bicara dan membaca. Mama sangat meneteskan air mata saat mendengar saya tahan kelas. Hatiku teriris. Mulai saat itu, saya menjadi seorang yang sangat ambisius dan sangat mandiri. Di bangku kelas IV dan V, saya selalu mewakili sekolah untuk mengikuti perlombaan khususnya soal publik speaking (berpidato dan berpuisi) dan mengarang.  Masa SMP adalah masa tersulit dalam hidup. Sekolah sambil bekerja sebagai pemberi makanan babi di biara susteran ditambah dengan waktu liburan yang hanya sekali dalam setahun membuat saya semakin mengerti tentang kesederhanaan, kesetiaan, kemandirian dan hidup hemat. Hingga saat ini, kepada semua keponakan, mama bercerita tentang saya jika bicara mengenai beberapa hal di atas. Itulah mama. Sekali ia percaya, susah untuk dilupakan. Daya ingatnya sangat hebat. Dia mengenal baik, tentang kami dan segala macam pengalaman pribadi kami dengannya. Dia tidak mudah ditipu tetapi selalu memaafkan orang yang menipunya. 

Cerita ini tidak bisa mewakili semua hal tentang mama. Bagai matahari yang hanya tahu memberi, itulah mama untuk kami anak-anaknya. Lima bersaudara kami hadir bersama dan seorang diantara kami pergi mendahului kami ke Surga. Kepada kami, beliau menghadiahkan dua orang anak (putra dan putri). Mama baik-baik saja. Itu yang ingin saya dengar dan rasakan. Mama baik-baik saja. Tahu kenapa? Karena saat ini, saya baik-baik saja. Terima kasih mama.


Share:

Cakrawala NTT datang, Meniupkan Awan dan Menurunkan Hujan


            Labuan bajo berubah mendung. Rintik hujan datang begitu saja. Panas yang terus menikam beberapa bulan terakhir di Kota Komodo ini terhapus sudah. Para sopir taksi/bemo tersenyum  melihat banyaknya penumpang yang datang berganti. Beberapa tukang ojek berjuang merebut rezeki, tetapi sepertinya sia-sia saja. Kabut tebal kehitaman itu kini datang dalam badai hujan yang besar. Begitulah bahasa alam. Kadang sulit ditebak dalam kata musim.
Tim formator Media Pendidikan Cakrawala NTT datang, seakan membawa angin dan meniupkan awan kehitaman dari cakrawala NTT menuju Kota Komodo. Kesejukanpun terjadi. Memberi warna dan aroma ilmiah di beberapa sekolah yang menjadi binaannya.  
“Selamat datang di Labuan Bajo-Manggarai Barat kepada Pemimpin Umum Media Pendidikan Cakrawala NTT bersama para tim formator Cakrawala. Saya selaku kepala dinas PPO Manggarai Barat merasa bangga dan terhormat bisa hadir dan membuka kegiatan bermartabat ini. Pemerintah khususnya Dinas PPO Manggarai Barat selalu membuka hati bagi semua pihak yang mau memnyumbangkan potensi dan talentanya demi meningkatkan mutu pendidikan di daerah ini. Kamipun berharap, kegiatan ini dilanjutkan bukan hanya untuk beberapa sekolah dalam Kota Labuan Bajo tetapi juga untuk sekolah-sekolah lain di beberapa kecamatan dalam wilayah Manggarai Barat ini”, tandas Drs. Marten Magol, selaku Kepala Dinas PPO Manggarai Barat saat membuka kegiatan pelatihan jurnalistik dan karya ilmiah di SMPN 2 Komodo.
Tepukan tangan semakin membahana saat Pemimpin Umum Media Pendidikan Cakrawala NTT, Gusty Rikarno, S.Fil berdiri dan memberikan sambutan. Menurut Gusty, proses dari sebuah pendidikan harus selalu bemuara pada sebuah peningkatan Sumber daya Manusia (SDM) dan profesionalitas.  Karenanya input, proses dan output dari sebuah lembaga pendidikan harus dibuat dalam sebuah perencanaan yang matang, berkelanjutan dan profesional.  Media Pendidikan Cakrawala NTT hadir untuk mendukung proses pendidikan itu. Para guru harus meningkatkan profesionalismenya dalam hal menulis karya ilmiah dan para siswa dipersiapkan secara baik agar terampil dalam hal menulis.
“Budaya tutur dalam masyarakat kita sangat kuat. Tidak terkecuali dalam lingkungan sekolah. Tidak heran budaya literasi (baca-tulis) semakin pudar dan menjadi asing di kalangan guru dan siswa-siswi. Media Pendidikan Cakrawala NTT dalam rangkaian kerjasama dengan pemerintah ingin mengerakkan kembali budaya literasi tersebut. Mimpi kami besar yakni menyambut generasi emas NTT 2050 dengan membangun budaya literasi. Berharap di tahun 2050 nanti, kita hadir dalam sebuah masyarakat melek literasi. Ingat, dalam waktu 2 hari jangan berharap untuk langsung bisa menulis. Sebagaimana budaya pada umumnya membutuhkan waktu dan berproses demikian halnya budaya literasi. Karena itu, kami selalu sebuat sekolah binaan/dampingan Media Pendidikan Cakrawala NTT. Artinya, pihak Cakrawala ber-MoU dengan pihak sekolah selama tiga tahun. Setiap semester tim Cakrawala selalu datang dan mendampingi para guru dan siswa-siswi menulis”, tegas alumni Ledalero ini.
Delapan hari berada di Kota Komodo ternyata memiliki beragam cerita yang tidak pernah habis untuk dibahas. Para guru dan siswa dari empat sekolah binaan cakrawala yakni SMPN 2 Komodo, SMPN 1 Komodo, SMPN 3 Komodo dan SMPK St. Arnoldus Labuan Bajo, sangat antusias dan berharap banyak dari kegiatan ini. Cakrawala NTT ternyata bukan hanya meniupkan angin dan membawa awan berkabut hitam tetapi juga menurunkan hujan. Hujan harapan, optimisme dan pembuka cakrawala berpikir.
“Saya bersama para guru dan siswa-siswi “disentakkan” oleh terobosan produktif Media Pendidikan Cakrawala NTT. Seakan bangun dari sebuah tidur panjang tentang pentingnya meningkatkan profesionalisme dan ketrampilan dalam hal menulis. Benar yang disampaikan Pak Gusty bahwa menulis itu tidak sebatas pada pengetahuan soal menulis tetapi harus bermuara pada ketrampilan menulis. Artinya, kita berkomunikasi dalam bentuk tulisan dan tulisan itu menjadi konsumsi publik (dipublikasikan). SMPK St. Arnoldus Labuan Bajo menyatakan siap menjadi salah satu dari sekolah binaan Media Pendidikan Cakrawala NTT”, tegas Pater Cletus Nenda, selaku kepala sekolah SMPK St. Arnoldus Labuan Bajo.
Hal yang sama disampaikan kepala sekolah SMPN 2 Komodo, Ferdinandus Jelahun, S.Pd. Menurut Ferdi, kegiatan ini bukan hanya berdampak sekarang tetapi juga puluhan tahun ke depan. SMPN 2 Komodo siap menjadi salah satu sekolah binaan Media Pendidikan Cakrawala NTT karena konsep media ini sangat cerdas, realistis dan luar biasa. Bayangkan, dampak langsung dari kegiatan ini yakni kami para guru PNS bisa naik pangkat. Sementara untuk siswa-siswi dipersiapkan sejak dini agar trampil menulis. Lebih lanjut, kepala SMPN 1 Komodo, Donatus Jahan, S.Pd memberi apreasiasi tulus kepada Media Pendidikan Cakrawala NTT. Menurutnya, kegiatan semacam inilah yang mereka selalu harapkan. Kegiatan yang memberi dampak langsung kepada para guru dan siswa-siswi. Selaku kepala sekolah dan mewakili staf guru serta komite, ia menyatakan siap menjadi sekolah binaan Media Pendidikan Cakrawala NTT.
Sementara itu, Drs. Mateus Jemalu selaku kepala sekolah SMPN 3 Komodo sekaligus formator Media Pendidikan Cakrawala NTT wilayah Manggarai Barat, terus memotivasi para guru agar giat membaca dan menulis. Mateus bisa dijadikan saksi hidup tentang betapa besar peranan media ini untuk meningkatkan profesionalisme guru.
“Saya naik pangkat dari golongan VI/A ke golongan VI/B, salah satunya karena menulis di Media Pendidikan Cakrawala NTT. Karena itu sejak tahun lalu SMPN 3 Komodo sudah menjadi sekolah binaan Media Pendidikan Cakrawala NTT. Sebagai formator dari media ini di wilayah Manggarai Barat, saya juga siap mengoreksi tulisan bapa/ibu guru supaya bisa diteruskan ke redaksi. Harapan saya, bukan hanya saya yang naik ke golongan VI/B tetapi juga sekian banyak guru di Kabupaten Manggarai Barat”, tandas Mateus.  
Labuan Bajo masih mendung dan ber-hujan saat Pimpinan Umum Media Pendidikan Cakrawala NTT, take off dari bandara Komodo. Dunia pendidikan Manggarai Barat terinspirasi. Membawa cerita tentang cakrawala yang selalu datang meniup angin membawa awan dan hujan. Memberi harapan, rasa optimis dan pembuka cakrawala berpikir. Cakrawala NTT, teruslah terbang dan semakin tinggi. Go Fly, Go High.


Share:

Dari Meja, Samping Dapur


Tidak perlu menunggu punya jabatan baru melakukan sebuah perubahan. Buatlah gerakan-gerakan kecil tetapi dengan cinta yang besar. Ketahuilah, Tuhan yang kita sembah itu kaya. Dahulukanlah kepentingan dan kebaikan bersama dan kamu akan terlebur di dalamnya. Akh...tidak perlu menjadi seorang Yeremia yang melihat tanah Kanaan dari jauh. Kebenaran itu akan terkristal saat kamu mengambil bagian di dalamnya. Mengapa kamu resah saat selesai diwisuda belum mendapat kerja? Mengapa kamu ragu diusia 28 belum mendapatkan jodoh? Mengapa harus malu berada di kampung dan menanam satu-dua pohon mahoni dan kopi?
Bangkit. Kamu adalah carikan kertas berharga. Dunia menunggu gerakanmu. Tidak perlu malu berdiskusi, berbagi cerita dan saling memberi inspirasi. Tersenyumlah. Untuk apa harus murung jika di dompet hanya punya 50 ribu. Menarilah untuk tuan pesta. Minum dan makanlah. Setelah pulang ke rumah, kamu akan tersenyum sendiri saat membayangkan bagaimana tuan pesta terpingkal-pingkal bahagia melihat gerakmu.
Jika kamu ke supermarket atau mall, tersenyum untuk para pelayan di sana. Mereka tidak butuh, apakah kamu membeli atau tidak. Toh...mereka bukan pemiliknya. Tersenyum saja, itu sudah cukup membuat mereka dihargai. Jika kamu berkendaraan, tidak perlu harus cepat-cepat. Santai saja. Ingat, saat itu orang akan menilai kamu sebagai seorang yang memiliki rencana atas hidup. Jika ada yang menawarkan sapu lidi, terima saja dan katakan siapa yang membuatnya. Belilah satu-dua buah sebagai bentuk penghargaanmu atas karyanya. Berbuat baik itu, punya pahalanya lho.
Jika ada keluargamu dari kampung meminta bantuanmu, katakan padanya apa yang dia butuh dan totalnya berapa. Setelah itu, kembali ke rumah dan berdoa semoga dia dikuatkan dan ada orang yang membantunya. Kamu kan tidak bisa memberi dari apa yang tidak kamu miliki. Dunia ini memang butuh uang tetapi ingat, uang hanyalah sarana bukan tujuan. Lalu, apa yang menjadi tujuanmu? Kebahagiaan sesama dan kemuliaaan Tuhan adalah jawabannya.
Kalau kamu suka menjelekkan nama orang, apa gunanya untuk kamu. Apakah kamu akan dapat untung seperti para pembawa acara gosip di TV? Kamu akan tetap begitu dan makin hari kamu akan makin sendiri dan mungkin pingsan sendiri. Pujilah orang dengan tulus dan katakan padanya kamu hebat. Kamu akan disegarkan oleh matanya yang binar dan senyumnya yang merekah.
Aku mencintai kalian semua.
Share:

Tuesday, 7 December 2010

MUSAFIR

Penghuni perkampungan Ribang sudah terlelap setelah seharian berpacu dalam waktu dengan rutinitasnya masing-masing sesuai dengan kedudukan dan pangkat yang diemban. Kuturunkan laju sepeda motorku di persipangan jalan tepatnya di kaki tugu yang bertuliskan “Rumah pertapaan Karmel Nilo-----4km”. Kuperhatikan tulisan itu dengan saksama. Huruf pahatannya masih utuh semenjak keberangkatanku empat tahun yang lalu. Begitu rapi dan halus. Perpaduan warna cat yang serasi dan harmonis menambah indahnya tugu yang berdiri kokoh dekat tikungan halus tiga puluh derajat itu. Dari tempat ini kutatap bangunan kokoh dan megah berjejer rapi dan teratur seperti kota Sparta dan Athena pada zaman Romawi kuno. Indah dan tenang penuh kedamaian sehingga mampu membawa angan dan khayalku pada cerita masa lalu disaat aku masih berpredikat Frater. Kala itu, di dalam sebuah gedung teater yang berada di antara gedung yang kokoh nan megah lainnya, untuk pertama kalinya aku bertemu dan berkenalan dengan seorang dara manis yang berparas indah, bermata bening dengan rambutnya yang terurai panjang kehitaman. Dalam dirinya mengalir darah Manggarai-Lembata. Begitu cantik bagai bidadari yang turun dari kayangan apalagi ketika ia mengenakan kacamata bening berminus satu setengah dan bertengger di atas hidungnya yang mancung. Ia kusapa Elcy. Nama lengkapnya Anastasia Elcy Permatasa Sari. Saat itu berstatus mahasiswi semester tiga Sekolah Tinggi Filsafat di bukit sandaran matahari.
Awal perjumpaan kami terbilang singkat dan kebetulan saja. Aku dan dia memiliki minat yang sama dalam seni panggung. Kami bergabung dalam anggota teater Aletheia, sebuah kelompok teater papan atas di kota ini. Ia tak banyak berbicara. Namun dari dalam diamnya itu, dia selalu mengalirkan ide yang segar dan sangat kreatif sehingga mampu menghasilkan naskah-naskah yang menarik, padat berisi dan penuh makna. Walau demikian ia tetap rendah hati, sopan dan mau mendengarkan. ”Selamat sore insan-insan pencinta Aletheia (kebenaran) yang saya banggakan. Terdahulunya saya mengucapkan selamat bergabung buat anggota baru, Ade Elcy dan teman-teman. Yang kedua saya menyampaikan bahwa kita sementara dikejar waktu dalam latihan tetater ini.. Waktu kita hanya sepuluh hari. Oleh sebab itu keseriusan dan kosentrasi kita sangat dibutuhkan baik sebagi pemeran, pengatur musik, petugas layar dan penata lampu sangat dibutuhkan” ujar kak Endro sang moderator teater dengan tenang dan penuh wibawa. Sebagai pemeran utama, aku menjadi fokus yang sangat menentukan. Sekujur tubuhku basah oleh keringat bagai berada dekat perapian yang panas membara. “Kamu kelihatnnya gugup sekali. Apa kamu belum menghafal semua dialog dalam teks?” tanya Kak Endro spontan ketika aku berdiri kaku dengan pandangan hampa di sudut kanan panggung. “Tidak Kak, aku sementara berusaha menenangkan batinku saja”. jawabku sekenanya. “Baiklah.....saya sendiri bangga dengan kamu. Sebab dari sekian banyak anggota, hanya kamu yang berani mengatakan ya untuk menerima peran yang dinilai sangat sulit ini” kata kak Endro yang mampu membuat rasa percaya diriku pulih kembali.
Teater yang berjudul “Musafir” dengan durasi waktu satu jam dua puluh menit ini mengisahkan tentang “Andry”, anak tunggal seorang politikus yang amat terkenal dan disegani. Ia menolak segala bentuk indoktrinasi dan mengeritisi sepak terjang kebijakan politis ayahnya yang selalu mengorbankan hak kaum kecil yang tidak berdaya demi suatu kepentingan politik yang dangkal penuh kepalsuan. Dalam suatu kesempatan ia bergabung bersama kelompok kelas bawah untuk bersuara bagi mereka yang tidak bersuara, menyerukan penolakkan tambang dan segala bentuk militerisasi yang tidak beralasan apalagi melalui cara-cara yang sangat arogan dan otoriter. Lantas ia dijauhkan dari lingkungan keluarga birokrat bahkan diusir oleh orang tuanya sendiri dari rumah. Dalam kepahitan dan kemelaratan hidup ia ditampung oleh sebuah keluarga petani yang sederhana namun selalu ada canda dan tawa penuh kebahagiaan tanpa terlalu memikirkan apa yang harus dimakan dan dipakai. Mereka tidak membutuhkan barang-barang hiburan seperti TV, tape dan semacamnya sebab jiwa mereka sudah terhibur oleh sikap tegur sapa yang akrab dan penuh persaudaraan. Dalam perguliran waktu yang amat teratur itu, ia jatuh cinta dengan “Dewi”. Seorang gadis desa yang sederhana, santun dan lemah-lembut. Diakhir cerita Dewi, gadis kesayangannya itu, terserang leukimia dan menghembuskan nafas untuk terakhir di pangkuannya sendiri. Padahal mereka sudah merencanakan waktu dan acara pernikahan. Andry sungguh merasa kehilangan dan putus asa yang amat dalam. Dalam situasi desolasi demikian ia akhirnya memutuskan untuk mencari arti hidup dibalik tembok biara pertapaan. Kemudian meninggal sebagai seorang rahib.
Adegan pertama berlalu dan dinilai sempurna. Namun ketika memasuki adegan kedua saat aku (andry) dan Elcy (Dewi) berkenalan dan saling bertatapan, aku merasa seluruh tenagaku lenyap oleh seluruh tatapan mata “Dewi” yang tenang, dalam dan penuh makna. Semua dialog yang sudah kuhafal serentak sirna dari otak kiriku. Genggaman tangan “Dewi” semakin erat yang membuat jantungku berdebar tak menentu. “Kamu dari mana?” kataku setengah berbisik. Elcy tampak bingung sebab kalimat itu tidak tertera dalam teks. Kemudian ia tersenyum dan tertunduk malu. Aku tetap menggenggam tangannya, meremas dan terus memandangnya. “ Dari Manggarai, tapi bapa dan mama bertugas di dinas pendidikan di kota ini” jawabnya sambil berusaha untuk mengangkat kepala dan menatapku. “Stop.......stop..........! adegan mana yang sedang kalian ragakan ini. Sekali lagi saya ingatkan supaya apabila kamu sudah berada di atas panggung, tampilkan dirimu sebagai kamu yang dalam teks. Usahakan untuk tidak terbawa pada diri kamu yang sebenarnya di luar panggung. Tetap fokus dan jangan sekali-kali membias. Okey?” kata Kak Endro dengan cukup serius. Kuraih kembali teks yang tergeletak di sudut panggung dan membaca ulang adegan kedua ini. Namun setiap kali aku berusaha untuk mengingat kembali pada saat yang sama getaran aneh yang mengalir dari telapak tangan “Dewi” menghilangkan semuanya dari benakku. Pengatur musik, penata lampu dan petugas layar kelihatan sudah tidak bersemangat lagi. Beberapa orang lebih memilih bermain game dalam Hpnya ketimbang memberi masukkan. Sementara Kak Endro duduk di bangku paling belakang dari gedung teater itu sambil bertopang dagu dalam keputusasaan. Elcy datang menghampiri dan menatap ke arahku tanpa mengucapkan sepatah katapun. Situasi tampak hening. Tak ada yang berani berbisik, menggesekkan kursi apalagi berbicara. Aku berdiri perlahan, meraih tangan tangan Elcy menuju ketengah panggung.
”Wi....apakah arti sebuah kebersamaan bagimu?” kataku tenang dan mengyakinkan sekaligus babak kedua segera dimulai. “Aku tidak tahu apa yang kamu katakan! tapi aku tahu apa yang tidak kamu katakan” jawab “Dewi” dengan tenang. Aku tersenyum. Kubelai rambutnya dengan mesra dan membiarkan tangannya melingkari pinggangku. “Semenjak pertama kali aku memandangmu, kamu sangat berbeda dengan “Dewi” lain yang merupakan pilihan orang tuaku. Mereka tampak cantik dengan senyuman yang memikat. Namun itu hanya bertahan beberapa waktu saja sebab setelahnya mereka menyodorkan beragam syarat yang sangat sulit kupenuhi. Mereka menjanjikan aku banyak harta, kedudukan dan kehormatan tapi tidak pernah membiarkan aku tampil seperti diriku sekarang ini. Makasih yah! Kamu telah mengajarkan aku arti cinta yang sesungguhnya. Kamu memberikan kebebasan yang besar bagiku agar boleh mencintai kamu dengan caraku sendiri. Aku sangat mencintai kamu Wi.” kataku dengan ekspresi yang sempurna. Semua Pengatur musik, penata lampu dan petugas layar tersentak dari lamunananya setelah pikiran dan perasaan mereka terbawa oleh akting yang kuperankan, kemudian bergegas menuju posisi mereka masing-masing, sementara Kak Endro mengumbarkan senyum kebanggaan. “Kamu salah kak...apalah arti cinta dari seorang gadis desa yang miskin seperti aku. Tidakkah kebahagiaan itu diidentikkan dengan uang? Aku takut kamu hanya mau mempermainkan perasaanku sebagaimana yang dibuat oleh orang kaya pada umumnya”. kata “Dewi” sambil tertunduk. Kuangkat dagunya dengan lembut dan meletakkan jariku pada bibinya yang tipis kemerahan. “Kamu terbawa oleh sebuah sikap generalisasi Wi! Setiap orang itu berbeda dan unik dalam dirinya masing-masing. Aku bukan mereka dan mereka bukan aku.” kataku setengah berbisik sambil mendaratkan sebuah ciuman lembut, penuh kasih yang mendalam di dahinya. Layar perlahan-lahan ditutup, lampu dipadamkan bersamaan dengan tepukan tangan kepuasan dari semua yang hadir. Adegan ketiga dan keempatpun berlanjut tanpa hambatan berarti.
“Kelihatannya kalian serasi sekali! Kalian rupanya memiliki bakat yang sama dalam hal seni panggung” komentar Kande, teman baikku. Ia adalah penyusun naskah dari Teater ini. Ia duduk disamping Elcy sambil menawarkan leluconnya yang khas dan unik sambil menikmati sneck yang telah disiapkan. Namun di tengah suasana rileks dan santai itu aku menemukan sesuatu yang terpancar dari raut wajah dan tatapan mata Elcy. Terasa tawar dan hampa. “Kamu kenapa Cy?” tanyaku dan menyadarkan ia dari lamunannya. “Tidak kenapa kak, aku cuma merasa kelelahan saja. Mungkin karena tadi malam terlambat tidur” jawabnya spontan sambil mengatur posisi duduknya. Aku hanya menatapnya dalam diam. Sesekali ia menatapku sehingga menimbulkan hasrat dalam diriku untuk bertanya lebih lanjut. “Maaf Cy, bukannya aku mau mengetahui urusanmu. Tapi paling tidak hal ini mungkin ada hubungannya dengan keberhasilan kegiatan kita ini. Kenapa harus tidur terlambat? Apa.... karena kamu merasa terbebani dengan banyaknya dialog dalam teks yang mesti kamu hafal? tanyaku sambil terus menatapnya. “Bapaku sedang sakit di rumah. Selama ini, ia batuk-batuk. Dan beberapa hari terakhir ia mengeluh sakit pada bagian kiri dekat ulu hatinya” kata Elcy melemah setelah lama terdiam untuk memilih kata yang cocok baginya. “Apa pernah diantar ke Dokter?” tanyaku lagi setelah ia memasukan naskah teater ke dalam tasnya. “Bapaku seorang yang tegar dan prinsipil. Ia tidak mau dibantu sebelum ia berusaha untuk menyelesaikan persoalan dengan kemampuannya sendiri” jawab Elcy sambil berlangkah dan berpamitan pada yang lain. “Boleh saya mengantarmu?” sahutku, menawarkan diri. Ia tersenyum, memberi sinyal tanda setuju padaku. Akupun memboncengi Elcy dengan sepeda motor Supra-X miliknya. Setiba di rumah, Ibu Mia, mamanya Elcy sedang sibuk memasukkan pakaian dalam tas sambil berbicara dengan seseorang melalui telpon genggamnya. Dari pembicaraan itu, jelas terdengar bahwa Ibu Mia sedang berbicara dengan Dokter Tegu dan meminta ambulans untuk membawa Pak Karman ayahnya Elcy ke rumah sakit yang terletak satu kilometer dari rumah. Elcy terlihat bingung dan tak tahu harus berbuat apa selain menangis. Bersama beberapa orang dari tim medis rumah sakit, aku membantu mengangkat Pak Karman yang sudah tak sadarkan diri ke dalam ambulans. Karena mobil terlalu sesak maka aku dan Elcy mengekori mobil itu dengan sepeda motor menuju rumah sakit. “Frater bisa kembali dan istrahat. Nanti saya ke biara dan menjelaskan semua ini pada Pater pendamping” kata Ibu Mia, setelah hampir sembilan jam kami bertiga duduk disamping tempat Pak Karman berbaring. Dan selama itu juga situasi terasa tegang sehingga tidak mengucapkan sepatah katapun. Hening dalam kegalauan hati yang tak menentu. Yang ada hanya isak tangis Elcy yang makin lama makin melemah. Aku mengangguk setuju, berpamitan dan segera berlalu dari ruangan Vip berukuan enam kali tujuh meter itu. Namun belum sempat aku menghidupkan mesin motor, tiba-tiba aku mendengar tangisan penuh pemberontakan dari Elcy. Tak lama berselang para perawat dan dokter datang untuk membantu dengan memberi nafas buatan kepada Pak Karman dan menguncangkan dadanya. Namun Tuhan berkehendak lain. Pak Karman sudah menghembuskan nafasnya yang terakhir lima menit yang lalu. Ternyata ia menderita kanker jantung. Tanpa sadar air mata mengalir secara spontan dari kelopak mataku. Elcy menumpahkan semua kesedihannya dalam pelukanku. Aku merasakan bagaimana air matanya mengalir deras dan membasahi baju dan dadaku. Sepeninggalan ayahnya, Elcy hanya ditemani mama dan adiknya Roy yang masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak. Pertunjukan teater yang dihadiri banyak undangan dari berbagai kalangan dan beragam status sosial mulai dari pemulung hingga para birokrat papan atas menunai kesan sangat memuaskan. Rupanya latihan yang pernah kami buat sembilan hari yang lalu merupakan latihan pertama dan terakhir kali. Elcy melakonkan perannya dengan baik dan sempurna walaupun rasa duka belum hilang dari hatinya.
Sepeninggalan ayahnya, aku selalu bertandang ke rumah Elcy dengan membawa serta beragam kalimat peneguhan dan hiburan dalam canda dan tawa yang membuat Elcy semakin merasa dikuatkan, diperhatikan dan dicintai. Namun tanpa kusadari kedekatanku dengan Elcy dan keluarganya membuat aku merasa asing dengan komunitas biara, tempat aku menjalin relasi yang hidup dengan sama saudaraku yang berasal dari beragam latar belakag adat istiadat, kebudayaan dan tempat tinggal. Kami disatukan oleh sebuah cita-cita, pandangan dan panggilan hidup yang sama yakni ingin membaktikan seluruh diri hanya untuk Tuhan dan sesama. Ada banyak tugas yang terbengkelai, kegiatan penting yang menuntut keterlibatanku pun kuabaikan sementara itu hubunganku dengan teman-teman dan para pendamping tidak serileks dan seakrab sebelumnya. Aku lebih banyak mengurung diri dalam kamar. Setelah menyusun skripsi dan melalui refleksi yang matang bersama pembimbing rohaniku, maka kuputuskan untuk menanggalkan jubahku dan berada di luar tembok biara untuk sebuah kurun waktu yang tidak ditentukan. Keputusan yang kuanggap paling bijaksana sebab dalam hatiku berkata “Di luar tembok biara sama sekali tidak mengurangi cinta Tuhan padaku”. Awalnya keluargaku, Elcy dan mamanya sulit menerima keputusanku yang dinilai sangat gegabah itu. Namun aku mengetahui apa yang terbaik bagiku sebab akulah yang menjalankannya. Lagi pula aku meminta untuk memurnikan panggilanku bukan karena dan untuk Elcy. Aku memang sangat mencintainya tapi bukankah cinta tak selamanya harus memiliki?
Setelah diwisuda sebagai sarjana Filsafat, aku bekerja pada sebuah LSM terpercaya di Pulau Dewata. Sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat yang memiliki jaringan kerja yang sangat luas di berbagai negara di belahan dunia ini. Dari segi penghasilan, gajiku melebihi gaji orang tua Elcy. Di tempat ini ada banyak pengalaman yang kudengar, kusaksikan dan kualami sendiri yang akhirnya membuat aku sadar bahwa perjuangan untuk mempertahankan panggilan hidup entah sebagai biarawan, kepala keluarga dan lain-lain adalah suatu kenyataan yang mesti dijalankan dan bukan untuk dihindari. Semuanya membutuhkan pengorbanan untuk kemudian dijalani dengan penuh kegembiraan dan dengan penuh rasa syukur. Beberapa bulan setelah aku memutuskan untuk melamar kembali menjadi seorang biarawan setelah berada di luar selama enam tahun, Elcy dipinang oleh seorang pemuda tampan berstatus dokter spesialis kandungan. Dia sangat ramah, santun dan bertanggung jawab. ”Teng....teng.....g.....” tiba-tiba sayup-sayup kudengar lonceng Anjelus dari Kapela biara tempat aku pernah hidup dan bertumbuh sebagai seorang frater berkaul sementara. Kuhapuskan beberapa butiran bening dari kelopak mataku oleh rasa duka yang masih tergores di hatiku. Elcy telah pergi untuk selamanya. Ia meninggal sebulan sebelum acara pernikahannya dalam kejadian tragis ketika pulang liburan dari Manggarai. Ia bersama kedelapan belas penumpang lainnya tertimbun tanah longsor bersama bus yang mereka tumpangi dan mati lemas didalamnya.
Warna merah tembaga menerangi kaki langit di ufuk timur, sementara angin pagi berhembus diantara dahan-dahan membawa galak tawa padang ilalang dan cucuran rahmat dari surga. Beberapa saat kemudian sayap-sayap mentari pagi mengembang pasti kemudian menemukan persinggahan klasik di pelipit bukit. Bukit sandaran matahari. Di sini dan di tempat ini aku pernah mengukir kisah dan mendaur realita untuk mengais makna dalam ziarah panggilanku. Aku berdiri perlahan penuh optimisme dari tugu itu dan mengarahkan sepeda motorku menuju taman yang masih menyisakan cerita cinta yang tak pernah suram. Apakah aku diterima kembali dan boleh mengenakan jubah putihku? Aku belum tahu!

......................sekian............................
Share:

Saturday, 4 December 2010

MENDAYUNG SAMPAN KEHIDUPAN

Ketika asa itu pergi, kelabu hati siap menanti, bersama mimpiku yang terkoyak lagi. Mungkin benar apa yang pernah didengungkan Heidegger bahwa kelahiranku sebagai manusia di bumi fana ini, hanyalah bentuk keterlemparan dari keabadian. Waktu menyeretku begitu cepat menuju titik zero bersama dengan hatiku yang melayang-layang dan tidak tahu harus berlabuh di mana. Aku belum selesai mengekalkan wajah mama dalam ingatanku setelah kemudian menguap bersama waktu dan perlahan namun pasti wajah nenek hadir sebagai pengganti. Kehadiran mama yang hanya sesaat di sampingku cukup menyadarkan aku bahwa aku hanyalah anak seorang perempuan.
Kutulis kisah ini dari suasana jiwaku yang kian rapuh. Aku selalu berpikir untuk dapat berharap bahwa kehadiran mama dalam perjalanan hidupku ini seperti sebuah matahari, hidup selalu terasa seperti pagi hari. Tapi aku juga sadar bahwa langit adalah sebuah misteri dan kini aku ditinggal sendiri. Sementara bapa, bapa hanyalah sebongkah bayang yang akan sirna bila sepotong cahaya mendadak lewat. Aku lebih senang apabila sepotong cahaya datang perlahan, melewati kegelapan yang mengamang dan dengan rasa cemas yang anggun melihat bayangan hitam bapa pudar dalam penglihatan. Sikap egois bapa adalah awal dari semua ini. Seandainya saja bapa menunjukkan sikap rasa bersalah dan insaf, mungkin mama mau memaafkannya. Akhirnya, semua harus terjadi. Bapa dan mama berpisah dan membiarkan aku sendiri menyusuri lembah kelam kehidupan ini. Sebentar lagi bayangan nenek ikut pudar dari ingatanku karena penyakit tifus telah menyeretnya ke alam maut sebulan yang lalu.
Aku terus mengenang peristiwa ini selama-lamanya. Yah... kenangan masa lalu tentang lenyapnya bayangan bapa dalam sepotong cahaya. Aku tidak pernah berpikir bahwa kenangan itu sebagai titik awal rangkaian hidupku. Aku lebih menganggapnya sebagai titik akhir. Aku bukanlah pemain sepak bola yang dilemparkan ke lapangan dengan seperangkat aturan. Dan aku, aku tidak tahu situasi hidup yang aku jalani pada masa tua nanti. Apakah pikiran-pikiranku dapat membuka serangkaian kegelapan, serangkaian tikungan yang berdiri acak dari banyaknya pengalaman? Aku tidak tahu. Aku hanya berpikir bahwa kenangan yang aku alami adalah semacam kitab suci, di mana aku tidak hanya melakukan apa yang tertera sebab kenangan itu tidak berisi apa-apa kecuali seberkas rasa takjub dan ketakberdayaan. Aku akan membuat serangkaian pengetahuan dari pengalaman yang sudah aku dapati ini dan dari kenangan yang aku hayati sehingga kitab suci itu akan menjadi sempurna. Bukan ketika kenangan itu berawal melainkan ketika aku menghirup udara terakhir kalinya, ketika aku merasa badanku timbul- tenggelam bertahun-tahun.
Kini aku berjalan sendiri seperti berada pada sebuah sampan di tengah arus sungai zaman yang sangat deras. Sampanku mendadak membelok tanpa aku duga, sehingga posisi badan sampan tidak lagi lurus ke depan sebagaimana yang aku harap sebelumnya melainkan ke samping, berhadapan dengan tebing sungai yang hanya menyerupai segerombol gelap. Aku divonis mengidap AIDS warisan orangtuaku. Namun aku tetap memegang badan sampan erat-erat sambil terus memandang ke depan, yang dalam tangkapan mataku hanyalah sebentuk gelap yang bergerak-gerak, tanpa suara. Gendang telingaku berisi lengkingan, nyanyian ratapan dan penyesalan. Aku tetap berpegang erat dan merasakan sampan hidupku naik turun dari ketinggian yang tertinggi hingga kerendahan yang terendah dan aku selalu berusaha percaya bahwa setiap hentakkan adalah nyata. Yah keadaanku sekarang ini. Aku yakin sungguh bahwa apabila sampan ini terus mengelogak, niscaya aku akan terlempar ke dalam sungai yang kelam ini. Aku tidak tahu, apakah yang terjadi selanjutnya. Mungkin saja aku terdampar di suatu tempat yang belum terjamah oleh manusia atau mengapung tak bernyawa di telaga yang maha luas. Aku tidak bisa berbuat apa-apa karena aku bukanlah pembuat sampan ini. Aku hanya menjalankan sampan kehidupan ini.
Share:

UNTUKMU SHERLY

PAHATAN CINTA DI PUNCAK KEAJAIBAN


Gerimis kecil belum sepenuhnya mereda, saat aku dan Serly memahat janji pada dinding tugu di puncak Kelimutu ini. Kami sepakat untuk menjadikan telaga berwarna biru yang ada di hadapan kami sebagai saksi. Yah...kalaupun suatu saat, danau itu berubah warna ataupun mengering, namun kami sangat yakin kalau cinta yang kami pahatkan itu tetap utuh dan sempurna dalam keabadian.
Namun... kini langkahku terasa berat menuju tugu itu lagi. Air mata sudah membendung di pelupuk mata tapi rasanya malu untuk kutumpahkan di tempat keramat ini. Apa kata air mataku nanti, yang menetes dan jatuh? Mereka pasti akan menertawaiku. Ah...tidak. Aku tak ingin telaga berwarna biru itu tahu, kalau aku sedang menangis. Awalnya aku berpikir, bahwa sampai kapanpun, aku tak ingin orang lain merasakan kepedihan hatiku, sebab mereka tak akan tahu apa yang sebenarnya aku rasakan. Bagiku, lebih baik menangis dalam hati saja. Biar aku sendiri yang merasakan kepedihan hati yang mungkin sudah menjadi tulisan takdirku.
Rupanya aku sedang bermain dengan perasaanku sendiri. Apakah sekarang aku harus percaya bahwa dibalik tangisan ada senyuman kebahagiaan? Apakah aku harus menangis sebelum ditangisi orang lain? Tidak! Ketika aku masih kecil, bapaku pernah bilang, haram bagi seorang laki-laki untuk menangis. Menangis adalah ungkapan dari jiwa yang lemah.

Ingin rasanya aku menjerit dan terus menjerit.
Namun itu tidak ada gunanya karena di puncak keajaiban ini hanya kesunyianlah yang mau mendengarkan jeritan hatiku. Bayangan wajah Serly selalu hadir saat aku sedang memejamkan mata. Hati kecilku selalu bertanya, apakah Serly tidak merasakan kekuatan sebuah kata yang pernah kami pahatkan di tempat ini? Ataukah ia sengaja meragukan makna sebuah kata janji sehingga keberadaanku di hatinya seperti sebuah kabut putih yang hanya menyinggahi kawah itu kemudian dalam sekejap lenyap tertiup angin?
Kini jiwaku tidak sekokoh tugu di puncak keajaiban itu lagi. Di luar kendaliku, aku menitikkan air mata ketika melantunkan perasaanku. Bukan sekali saja, melainkan sudah berkali–kali dan akhirnya akupun menangis sejadi-jadinya, memikirkan kenangan indah bersama Serly. Aku tidak tahu sampai kapan kesendirianku ini berakhir. Telaga berwarna itu meriak, menghembuskan aroma belerang yang seakan meyakinkan aku bahwa pencarianku sudah selesai. Di kaki tugu ini aku hanya bisa bersimpul menatap hati yang runtuh, hancur terbelah dialiri anak sungai dari kelopak mataku. Kidung duka mulai bergema, seiring nada cinta yang terus berlari. Perjalanan cinta yang telah kurajut bersama Serly hanyalah sebuah episode napak tilas tentang rentang waktu yang hilang oleh sikap munafik, egois dan gila harta. Tadinya aku berharap bahwa pahatan janji yang pernah kami kukuhkan bersama di atas puncak keajaiban ini, adalah akhir bahagia. Tetapi ternyata semua itu hanyalah fatamorgana. Aku hanya menemukan sebuah nama dalam kekelaman jiwaku.
* * * * * * * * *

Singkat cerita, aku berkenalan dengan Serly dari sebuah studio penyiaran radio swasta yang mengudara di gelombang 102,9 MHZ. Sebagai penyiar pemula, tentunya aku mesti banyak belajar dari para seniorku, termasuk Sherly. Dia mahluk Tuhan yang selalu menaburkan inspirasi dan alasan bagiku untuk bersujud pada keindahan abadi. Seorang wanita cantik yang kukenal ramah dan rendah hati. Ingin rasanya aku memandang sepasang bola mata bersih nan sayu dari balik lensa bening yang bertengger angkuh di atas hidungnya yang mancung. Aku selalu mencari alasan, untuk ada bersamanya dan memandang dari dekat kedua bola matanya. Yah...bagiku, mata adalah pintu hati.
Terkadang, aku kurang percaya diri saat berdua dengannya, sebab yang duduk di hadapanku bukan hanya seorang wanita cantik dan penyiar kawakan tetapi juga seorang dosen, jurusan psikologi pada salah satu Universitas di kotaku. Aku hanyalah seorang lelaki biasa, dengan sedikit modal keberanian dan tekat untuk merubah garis nasib di dunia wirausaha. Awalnya aku berbisnis rotan di pulau Dewata-Bali, namun beberapa tahun kemudian harga rotan anjlok di pasaran dan menuntut aku untuk beralih profesi. Setelah setahun menganggur, akhirnya aku memberanikan diri untuk terjun di dunia mekanik dan bekerja di perbengkelan sepeda motor. Dengan dukungan dan uluran kasih dari teman-teman dan kenalanku, akhirnya untuk memberanikan diri untuk membuka bengkel sepeda motor. Sebuah pekerjaan yang unik bahkan aneh untuk kebanyakan orang dengan melihat latar belakang pendidikanku sebagai jebolan Sarjana filsafat. Bagiku, filsafat itu akan tetap hidup, ketika aku mampu membawanya dalam kehidupan praktis dan berdiri kokoh di tengah arus dunia yang semakin profan dan majemuk.
Waktu terus mengalir, bersama gelora rasa yang semakin bergemuruh dalam hatiku. Aku mencintai Sherly. Di studio penyiaran yang berukuran empat kali tujuh meter, aku mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaanku padanya. Ia tersenyum tanpa memberi sepatah kata pun. “Biarkan waktu yang menjawabnya”. Kataku sekedar membangkitkan rasa percaya diri. Yah..mungkin aku harus puas dengan mengungkapkan perasaanku pada Sherly tanpa harus mendapat jawaban penerimaan atau penolakkan darinya. Satu minggu berlalu hingga handphoneku berdering. Sherly memintaku menemuinya di studio. Ia meraih tanganku dan berkata lembut, “Aku juga mencintai kamu”. Saat itu, aku merasa orang paling bahagia di dunia. Di hari ulangtahunya yang ke dua puluh enam, kami merayakan cinta di puncak kelimutu sambil memahat janji pada matahari untuk sehidup dan semati.
Bahtera cinta yang kami rangkai bersama, telah melewati seribu satu kenangan dalam kurun waktu hampir dua puluh lima bulan. Suatu hari, Sherly memberitahuku bahwa ia dipercayakan oleh kampusnya untuk mengikuti pelatihan di Surabaya, selama sepekan. Dan...semenjak itu, aku tidak bisa menghubungi Sherly lagi. Nomor simpati kepunyaannya selalu sibuk atau berada di luar jangkauan. Namun tidak sedikitpun rasa curuiga dalam hatiku. Aku percaya pada janji yang telah kami pahatkan bersama. Sekembali dari Kupang, Sherly tiba-tiba berubah. Ia sangat sensitif saat aku menanyakan handphonnya selalu tidak aktif selama berada di Surabaya. “Kenapa, kamu tidak mempercayai aku. Belum apa-apa kaku sudah mulai mengatur dan menganggap aku seperti anak kecil. Aku benci kamu”. Katanya dengan nada marah, sambil berlalu. Dua hari kemudian, dia memutuskan hubungan kami secara sepihak.

“Oh....Kelimutu, puncak keajaiban, ke cakrawala manakah engkau membawa sebelah hatiku? Mengapa engkau membiarkan hatiku yang tersisa melanjutkan hidup yang tak pernah berhenti? Apakah aku harus menulis kembali lembaran baru dengan tinta darah pada sebuah harapan untuk menemukan Serly dalam keindahan telaga berwarna ini?

Awal Agustus lalu, secara kebetulan, aku bertemu Serly di rumah sakit umum. Ketika pertama kali melihatku, Serly tampak keget dan sedikit gugup. Aku menyapanya ramah walau sangat terpukul saat melihatnya sudah berbadan dua. Ia menangis tersedu-sedu dan aku tidak tahu apakah itu adalah ungkapan penyesalan atau ketakberdayaan. Beberapa minggu lalu, Serly pergi untuk selamanya. Ia menghembuskan nafasnya yang terakhir saat berusaha melahirkan bayinya, tanpa ditemani oleh seorang laki-laki yang bisa disapa suami atau ayah bagi bayinya. Ternyata perjalanan Sherly ke Kupang bukan untuk pelatihan tetapi mengejar cintanya dengan seorang laki-laki tampan yang berprofesi pengusaha mangan yang sukses. Sekarang aku sadar kalau hidup ini seperti sajak, sebaris demi sebaris, sebait demi sebait hingga aku menemukan akhir yang tak terduga. Hidup ini adalah sebuah metafor, penuh misteri. Sebuah teka-teki yang tersembunyi dalam hati setiap insan.
Share:

BUAT SAHABATKU ANJELO


                 

Anjelo Sahabatku...
Kuingin engkau duduk bersamaku malam ini, mengahadap DIA dengan pena, kertas dan sederet nilai hidup. Dalam pusaran arus dilema zaman, lampu di depan auditorium II berpendar menerangi langkah seekor jangkrik yang sedang merangkak. Pada sudut kamar mandi yang retak, engkau pernah melukis seekor burung yang bertenger di atas dahan yang kering. Sunyi dan sepi. Jauh sudah jalan yang kutempuh ini, terbentur antara angan dan kenyataan. Harapanku seakan luruh sebab DIA yang telah memanggilku menjadi sosok yang terlalu banyak untuk kupilih.

Anjelo Sahabatku...
Dua hari yang lalu aku bertemu Feby di halaman Barata Mall. Dia menyalamiku dengan ramah dan semakin cantik dengan kacamata berminus satu setengah bertengger di atas hidungnya yang mancung. Dia kelihatanya segar dan bersemangat. Rambutnya yang terurai panjang kehitaman yang pernah memikat hatimu masih terawat baik. Dia memintaku untuk menemaninya berbelanja sambil menceritakan kisah terindah yang pernah kalian rajut bersama. Jam tangan sebagai hadiah ulang tahun darimu, masih meliliti pengelangan tangan kanannya yang putih bersih. Oh....yah? katanya, kalian pernah berencana untuk menghabiskan waktu liburan Paskah  tahun ini di Labuah Bajo. Dia ingin pergi berdua denganmu ke Pulau Komodo, menikmati pemandangan saat matahari terbenam di Pulau Rinca, dan merasakan lembutnya pasir putih Pulau Bidadari. Dia ingin rencana itu dapat terwujud An! Dia sangat merindukanmu. Namun...saat ia menanyakan keadaanmu padaku, napasku terasa sesak dan tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk menjelaskan semua peristiwa yang telah menimpa dirimu. Ia meneteskan air mata, setelah aku lama berdiri mematung tanpa sepatah kata menjawab pertanyaannya. Ia segera pergi dalam kekecewaan dan rasa penasaran yang mendalam. Aku tidak tahu, sampai kapan aku harus menjaga rahasia ini dan sampai kapan Feby berada dalam perasaan kecewa dan sakit hati padamu.

Anjelo sahabatku...
Tujuh bulan yang lalu engkau memutuskan untuk menanggalkan jubah kebiaraanmu sekadar untuk menambah separuh usia Feby yang menderita kangker jantung. Engkau pernah bilang padaku bahwa di luar tembok biara  cinta Tuhan tidak pernah berkurang padamu. Katamu, engkau menarik diri bukan karena Feby tapi demi panggilan cinta yang bergetar di hatimu. Kamu bilang cinta itu adalah segalanya tetapi mengapa di saat Feby hendak keluar dari penyakit yang membelenggunya engkau malah pergi dan melarangku untuk memberitahu semuanya itu pada Feby. Kenapa An? Apakah engkau takut kehilangan Feby?
Ibu Anita, mamanya Feby menelponku tadi malam bahwa penyakit Feby kambuh lagi sehingga terpaksa diantar ke rumah sakit kemarin sore. Mereka sangat mengharapkan kehadiranmu karena engkau adalah seorang di antara ribuan pemuda yang ada di hati Feby, putri tunggal mereka. Akupun terlanjur berjanji untuk mengantar kamu besok sore ke rumah sakit walau aku tak tahu apa yang harus kubuat.

 Anjelo sahabatlku...
                                    Kemarin pagi sewaktu ibadat, aku mengenakan jubah yang pernah kamu gunakan dulu, ketika kamu masih berpredikat  Frater. Memang sudah agak sesak sih! Beberapa teman memintaku untuk segera membuat proposal agar bisa mendapatkan yang baru. Itu tidak akan kuturuti sebab bagiku jubah itulah yang selalu mengingatkan aku bahwa kamu selalu ada di sampingku. Aku merindukan kamu sebagai sahabat yang sungguh mengenal hidup dan kehidupanku semenjak kita masuk seminari kecil dulu. Kita berdua memiliki bakat yang sama dalam tulis-menulis, theater, musik dan sebagi pemain bola kaki. Awalnya aku memberontak ketika engkau memutuskan untuk menarik diri dari panggilan hidup ini enam bulan silam. Namun kemudian aku sadar bahwa kita hanya dapat disatukan tetapi bukan untuk disamakan. Aku menerima dan menghargai keputusanmu sebagai seorang pribadi yang memiliki kebebasan untuk memilih sebab apalah artinya sebuah kebersamaan tanpa memilki orientasi hidup yang jelas.
                                    Sebagai sahabat aku sangat bangga dan kagum denganmu karena  sekalipun kamu telah menjadi Mahasiwa awam namun sikap dan tutur katamu tidak pernah luntur, terseret arus massa di luar tembok biara. Engkau masih seperti dulu bahkan mampu mengumpulkan kaum muda untuk dapat mengembangkan diri sebagai pribadi yang dapat membangun gereja dan negara. Engkau telah berkontemplasi dalam aksi Sobat!

Anjelo Sahabatku...
                                    Di hari ulang tahunku yang ke sembilan belas engkau pernah bersyair,
“Cinta Tuhan itu bagaikan pohon.
 Bertumbuh dalam kecemerlangan cinta, bertunas dalam cahaya keindahan, berbunga dalam kemilauan kasih dan berbuah dalam nyanyian nurani murni”.
                                    Kamu benar An! Tuhan adalah sumber cinta sejati. Cinta itulah yang pernah menyentuh hati kecil kita untuk masuk Seminari kecil sepuluh tahun silam. Cinta itu pula yang menggerakkan hati kita menaruh janji di depan altar sebagai Frater yang sedang mengikrarkan kaul sementara. Cinta itu pula yang mempertemukan kamu  dengan Feby sehingga menanamkan rasa bangga dihatinya karena merasa  dicintai dan diperhatikan.  Engkau telah menumbuhkan rasa optimisme kepadanya saat ia merintih kesakitan karena penyakit yang dideritanya. Namun...apakah cinta yang sama yang menggetarkan hatimu untuk menanggalkan jubah dan membuat aku beserta teman-teman yang lain merasa kehilangan? Apakah cinta yang sama yang membuat kamu harus pergi di saat semua orang membutuhkan kehadiramu terutama Feby yang belum sembuh total dari penyakitnya?
                                    Andai aku diberi kesempatan untuk memilih, maka aku memilih untuk pergi bersamamu. Aku tak sanggup menerima semua ini. Engkau adalah sayap kananku dan dengan kepergianmu membuat aku hanya bisa merangkak dalam ketakberdayaan. Tanggal satu Desember silam engkau  digigit anjing rabies dan pada tanggal dua belas Desember engkau menghembuskan nafas terakhir. Tak ada rintihan kesakitan yang keluar dari mulutmu saat aku berkunjung di kosmu kecuali melarangku untuk tidak memberitahu kepada Feby. ”Aku tidak mau Feby kepikiran” katamu saat itu. Begitu singkat dan menyakitkan. Setiap kali aku ke kos, bekas kontrakkanmu, aku merasa engkau masih ada. Namun ketika melihat orgel kesayanganmu tak berbunyi lagi, baru saat itu aku menyadari bahwa engaku telah pergi untuk selamanya. Syair yang pernah kau persembahkan untukku waktu itu terasa hampa dan tak bermakna.
“Kalau aku bernyanyi, nyanyianku adalah angin. Kalau aku menangis aku menangis di malam sepi. Nyanyian angin senandung rindu, digetar sepi ilalang merantau. Ratapan iman rintihan sakti, di lengking lumat Gereja terpencil. Kalau aku bermadah, aku bermadah di sayap angkasa.
 Kalau aku semadi, semadiku meranting langit. Madah angkasa, madah kembara.
Sahabat...jauh sudah kembara ini, terseret harapan terus merantai.

Anjelo sahabatku...
                                    Besok adalah tanggal sepuluh Maret, hari ulang tahunmu yang kedua puluh satu. Besok adalah hari yang kujanjikan kepada ibu Anita untuk membawamu ke hadapan Feby. Adakah engkau di sana mengerti perasaanku? Kutahu aku tak sanggup melakukan sesuatu sebesar yang pernah kau lakukan pada Feby karena aku tidak mungkin memberi dari sesuatu yang tidak ada padaku. Yah...kalaupun aku bisa melakukanya  tentu tidak akan kubuat seperti apa yang pernah kau tunjukkan.
                                    Besok siang, setelah menyalakan lilin ulang tahunmu di kamar, aku akan pergi ke rumah sakit. Aku akan memberitahu Feby dengan caraku sendiri bahwa engkau telah pergi untuk selamannya. Aku akan mengatakan satu hal padanya, aku sudah lama membenamkan rasa di hatiku yakni aku juga mencintainya jauh sebelum kamu. Yah, satu hal yang kupegang bahwa cinta tak selamanya harus memiliki. Aku akan menempatkan Feby pada ruang kosong hatiku semnenjak kepergianmu. Feby akan kujadikan sahabat yang mampu menyanyikan lagu padaku walau aku lupa kata-katanya. Biarkan aku terbang melintasi angkasa untuk mengubah lukisanmu di tembok kamar mandi yang retak itu. Selamat ulang tahun sahabatku. Doaku mengiringi langkahmu menuju  DIA yang adalah sumber cinta abadi.

Salam dan doaku
Sahabatmu
Ledalero, akhir Februari 2008
Share: