Showing posts with label CERPEN. Show all posts
Showing posts with label CERPEN. Show all posts

Friday, 22 July 2016

GERHANA DI MATAMU

Mobil traver Timor Oeste meluncur perlahan membelah bentara tanah Timor yang rata dan yang ditaburi bukit-bukit berpadang sabana. Dipinggir jalan selalu disirami wangi cendana yang harum semrbak. Perlahan-lahan matahari turun seakan hendak menciup kaki langit di ufuk barat, semantara remang senja merayap dan kurasa bagaikan tangan ajaib meraba kulitku dan tiba-tiba meremas hatiku. Alunan lagu Tetun-portu berdengung halus dan membuat aku terbuai untuk masuk ke alam mimpi sehingga tidak mengetahui kehadiran seseorang di sampingku. Lama aku tertidur sampai akhirnya aku tersadar ketika mobil mini itu di hadang oleh sebuah tikungan tajam dan membuat kepalaku menyentuh lembut bahu kanannya. Ketika mengangkat mata dan membuka mata, jantungku berdetak kencang oleh beragam perasaan yang menggerogoti hatiku. Untuk kedua kalinya aku menggosok kelopak mataku sampai aku sungguh yakin kalau yang berada di sampingku sungguh seorang anak manusia yang amat cantik dan manis. Dari sekian tempat yang kukunjungi, baru kali ini aku melihat gadis seperti bidadari yang turun dari khayangan. Kecantikannya seakan menjadi sempurna ketika kaca mata mungil berminus satu setengah bertengger di ats hidungnya yang mancung.
Namun ada seseuatu yang terpancar dari balik kaca bening itu, sayu dan hampa seakan menyimpan segudang duka, kecewa dan sakit hati yang amat dalam. Kuakui bahwa diriku seorang yang amat rileks dan dalam waktu sedetikpun aku dapat bergaul dengan seseorang meskipun belum kukenal sebelumnya. Tetapi kali ini aku sungguh tak mampu dan hampir menyerah untuk memperkenalkan diri padanya. Suasana dalam mobil itu sangat hening dan sesekali aku mendengar klaksosn mobil itu menyapa setiap tikungan yang dilewatinya. Aku berusaha untuk kembali memejamkan mata tetapi setiap kali aku mencobanya seketika itu juga muncullah niat untuk memandang matanya itu. Akhirnya dengan keberanian yang tersisa akau berani membuka percakapan dan di dahului dengan gesekan kaki dan batuk-batuk ringan sekadar menarik perhatiannya. “Hai...kamu hendak ke mana?” tanyaku sekenanya. Ia menatapku dengan tajam disertai raut wajah yang serius seperti mengganggu naga yang sedang tertidur pulas. “Apa urusanmu dengan aku? Ke mana aku pergi tidak terlalu penting buatmu. Atau mobil ini milik moyangmu sehingga harus mengetahui tujuanku?”. Demikian suaranya hadir dan membuat aku bingung dan cengar-cengir karena malu. Dengan pengetahuan yang ada aku berusaha tenang.
Keheningan kembali hadir dalam mobil itu, hingga kemudian ia melanjutkan lagi. “Mengapa kamu harus repot denganku? Apa kamu suadah tidak ada kerja lagi? Apa kamu berpikir kebebasan ini hanya milikmu?” Dengan sedikit membuang muka ia terus mengumpatku. “Semua laki-laki memnag sama, Tak berperasaan. Yang ada pada dirinya hamyalah keegoisan, kesombongan, keserakahan dan hatinya dibekukan oleh nafsu yang mengebu-ngebu”. Aku diam dan tenang tapi tetap menunjukkan sikap sebagai pendengar yang baik walau telingaku terasa panas seperti disiram arang api kusambi yang membara. Sekali lagi ia menatapku dan berkata “Mengapa engaku diam? Apaka engaku berpikir bahwa yang berbicra padamu hanyalah seorang perempuan dan boneka yang bisa dipermaikan kapan saja kamu mau?” Aku menarik nafas sejenak dan berusaha berbicara tanpa menamba luka yang ada di hatinya. “Hidup ini terasa singkat untuk memikirkan amarah, kebencian, kecewa dan dendam. Sebuah titik hitam tidak dapat mempengaruhi putihnya sebuah kertas. Dan bila orang membenci titik hitam itu dan berusaha menyangkalinya maka ia menyangkali kemanusiaannya sendiri. Aku hanya mau mengatakan kalau kamu jatuh pada generalisasi. Sejahat-jahatnya seseorang namun ia masih memiliki hati untuk mencinta sebab ia terlahir karena cinta dan setiap pribadi itu selalu unik dan berbeda”. Ia tunduk dan diam seakan tak punya kata-kata lagi sebab naluri perasaan kewanitaannya mengambil alih jalan pikirannya. Tak lama kemudia butiran bening meluncur dari kelopak matanya yang diiringi isak tangis yang membuat om sopir sesekali menoleh ke arah kami.
Aku menatapnya dan berusaha untuk tidak terbawa oleh perasaannya, kemudian melanjutkan lagi. “Setiap orang memiliki ziarah hidup. Memiliki pengalaman masa lalu yang pahit dan menyakitkan yang terbingkai dalam bentuk luka batin yang amat mendalam. Tetapi ketahuilah bahwa di dunia ini tidak ada yang abadi termasuk suka batin itu sendiri. Semua itu akan berlalu asalkan kita membiarkan DIA yang adalah kekal dan Esa yakni Tuhan, untuk menjamah dan menyembuhkan kita dengan sikap penyerahan yang total pada penyelenggaraanNya dan dijadikanNya ziarah hidup kita sebagi Ziarah keselamatan”. Ia tetap tunduk kemudian membersihkan bola matanya dan mengangkat kepala serta mentapku denga tatapan mata yang berbinar-binar penuh ketenagan, kepuasan dan kedamaian. “Maaf yah? kalau aku harus melempiaskan kekecewaan dan sakit hatiku pada kamu. Aku sungguh merasa kepedihan yang amat dalam karena dikecewakan oleh orang yang sudah kurasa dekat dan amat mengerti aku dan kehidupanku. Dia adalah Willy, kekasih yang paling kucintai. Tatapi entah kenapa ia memutuskan hubungan yang terjalin selam lima tahun secara sepihak tanpa meberi alasan yang jelas padaku. Namun kini aku sadar, kalau aku telah membuat hidup ini menjadi sulit dan menyakitkan. Terima kasih yah....karena engaku telah menyadarkan aku”. ujarnya penuh keterbukaan.
Kini untuk prtama kalinya ia mempersembahkan padaku sebuah senyuman indah dan menakjubkan. “Oh yah.....namaku Echik. Mahasisiwi semester VI di Stikes Wirahusada, Yogyakarta. Untuk sementara aku kembali ke rumah oleh bencana yang mengguncang Yogya sebeminggu yang lalu”. Aku menyambut uluran tangannya dengan penuh persahabatan. “Aku Anis, sang pemburu berita”.
Ia kembali tersenyum dan makin akrab denganku sambil mensheringkan pengalaman-pengalaman terindah yang pernah kami alami. Ia semakin tenang dan rileks. Sebuah pojok di jantung kota Karang Kupang seakan menghadang mobil yang berukuran dua kali lima meter itu. Ia berdiri dan meraup tasnya sambil menatapku. Begitu dalam dan penuh arti. Ia menyodorkan sebuah kartu nama dan alamatnya padaku. “Aku bahagia bila selalu berada di sampingmu”. katanya lembut. Kemudian ia turun dan menyelusup masuk ke halaman rumah yang berlantai dua itu. Mobil mini itupun kembali meluncur setelah aku sempat membalas lambaian tangannya.
Share:

Wednesday, 8 December 2010

TUA KUMI

Hari terlihat mendung membentuk awan hitam yang bergumpal angkuh di puncak bukit itu. Bukit sandaran matahari tempat para dewa dan roh-roh orang yang telah meninggal berdiam. Rumah kami berada di pinggir kampung, sekitar seribu meter dari bukit itu. Beberapa butir hujan menjilat darah korban yang disiram di puncak bukit itu tadi pagi. Bapa dan mama masih berada di rumah adat dan menyuruh aku untuk menemani adikku yang hampir menginjak usia dua tahun yang sedikit “aneh” dari anak-anak lainnya. Terkadang dia tersenyum dan tertawa gembira, adakalanya pula ia menangis sedih bila membuka halaman buku yang muncul dan hilang begitu saja dari tangannya. Sekarang buku itu tidak ada di tangannya tapi ia selalu memandang bukit batu itu dan berbicara dengan suara yang tidak jelas. Bulu kudukku sempat merinding ketakutan saat kata-kata nenek terngiang kembali dalam telingaku. “Bukit batu itu sangat angker, tempat beragam roh berdiam termasuk roh dari mereka yang telah meninggal. Tidak boleh pergi ke sana kecuali atas ijinanTua Kumi”.
Tiba-tiba sebuah Pelangi melingkar di atas bukit itu dan secara spontan adikku menangis histeris. “tua mii...Tua mi..i...i.....” teriaknya dengan gementar. Aku memeluknya erat karena tidak tahu harus berbuat apa. Entah kekuatan apa yang merasuki tubuh mungilnya sehingga dengan satu gerakan saja, aku langsung terpendal jauh. Rasa binggungku belum hilang ketika buku itu tiba-tiba nongol di tanganku. Tius memandangku dengan sedih dan tidak lama berselang ia menangis dalam bisu, butiran bening menganak sungai, mengalir di pipinya yang montok. Tu..a...mi...i....i..., Tu..a...mi..i..mata, mata (Tua Kumi, meninggal). Teriaknya. Aku hanya bisa memandangnya dalam diam penuh keheranan. Bukan karena baru pertama kalinya aku mendengar adikku berbicara dengan jelas seperti ini tetapi lebih pada isi pembicarannya. Siapakah Tua Kumi itu?
Bunyi gong dan gendang bergaung dari rumah adat. Kali ini gaungnya sangat berbeda dengan yang kudengar tadi pagi ketika memulai acara adat. Begitu lembut dan mengalun pelan. Bukan ungkapan syukur dan suka-cita tapi tanda kehilangan dan duka-cita. Apakah memang Tua Kumi yang misterius itu sungguh sudah meninggal? Di mana ia meninggal dan apa sebabnya dia meninggal? Sekujur tubuhku gementar dan bermandikan keringat. Adikku terus membuka halaman buku itu satu demi satu. Bibir munggilnya terus bergerak seolah membaca sesuatu sementara air matanya terus mengalir. Aku kasihan melihatnya tetapi aku tidak mempunyai kekuatan sedikitpun untuk mengambil buku itu dari tangannya.
Hari belum terlalu gelap ketika bunyi gong dan gendang semakin bersahutan mengiringi langkah warga kampung menuju pinggir sungai yang dikabarkan tempat mayat Tua Kumi ditemukan. Mama datang dari balik pintu dan langsung mengangkat adikku menuju rumah adat tanpa menghiraukan buku yang jatuh dari tanganya. Ada perintah dari Lopo Gina untuk membawa semua anak kecil ke rumah adat agar tidak menjadi tumbal dari Tua Kumi. Aku memperhatikan buku itu dari jauh dan sempat membaca satu kalimat pada lembaran depan yang hampir terlepas yakni cinta yang terlibat. Ketika aku mendekat untuk mengambilnya sebuah tongkat memukul tanganku dengan keras. Aku mendapati Lopo Gina melototiku dari belakang. “Jangan pernah sentuh buku itu kalau tidak mau senasib dengan Tua Kumi” katanya sambil berlalu. Aku semakin penasaran tentang siapakah Tua Kumi.
Aku cukup mengenal Lopo Gina. Seorang nenek dari kampung sungai sebelah yang dikenal sebagai dukun yang memiliki kemampuan prana yang cukup hebat. Ia bahkan bisa meramal penyakit dan hari kematian seseorang. Tua Kumi pernah pernah diramalnya telah mengidap penyakit jantung yang akut. Menurutnya, adikku bertingkah aneh karena posisi pintu rumah kami langsung berhadapan dengan bukit angker itu. Terkadang aku terpengaruh untuk mempercayainya walaupun banyak ramalannya yang tidak tepat. Ayahku pernah diramalkan mati muda tanpa seorang istri dan anak.
Aku segera berdiri saat melihat lampu obor menyala dari arah sungai. Tua Kumi memang telah meninggal seperti yang disebutkan adikku tadi. Banyak warga kampung yang mengiringi mayatnya kecuali ibu-ibu yang memiliki anak di bawah usia tiga tahun, termasuk mamaku. Menurut adat kami mayat orang yang meninggal secara tiba-tiba tidak diperkenankan dimasukkan dalam rumah tetapi disemayamkan saja di atas tenda di halaman kampung. Aku melihatnya dari dekat. Seorang laki-laki tua yang berkumis dan berjengot. Garis-garis pada wajahnya dapat diperkirakan kalau ia sudah berumur lima puluh tahun lebih.
Di depan mayatnya, orang-orang yang sangat dekatnya meratapi dia oleh rasa kehilangan yang sangat mendalam, termasuk ayahku. Dia adalah satu-satunya orang yang mampu mendaki puncak bukit kramat itu untuk membawa sesajian kepada roh-roh nenek moyang kami. Orang tua berkumis yang kelihatannya memiliki hati kebapaan yang selalu merangkul, pemberi petuah, cinta dan perhatian kepada warga kampung. Sementara warga kampung yang lain termasuk Lopo Gina, hanya memandang mayatnya tanpa merasa apa-apa. Dia (Tua Kumi) dikenal sebagai orang aneh yang pernah mecari kucing kesayangannya yang berbulu hitam pada malam hari dan ia sangat yakin bahwa ia telah menemukannya. Ia juga pernah menyalakan pelita pada jam sebelas siang untuk mencari rahim ibunya, yang dengan blak-blakan menuduh orang-orang dari sungai sebelah telah mencurinya. Tidak sedikit pula yang mengerutu di depan mayat Tua kumi, penuh nada kekecewaan. Mengapa Tua Kumi meninggal begitu tiba-tiba padahal tadi pagi ia masih membawa sesajian di puncak bukit itu? Mengapa ia tidak pernah mempersiapkan orang untuk mengantinya membawa sesajian di atas bukit angker itu? Mengapa Tua Kumi meninggal pada waktu dan tempat yang salah. Mengapa ia harus meninggal di pinggir kali tempat orang mencuci pakaian dan membuang kotoran? Apa kata warga kampung sebelah nanti. Mengapa ia tidak meninggal di puncak bukit batu itu tempat di mana ia selalu mempersembahkan sesajian?
Sepeninggalan Tua Kumi, Lopo Gina, dukun peramal itu tidak berani meninggalkan jejak di kampung kami. Ada yang bersaksi kalau dia sudah gila dan berteriak-teriak di kaki bukit itu saat bulan purnama tiba. Ada pula yang bercerita kalau dia meninggal secara tragis. Mayatnya tidak sempat dikuburkan sehingga beberapa ekor anjing liar mencabik-cabik tubuhnya. Ia memang telah menaburkan benih kebencian dalam hati warga kampung. Kekeringan yang berkepanjangan, hama yang menyerang tanaman dan sakit penyakit yang diderita warga selama ini diduga karena tidak ada orang yang membawa bahan sesajian di puncak bukit itu. Beberapa tahun kemudia baru orang tahu kalau Lopo Gina adalah kaki tangan dari warga kampung sebelah sungai yang datang ke kampung kami sebagai dukun peramal sekaligus mata-mata. Mereka ingin menggali cadas yang berada di rusuk bukit keramat itu. Cadas hitam yang memiliki harga jual yang sangat tinggi. Satu-satunya cara untuk mendapatkanya adalah dengan menghabisi Tua Kumi, penjaga bukit keramat itu.
Kubiarkan buih ombak pelabuhan Sadang Bui menjilati jeans biruku saat bayangan masa lalu itu mengalir dan mengairi perasaanku. Dua belas tahun tahun terakhir ini, aku mengembara hanya mencari arti sebuah kalimat dari buku misterius itu. Cinta yang terlibat. Dalam jalan berliku yang kutapaki sekarang, apakah artinya cinta yang terlibat saat aku tidak mempunyai sedikit kemampuan untuk membawa sesajian di puncak bukit itu, tempat semua roh nenek moyangku berdiam? Beberapa hari yang lalu adikku menerima jubah putih kebiaraannya. Apakah ia masih ingat isi buku itu dan menemukan makna kalimat ini dalam panggilannya? Aku tidak tahu.
Share:

Tuesday, 7 December 2010

WATU TIMBANG RAUNG

“Inilah kesempatan bagiku untuk berdua” Pikirnya. Ia mndekati gadis yang berada tak jauh darinya. Tampak Lusi begitu tenang Seakan telah menduga maksud dari laki-laki tampan berwajah mongoloid yang dicintainya itu. Anton memegang tangan Lusi dan memandang bibir yang sensual, wajahnya yang merah segar dan matanya tang tajam penuh kelembutan dan ketulusan yang dalam. Tiba-tiba debaran dada Anton melonjak-lonjak, seolah-olah jantungnya menjadi terlalu sempit hendak pecah, keringatnya perlahan-lahan mengalir dari sekujur tubuhnya. Tampak Lusi tetap berdiam dan menunggu walau sedikit terganggu oleh denyut jantungnya sendiri. Namun genggaman tangan Anton bukannya semakin erat tetapi malah mengendor dan Lusi merasakan itu.
“Ada apa anton?” tanya Lisi setengah berbisik.
“Aku takut Lus”
“Kenapa kamu takut?”
“Lus....sebenarnya jarak antara kau dan aku sangat lebar dan dalam. Bukan secuil bantara yang dengan mudah kutapaki. Bukan pula sebuah plastik transparan yang mudah kuterobosi. tetapi diantara kita terdapat jurang yang amat lebar dan dalam. Aku sungguh mengenal ketulusan hatimu dan kusadari bahwa aku memang sangat mencintai kamu. Tetapi aku tidak ingin kamu kecewa dan tersakini bila akhirnya cinta yang terbina itu akhirnya pudar oleh kerena banyaknya perbedaan diantara kita. Apalah artinya dari cinta seorang yang miskin dan melarat seperti aku”. sahut Anton sedikit serak. Lusi membisu seakan tak ada kata yang cocok untuk mengukapkan isi hatinya dan akhirnya ambruk dalam pelukan Anton. Ia menangis sejadi-jadinya dan tidak ingin lepas dari pelukan Anton. “Lus....kita ditakdirkan untuk lahir dalam budaya seperti ini, bahwa keturunan Kraeng seperti kamu tak mungkin bersanding dengan keturunan Mendi seperti saya. Masyarakat kita tidak mengenal banyak mengenal arti sebuah cinta. Bagi mereka cinta adalah harta dan harga diri. Kamu tahu itu kan? Lusi tetap membisu kemudian menatap Anton dan membiarkan butiran bening membasahi wajahnya yang putih bersih itu. “Kak... Yang aku tahu bahwa kekuatan cinta mampu mengalahkan semuanya termasuk jurang perbedaan diantara kita. Bukankan manusia itu terlahir oleh cinta, dari cinta dan untuk cinta?. Anton tersenyum bangga digenggamnya tangan Lusi sambil mendaratkan sebuah ciuman pertama yang sangat lembut dibibir Lusi. Ingin rasanya mereka berada lebih lama lagi ditempat lokasi mata air itu namun suara gogong membuat mereka segera berpisah. Luci menuju mata ait dan mencuci pakaian sementara Anton segera menghilang dibalik pepohonan seolah-olah hendak mencari kayu api. Akan menjadi sebuah berita yang heboh dan memalukan apabila mendapati dua orang berlawanan jenis berada bersama apalagi di tempat sunyi seperti ini sebab banyak masyarakat masih berada di kebun dan sekitar jam lima sore sepulang dari kebun baru datang menimba air atau mencuci. Bila kedapatan tak segan-segan mereka dicambuki di halaman kampung bahkan dikucilkn dari pergaulan masyarakat. Apalagi yang didapat itu adalah masyarakat yang berbeda status seperti Anton dan Lusi. Ada banyak perasaan mulai berkecambuk dihati lusi, jangan sampai ada orang yang menyaksikan adegan romantis yang ilegal itu. Tetapi bukanku sekarang baru pukul setengah tiga sore? Tiba-tiba bulu kuduknya merinding, sebab menurut cerita tempat ini sangat angker dan tak seorangpun berani datang pada jam dua belas hingga jam empat sore. Kalau bukan demi cintanya pada Anton dia tidak mungkin datang jam jam dua seperti ini dan mencuci pakaian. Oarang tuanya sangat memanjakan dia sebagai anak putri semata wayang dari keluarga. Belum hilang rasa takutnya tiba-tiba seorang nenek menyapanya dari arah belakang. “Eneng.........cuci ko? Dia langsung menoleh dengan sedikit berteriak karena kaget. Seandainya saja dia tidak kuat pasti langsung ambruk seketika ketika mendengar dan melihat wajah orang yang menyapanya. Lopo Gina. Seorang nenek yang dikenal masyarakat memiliki kekuatan gaib yang membahayakan (Suanggi). Memang dilihat dari wajahnya yang hitam terbakar sinar matahari ditambah dengan giginya yang hampir punah dan rambutnya yang memutih tak terawat dengan tatapan mata yang tajam sepertinya predikat suanggi amat cocok dilekatkan pada dirinya. Lopo Gina sangat mengagumi kecantikkan Lusi yang begitu cantik bagai bidadari yang turun dari kayangan. Memang selama hampir sepuluh tahun terakhir semenjak diusir warga desa karena dituduh memiliki suanggi ia jarang beretemu dengan orang lain kecuali anak laki-laki dan cucunya yang amat dicintainya. Dia sengaja datang menimba air pada jam seperti ini agar tidak bertemu dengan orang sebab ketika mayarakat melihatnya mereka spontan lari seperti dikejar harimau. Pandangan masyarakat terhadap diri terlampau hitam. Tidaklah heran apabila ia terus menatap Lusi yang dikenal waktu kecil ketika adik lusi yang kedua lahir melahirkan. Ada rasa bangga dan kagum dihatinya melihat anak bangsawan mencuci sendiri pakaiannya. Amat jarang dan hampir tidak pernah terjadi seperti itu sebelumnya. Mereka biasanya memiliki banyak pembantu. Jangan untuk mencuci pakaian, menimba air untuk mandi saja pembantu yang kerjakan semuanya. Namun sayang, Lusi sudah ikut dibentuk oleh pandangan umum mengenai lopo Gina. Sekujur tubuhnya dibanjiri oleh keringat oleh suhu badannya drastis naik oleh rasa takut yang amat dalam. “ Lus....Kamu belum selesai cuci ? sahut Anton yang datang dari balik dedaunan. Ingin rasanya Lusi melompat dan ingin memeluk Anton tapi akhirnya ia mampu menahan diri. Anton adalah penyelamatnya. Melihat kehadiran Anton Lopo Gina hanya tersenyum penuh pengertian dan setelah menimba air iapun segera berlalu dari hadapan kedua insan yang sedang dimabuk asmara itu. Anton hendak mengyakinkan Lusi bahwa Lopo Gina adalah nenek yang paling menyayanginya dan hanya dialah kunci rahasia hubungan mereka, lusi berkata lirih dicekam rasa takut yang masih mencekap dalam dirinya
“Seandainya saja kamu tidak segera datang pasti aku langsung mati berdiri di sini”
“ Memangnya kamu takut dengan dia? Yah.....muka memang menakutkan.........”
“ Dan ia memiliki suanggi. Karena dialah Adikku meninggal beberapa tahun yang lalu”
“ Ka....a....mu..........” kata Anton terbata-bata dan telingga tersasa dibakar disambar petir disiang bolong ketika menedengar perkataan Lusi
“ Kenapa kamu kenal dia? tanya lusi ketika menangkap suatu yang aneh dari siakp Anton. Anton mengelengkan kepalanya walau Ingin rasanya segera menjawab “Ya” tetapi ia takut kehilangan Lusi hanya karena sebuah pengakuan. Lopo Gina yang ditakuti Lusi itu adalah nenek yang amat mencintai dan dicintai Anton. Nenek yang selama ini selalu mengajarnya dan menasihatinya untuk selalu hidup jujur, rajin berdoa dan mampu memaafkan orang lain. Sebagai anak tunggal, Anton menjadi anak emas keluarga khususnya dari Lopo Gina. Bahkan diusianya yang hampir dewasa ini Lopo Ginalah yang menjadi tempat curahan hati Anton ketimbang mamanya sendiri khususnya mengenai hubungannya yang khusus dengan Lusi anak bangsawan yang disegani di desanya. Maka ketika Anton mendengarkan apa yang dikatakan Lusi hatinya terasa hancur berkeping-keping. Memang dia pernah mendengar cerita “miring” dari masyarakat tentang nenek yang amat dicintainya ini tetapi itu sepintas lalu dan Anton tidak terlalu memikirkannya. Anton segera berlalu sebelum beberapa orang pembantu menyusul Lisi dan meninggalakan Lusi yang hanya menatapnya penuh keheranan. Meminta Anton untuk menjelaskan sikapnya itu tidak mungkin sebab para pembantu telah tiba dan segera mengantarnya pulang ke rumah. Anton yang selalu ceria dan bahagia seakan tak mengenal kesusahan itu lebih banyak diam, murung dan selalu meyendiri menarik perhatian cukup menarik perhatian keluarga hingga kemudia ayahnya mendekati dan menanyakan prihal sikapnya itu. Awalnya Anton merasa berat untuk menceritakannya tetapi karena selalu dibujuk akhirnya diapun menceritakan semuanya penuh nada kecewa, tidak puas dan sakit hati yang amat dalam. Dia menangis seperti seorang anak kecil yang merindukan belaian manja dan kata hiburan dari orang tuanya. Kemudia ayahnya menjelaskan : “Itulah susahnya menjadi orang kecil. Kita tidak bisa berbuat lebih bayak kecuali hanya bisa menunduk, mengangguk dan diam. Nenek kamu adalah korban keangkuhan dan ketidakadilan dari masyarakat lapisan atas. Dulu nenekmu dikenal sebagai orang yang pandai membantu semua ibu yang hendak melahirkan tanpa mengharapkan imbalan. Satu-satunya orang dari lapisan mendi yang memiliki kemampuan sebesar itu. Hal ini tentu saja membuat orang-orang dari lapisan Kraeng merasa iri hati. Berawal dari sikap ini maka mamanya Lusi tidak mau mengundang nenekmu untuk ikut membantu proses persalinannya dan karena tidak ada yang bisa membantu maka mamanya Lusi dan bayinya ( adik Lusi) meninggal. Ayah Lusi tentu saja merasa terpukul dengan pristiwa ini dan menjadikan nenekmu sebagai “kambing hidup” atas kematian istri dan anaknya. Nenekmu hampir dibunuh tetapi utunglah ada orang yang berhati baik untuk membelanya maka dia hanya diusir dan dikucilkan dari pergaulan masyarakat hingga sekarang”.
Dalam keadaan yang serba menentu itu akhirnya Anton memutuskan untuk pergi merantau sekadar menghilangkan kepenatan dalam pikirannya tanpa sepengetahuan Lusi, Lopo Gina dan orang tuanya. Dia pergi mebawa serta kehancuran di hatinya dan hanya bisa membiarkan roda waktu yang amat teratur itu untuk merangkainya kembali.
Enam tahun bukanlah waktu yang singkat bagi Anton untuk menerima bisa menerima dan memahami kenyataan hidup yang dialaminya itu. Dalam waktu itu juga ia berhasil menemukan arti sebuah hidup sebagai sebuah roda yang senantiasa berputar. Dirnya yang dulu serba kekurangan kini memperoleh pekerjaan yang tetap dngan hasil yang sangat memuaskan. Segala sesuatu yang diinginkannya pasti didapat. Staus Mendi yang pernah melekat pada diri dan keluarganya kini telah menjadi certa masa lalu yang hanya perlu dikenang. Namun ditengah keberlimpahan harta dan kekayaan ada suatu ruang kosong yang terus memaksanya untuk diisi yakni Cinta. Cinta yang tulus dan sempurna dari seorang gadis. Maka disaat itulah bayangan dan kata-kata Lusi kembali melintas dalam benaknya “Kak... Yang aku tahu bahwa kekuatan cinta mampu mengalahkan semuanya termasuk jurang perbedaan diantara kita. Bukankan manusia itu terlahir oleh cinta, dari cinta dan untuk cinta? Hal inilah yang membuatnya ingin kembali ke kampung halamannya dan merajut kembali benang cinta yang pernah putus oleh pristiwa masa lalu. Betapa sedih hatinya ketika nenek yang dikasihinya telah meninggal dan yang ada hanyalah sebuah kuburan yang berukuran tiga kali lima meter. Lebih dari itu Anton seakan tak percaya bahwa akan apa yang dialami keluarga Lusi yang dulu memiliki harta yang berlimpah dengan pembantu yang banyak , kini hanya menempati sebuah bangunan tua yang reot di pinggir desa. Ayah lusi sang bangsawan itu kini diliti beban utang yang kian hari kian besar oleh sistim ijon yang tidak manusiawi dari beberapa pemilik modal di desanya. Dan bagaimanakah dengan Lusi? Lusi........yah Lusi hanya menjadi sebuah nama masa lalu yang mampu menebarkan jantung dari setiap pemuda yang memandangnya. Kini dia tidaklah lebih dari seorang gadis yang menjadi tumbal keangkuhan keluarganya. Badanya kurus bagai mayat hidup yang hanya menanti saat untuk dieksekusi mati. Dia berusaha tersenyum memandang Anton yang terus meneteskan air mata memandang keadaannya. Cintanya yang layu bersama impiannya yang hancur untuk hidup bersama dengan Lusi. Tiga hari hari lagi Lusi akan dieksekusi mati secara adat sebagai pelunas hutang keluarganya, Lusi berpesan “Kak....aku sangat bahagia memandangmu disaat-saat menjelang kepergianku. Aku hanya mau mengatakan kepada kamu bahwa kekuatan dapat mengalahkan perbedaan manusia. Sebab kita memang terlahir dari sumber cinta yakni Tuhan sendiri. Ada karena cinta dengan kehadiran sesama disekitar kita dan untuk cinta melalui sikap pengorbanan. Aku ingin ingin kakak menjadi saksi dari semua pernyataanku ini dan sekalipun kita tak dapat hidup bersama tetapi aku sungguh menyadari bahwa didunia ini tidak ada yang abadi kecuali sebuah cinta yang tulus tanpa dibatsi oleh apa dan siapapun. Aku sungguh mencintai kamu”. Anton memeluknya dengan penuh kasih dan tidak menghiraukan orang-orang disekitarnya “saya akan melunasi semua hutang keluarga kamu dan mebawa memperkarakan orang-orang yang telah menjerat keluargamu dengan ijon yang cukup tinggi” sahut Anton dengan tulus. “Aku sendiri bangga denga kamu Ton. Tapi apakah engkau pernah berpikir bahwa kekayaanmu itu bersifat sementaraa? tidak! kalau kamu mau bagikanlah hartamu itu pada orang-orang yang mebutuhkannya. Apakah engaku bisa membayar hutang keangkuhan dan ketidakadilan yang dibuat oleh keluargaku terhadap Lopo Gina. Palu sudah dijatuhkan” jawab Lusi tegas dan membuat Anton tersudut serentak ada rasa kagum dihatinya. “ Lus....aku juga bangga dengan kamu dan seperti yang kamu katakan bahwa kekuatan cinta dapat mengalahkan perbedaan tetapi kenapa kita harus berpisah? Kenapa yang satu dihukum dan yang lain menghirup napas kemerdekaan? Aku ingin pergi bersamamu dalam alam yang berbeda sekalipun” sahut Anton mengyakinkan. Lusipun kembali jatuh dalam pelukannya untuk terakhirkalinya ia kemali mengecup bibir Lusi dengan lembut.
Adapaun di bagian barat kampung itu terdapat gunung batu yang amat tinggi, kira-kira dua ribu kilo meter tingginya. dipuncaknya terdapat batu tempelan yang menjorot keluas dengan panjang mencapai dua puluh lima meter dengan lebar tiga meter. Lusi harus berjalan sebanyak tujuhkali di atas bati tempelan itu sambil membersihkan rambut dengan remah kelapa (rono). Dan bila ia berhasil maka seluruh hutang keluaganya dihapus. Semua orang tahu termasuk Anton bahwa dipuncak batu yang tinggi itu anginya sangat kencang dan jangankan dalam posisi berdiri apalagi berjalan merangkak saja pasti langsung dihempas angin dan jatuh berkeping-keping. Oleh karena itu bayangan kematian Lusi sudah melakat dibenak Anton. Ia pergi menuju pondok kecil temapt Lopo Gina berdiam dulu. Menikamkan dirinya dan langsung tewas seketika. Gong dan gendang ditaburkan pratanda saat-saat dieksekusi telah tiba. Lusi diantar beberapa orang tapi mereka tidak berani sampai dipuncak dan menyuruh hanya menyuruh Lusi untuk mendaki hingga mencapai puncak dan melakukan apa yang sudah diperintahkan. siapa yang pernah menduga ketika Lusi berhasil melakukan itu dan terluput dari bahaya maut itu. Tetapi ia tidak pernah turun kembali sebab yang berjalan diatas itu bukan Lusi tetapi seorang bidadari dan ketika semua warga desa menuju tempat eksekusi itu ia menyusuli Anton ke pondok Lopo Gina dan kembali menikam dirinya. Mereka akhirnya bergabung dalam kelompok bidadari dan tempat itu kini disebut “Watu Timbang Raung” (Batu untuk menimbang hutang).

Watu Timbang Raung, terdapat di desa Regho dan telah menjadi salah satu obyek wisata Kab. Manggarai Barat. Bersamaan denga meletusnya gunung Krakatau batu tempelan itupun patah. Tetesan air pencuci rambut telah menimbulkan mata air di bawahnya dan masih ada hingga sekarang.
Kraeng, Golongan bangsawan
Mendi, golongan hamba
Eneng, panggilan untuk seorang anak perempuan
Lopo, panggilan untuk seorang nenek yang sudah sangat berumur.
Share:

GERHANA DI MATAMU

Mobil traver Timor Oeste meluncur perlahan membelah bentara tanah Timor yang rata dan yang ditaburi bukit-bukit berpadang sabana. Dipinggir jalan selalu disirami wangi cendana yang harum semrbak. Perlahan-lahan matahari turun seakan hendak menciup kaki langit di ufuk barat, semantara remang senja merayap dan kurasa bagaikan tangan ajaib meraba kulitku dan tiba-tiba meremas hatiku. Alunan lagu Tetun-portu berdengung halus dan membuat aku terbuai untuk masuk ke alam mimpi sehingga tidak mengetahui kehadiran seseorang di sampingku. Lama aku tertidur sampai akhirnya aku tersadar ketika mobil mini itu di hadang oleh sebuah tikungan tajam dan membuat kepalaku menyentuh lembut bahu kanannya. Ketika mengangkat mata dan membuka mata, jantungku berdetak kencang oleh beragam perasaan yang menggerogoti hatiku. Untuk kedua kalinya aku menggosok kelopak mataku sampai aku sungguh yakin kalau yang berada di sampingku sungguh seorang anak manusia yang amat cantik dan manis. Dari sekian tempat yang kukunjungi, baru kali ini aku melihat gadis seperti bidadari yang turun dari khayangan. Kecantikannya seakan menjadi sempurna ketika kaca mata mungil berminus satu setengah bertengger di ats hidungnya yang mancung.
Namun ada seseuatu yang terpancar dari balik kaca bening itu, sayu dan hampa seakan menyimpan segudang duka, kecewa dan sakit hati yang amat dalam. Kuakui bahwa diriku seorang yang amat rileks dan dalam waktu sedetikpun aku dapat bergaul dengan seseorang meskipun belum kukenal sebelumnya. Tetapi kali ini aku sungguh tak mampu dan hampir menyerah untuk memperkenalkan diri padanya. Suasana dalam mobil itu sangat hening dan sesekali aku mendengar klaksosn mobil itu menyapa setiap tikungan yang dilewatinya. Aku berusaha untuk kembali memejamkan mata tetapi setiap kali aku mencobanya seketika itu juga muncullah niat untuk memandang matanya itu. Akhirnya dengan keberanian yang tersisa akau berani membuka percakapan dan di dahului dengan gesekan kaki dan batuk-batuk ringan sekadar menarik perhatiannya. “Hai...kamu hendak ke mana?” tanyaku sekenanya. Ia menatapku dengan tajam disertai raut wajah yang serius seperti mengganggu naga yang sedang tertidur pulas. “Apa urusanmu dengan aku? Ke mana aku pergi tidak terlalu penting buatmu. Atau mobil ini milik moyangmu sehingga harus mengetahui tujuanku?”. Demikian suaranya hadir dan membuat aku bingung dan cengar-cengir karena malu. Dengan pengetahuan yang ada aku berusaha tenang.
Keheningan kembali hadir dalam mobil itu, hingga kemudian ia melanjutkan lagi. “Mengapa kamu harus repot denganku? Apa kamu suadah tidak ada kerja lagi? Apa kamu berpikir kebebasan ini hanya milikmu?” Dengan sedikit membuang muka ia terus mengumpatku. “Semua laki-laki memnag sama, Tak berperasaan. Yang ada pada dirinya hamyalah keegoisan, kesombongan, keserakahan dan hatinya dibekukan oleh nafsu yang mengebu-ngebu”. Aku diam dan tenang tapi tetap menunjukkan sikap sebagai pendengar yang baik walau telingaku terasa panas seperti disiram arang api kusambi yang membara. Sekali lagi ia menatapku dan berkata “Mengapa engaku diam? Apaka engaku berpikir bahwa yang berbicra padamu hanyalah seorang perempuan dan boneka yang bisa dipermaikan kapan saja kamu mau?” Aku menarik nafas sejenak dan berusaha berbicara tanpa menamba luka yang ada di hatinya. “Hidup ini terasa singkat untuk memikirkan amarah, kebencian, kecewa dan dendam. Sebuah titik hitam tidak dapat mempengaruhi putihnya sebuah kertas. Dan bila orang membenci titik hitam itu dan berusaha menyangkalinya maka ia menyangkali kemanusiaannya sendiri. Aku hanya mau mengatakan kalau kamu jatuh pada generalisasi. Sejahat-jahatnya seseorang namun ia masih memiliki hati untuk mencinta sebab ia terlahir karena cinta dan setiap pribadi itu selalu unik dan berbeda”. Ia tunduk dan diam seakan tak punya kata-kata lagi sebab naluri perasaan kewanitaannya mengambil alih jalan pikirannya. Tak lama kemudia butiran bening meluncur dari kelopak matanya yang diiringi isak tangis yang membuat om sopir sesekali menoleh ke arah kami.
Aku menatapnya dan berusaha untuk tidak terbawa oleh perasaannya, kemudian melanjutkan lagi. “Setiap orang memiliki ziarah hidup. Memiliki pengalaman masa lalu yang pahit dan menyakitkan yang terbingkai dalam bentuk luka batin yang amat mendalam. Tetapi ketahuilah bahwa di dunia ini tidak ada yang abadi termasuk suka batin itu sendiri. Semua itu akan berlalu asalkan kita membiarkan DIA yang adalah kekal dan Esa yakni Tuhan, untuk menjamah dan menyembuhkan kita dengan sikap penyerahan yang total pada penyelenggaraanNya dan dijadikanNya ziarah hidup kita sebagi Ziarah keselamatan”. Ia tetap tunduk kemudian membersihkan bola matanya dan mengangkat kepala serta mentapku denga tatapan mata yang berbinar-binar penuh ketenagan, kepuasan dan kedamaian. “Maaf yah? kalau aku harus melempiaskan kekecewaan dan sakit hatiku pada kamu. Aku sungguh merasa kepedihan yang amat dalam karena dikecewakan oleh orang yang sudah kurasa dekat dan amat mengerti aku dan kehidupanku. Dia adalah Willy, kekasih yang paling kucintai. Tatapi entah kenapa ia memutuskan hubungan yang terjalin selam lima tahun secara sepihak tanpa meberi alasan yang jelas padaku. Namun kini aku sadar, kalau aku telah membuat hidup ini menjadi sulit dan menyakitkan. Terima kasih yah....karena engaku telah menyadarkan aku”. ujarnya penuh keterbukaan.
Kini untuk prtama kalinya ia mempersembahkan padaku sebuah senyuman indah dan menakjubkan. “Oh yah.....namaku Echik. Mahasisiwi semester VI di Stikes Wirahusada, Yogyakarta. Untuk sementara aku kembali ke rumah oleh bencana yang mengguncang Yogya sebeminggu yang lalu”. Aku menyambut uluran tangannya dengan penuh persahabatan. “Aku Anis, sang pemburu berita”.
Ia kembali tersenyum dan makin akrab denganku sambil mensheringkan pengalaman-pengalaman terindah yang pernah kami alami. Ia semakin tenang dan rileks. Sebuah pojok di jantung kota Karang Kupang seakan menghadang mobil yang berukuran dua kali lima meter itu. Ia berdiri dan meraup tasnya sambil menatapku. Begitu dalam dan penuh arti. Ia menyodorkan sebuah kartu nama dan alamatnya padaku. “Aku bahagia bila selalu berada di sampingmu”. katanya lembut. Kemudian ia turun dan menyelusup masuk ke halaman rumah yang berlantai dua itu. Mobil mini itupun kembali meluncur setelah aku sempat membalas lambaian tangannya.
Share: