Kata apatis diartikan sebagai sikap acuh tidak acuh; tidak peduli; masa bodoh. Lalu pertanyaannya apa bedanya dengan skeptis? Sepintas keduanya memiliki kesamaan arti dan maksud dimana skeptis berarti sikap curiga, tidak mudah percaya, dan bersikap hati-hati atas tindakan orang lain. Orang menjadi acuh tak acuh dan tidak peduli karena ia terlanjur tidak percaya. Kehati-hatian dan curiga akhirnya menjadi sikap dasar seseorang. Bagaimanakah sikap apatis dan skeptis dipadukan sehingga menajdi dan menghasilkan sebuah sikap yang kreatifa dan bersifat konstrukstif. Sikap apatis dan skeptis itu ada dan selalu mewarnai hidup manusia modern sekarang ini. Bahkan ada yang mengkampenyekannya secara terbuka dengan berbagai produk undang-undang tentang hak asasi manusia dan kebebasan. Orang seharusnya apatis dengan sesuatu yang bukan merupakan persoalan dan ruang tanggungjawabnya. Sebagai contoh aparat pemerintah negara seharusnya apatis dan tidak boleh mencampuri urusan pribadi seseorang seperti soal kehidupan iman dan moral. Atau seorang pemimpin agama tidak berhak untuk memasukkan ayat-ayat kitab sucinya dalam sebuah undang-undang atau peraturan daerah tertentu. Singkatnya orang harus apatis untuk sesuatu yang bukan merupakan wewenang dan tanggungjawabnya. Selain itu orang harus bersikap skeptis untuk berbagai hal. Segala sesuatu harus dipertanyakan, diminta klarifikasi dan penjelasan yang akurat. Dengan bersikap skeptis kita dapat menemukan titik terang, kepastian dan kebenaran. Walau demikian kita tidak bisa selamanya hidup dalam sikap apatis dan skeptis. Konteks kapan dan dimana kita berada hendaknya menjadi bahan pertimbangan.
Penginjil Matius hari ini menampilkan sikap apastis yang ditunjukkan Yesus. Ia bersikap acuh tak acuh, tidak peduli bahkan tidak sopan terhadap keluargaNya sendiri. Sikap apatis yang dibarengi sikap tidak sopan adalah sikap seorang yang tidak tahu diri dan tidak tersentuh pendidikan moral dan tata kerama. Diceritakan bahwa ketika seseorang memberitahu kehadiran ibu dan keluarga-Nya, Yesus terkesan menyangkal dan menghindar. Ia berkata dalam nada skeptis ”Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?” Kemudian Ia menunjuk ke arah murid-murid-Nya: ”Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”
Sikap apatis dan skeptis yang ditunjukkan Yesus ini membuat kita merasa geli penuh kebingungan? Bagaimana mungkin dalam waktu yang terbilang singkat tiba-tiba Yesus menjadi amnesia dengan kelurganya sendiri. Kalau orang lain boleh dilupakan tetapi apakah kita pantas menyangkal dan menolak kehadiran seorang ibu? Sungguh-sungguh membingungkan. Sikap yang seharusnya tidak boleh dipertontonkan oleh seorang Yesus. Tetapi itu yang terjadi dan benar adanya. Yesus bersikap tidak peduli dan mempertanyakan kehadiran dan keberadaan keluarga-Nya sendiri termasuk ibu yang telah melahirkan dan membesarkannya. Lalu apa yang mau disampaikan Yesus kepada kita dari cerita suci hari ini?
Sebagai seorang anak yang baik, Yesus tentu sangat mengenal Maria sebagai ibu-Nya, demikianpun sebaliknya, Maria sangat mengenal siapa Yesus itu. Mereka berdua sama-sama mengerti perannya masing-masing dalam karya keselamatan Allah. Mendengar Yesus mempertanyakan: Siapa ibu dan saudara-saudara-Nya, tidak membuat Maria terkejut. Justru dalam hatinya Maria bangga karena Yesus sedang memuji dirinya. Betapa tidak, kriteria saudara-saudara dan Ibu Yesus sepenuhnya dimiliki Maria: Ia telah melakukan kehendak Bapa di surga, bahkan telah dirahmati Allah sejak dari dalam kandungan.
Dengan mengatakan hal ini, Yesus hendak membuka relasi yang lebih luas lagi bagi kita dan mengajak kita untuk menjadi ibu dan saudara-saudara-Nya, dengan satu syarat: Hanya melakukan apa yang Tuhan kehendaki. Jika kita melakukan kehendak Bapa, kita adalah saudara-saudari Yesus. Kita mendapatkan keistimewaan untuk tinggal bersama Yesus dalam satu keluarga besar Allah. Sebagaimana Yesus telah memperluas relasi-Nya dengan kita, kita pun hendaknya juga demikian, membiarkan semakin banyak orang mengenal Allah dan mau melaksanakan apa yang Allah kehendaki. Kita membuka diri untuk juga menjadi saudara dan ibu bagi orang lain.
Bapa, ajari aku untuk selalu melakukan kehendak-Mu sehingga aku boleh menikmati janji-janji-Mu. Saudara/iku, bersikaplah apatis dan skeptis untuk sesuatu yang merugikan sesama dan yang bertentangan dengan kehendak Allah. Semoga dihadapan terang Sabda Allah dan Roh pemberi karunia lenyaplah kegelapan dosa dan kebutaan manusia tak beriman dan semoga hati Yesus hidup dalam hati semua orang. Amin
Tuesday, 24 July 2012
Saturday, 21 July 2012
SOAL JEMBATAN
Berbicara tentang jembatan bukanlah hal yang baru. Jembatan bisa dipakai untuk berbagai konteks atau juga dalam bentuk kiasan digunakan dalam beragam arti. Dalam arti aslinya jembatan dimengerti sebagai sarana ideal yang didesain untuk menghubungkan medan yang sulit atau curam. Jembatan bisa juga dilekatkan pada seorang jurubicara, diplomat atau pengacara. Peranan sebuah jembatan atau orang yang bertindak sebagai jembatan sangat ideal tetapi sekaligus menantang. Jembatan yang baik biasanya memberi kemudahan dalam hal transportasi dan efesiensi dalam hal waktu, biaya dan tenaga. Demikian halnya seorang yang bertindak sebagai jembatan, ia bisa menjadi orang kepercayaan dari dua belah pihak yang mebutuhkan jasanya. Bandingkan saja tugas seorang duta besar atau diplomat. Walau demikian tugas seorang “jembatan atau juga sering disebut juru bicara memiliki tantangan tersendiri. Keputusan dan kesepakatan yang saling menguntungkan antara dua belas pihak sangat bergantung pada sepak terjangnya. Semakin cerdas, trampil dan bijaksana seorang juru bicara maka semakin besar terjadinya sebuah keputusan dan kerjasama yang akrab dan penuh persaudaraan. Lalu bagaimanakah bila sebuah jembatan atau seorang yang bertugas sebagai jembatan menyalahgunakan fungsinya sebagai penghubung atau penyalur informasi yang baik? Tentunya yang ada adalah kesalahpahaman, saling curiga dan berakhir pada konflik atau perselisihan.
Penginjil Matius hari ini, menampilkan cerita biblis tentang eksistensi Yesus sebagai jembatan sebagaimana yangditegaskan nabi Yesaya, "Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan, Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya dan Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa. Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap”. Kata-kata yang disampaikan Nabi Yesaya ini adalah penegasan Allah sendiri akan diri Yesus sebagai Sabda Allah yang telah menajdi manusia. Yesus adalah penghubung atara yang Ilahi dan manusiawi, antara yang fana dengan yang abadi, antara dunia dan surga. Itu berarti kehadiran Yesus sudah diramalkan jauh sbelum Yesus hadir. Kehadiran Yesus bukan sesuatu yang tiba-tiba atau mendadak tetapi direncanakan Allah semenjak dunia diciptakan. Dengan demikian manusia sangat bernilai dan luhur di mata Allah.
Panggilan hidup kita sebagai orang Kristen adalah panggilan untuk menjadi jembatan atau duta Allah untuk menjadi iman, nabi dan raja. Kehadiran Allah sangat terasa bagi sesama kita sejauh mereka mampu melihat keindahan dan kekhasan diri kita sebagai duta kasih Allah dalam hal cinta, persaudaraan, maaf dan kesetiaan. Upaya kita untuk menyalurkan kasih Allah dalam kata dan perbuatan merupakan sebuah perjuangan yang tak pernah berakhir. Dari setiap detik hidup yang kita lalui, selalu saja ada hal tersulit dan terpahit yang bakal kita alami untuk menguji kekuatan dan ketegaran hati kita. Setiap musim kita digilas oleh banyak kesulitan dan tantangan hidup dan pada saat yang sama iman dan harapan kita sebagai utusan Allah dimurnikan. Jangan pernah takut karena pada saat itu kita bisa bersaksi bahwa kita hanyalah alat di tangan Tuhan. Tuhan adalah Dia yang setia dalam segala situasi hidup kita. Jadilah jembatan kebaikan sebelum setan memakaimu sebagai jembatan kejahatan dan kemunafikan. Semoga dihadapan terang Sabda Allah dan Roh pemberi karunia lenyaplah kegelapan dosa dan kebutaan manusia tak beriman dan semoga hati Yesus hidup dalam hati semua orang. Amin
Friday, 20 July 2012
SOAL PRIORITAS
Bagi seorang yang memegang prinsip, hidup butuh kepastian maka sudah hampir pasti ia memiliki target atau rencana. Karena itu selalu ada hal yang menjadi prioritas dalam hidup dan karya. Seorang yang baru menamatkan bangku kulian tentunya memiliki prioritas untuk segera mendapat pekerjaan sementara seorang yang sudah bekerja tentunya memiliki prioritas untuk segera mendapat pasangan hidup. Singkatnya prioritas adalah hal yang utama atau yang menjadi pusat perhatian untuk dapat diwujudkan. Seorang yang tidak memiliki prioritas dalam hidup adalah dia yang tidak memiliki target atau rencana hidup. Bila itu yang terjadi maka hidup tidak lebih dari sebuah biduk yang tanpa nahkoda. Tidak memiliki arah atau cita-cita untuk diraih. Oleh karena itu hidup harus memiliki prioritas atau hal yang diutamakan. Kebanyakan diantara kita menjadikan prioritas hidup untuk berjuang agar selalu unggul dalam banyak hal seperti kelimpahan ekonomi, status atau pangkat, ketenaran dan nama besar. Hal itu adalah wajar-wajar saja sejauh tidak menghambat pikiran dan hati kita untuk selalu terarah pada sebuah prioritas hidup yang paling esensial yakni kehidupan eskatologis. Sebuah kehidupan baru setelah perziarahan kita di dunia ini. Tuhan adalah prioritas akhir dari sekian banyak prioritas hidup yang kita rencanakan.
Penginjil Matius hari ini menampilkan cerita Yesus, soal prioritas dalam hidup keagamaan. Yesus menekankan agar selalu memprioritaskan Allah dan manusia dalam setiap bentuk dan ragam hidup beriman. Atau dengan kata lain Allah dan manusia harus menjadi target atau sasaran utama bukan memprioritaskan beragama jenis dogma keagamaan atau tradisi nenek moyang yang justru menghambat seseorang dalam mewujudkan jati diri yang sesungguhnya. Diceritakan, ketika para murid Yesus memetik gandum pada hari sabat, orang Farisi tiba-tiba merasa risih hingga spontan mengkleim kepada Yesus. “Lihatlah para murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat”. Yesus menegaskan anak manusia adalah Tuhan pada hari sabat. Dengan demikian Yesus hendak menegaskan kalau diri-Nya menjadi prioritas bukan tunduk pada berbagai macam jenis dogma atau aturan yang dibuat manusia.
Dalam keseharian hidup kita ada banyak hal yang kita perjuangkan. Dengan demikian banyak juga yang menjadi prioritas kita ke depan. Namun dari semua prioritas itu apakah kita masih menomorduakan Tuhan dari yang lain? Apakah kita lebih mengutamakan kerja kita ketimbang menyisihkan waktu untuk bertemu Tuhan dalam doa, ibadah dan perayaan ekaristi? Apakah kita lebih senang menghabiskan banyak uang di meja judi atau tempat hiburan lainnya ketimbang menyumbangkan sedikit yang kita miliki bagi saudara-saudara kita yang menderita kelaparan? Semua jawabannya, ada dalam hati dan pikiran kita sendiri. kita yang memutuskan apa yang menjadi prioritas dalam hidup kita? apakah uang? harta benda? pangkat? nama besar? Atau Tuhan dan sesama? Ketahuilah saudara/i-ku, kita masih diberi waktu untuk menentukan sikap kita apakah memprioritaskan Allah dan sesama atau diri sendiri dan ambisi pribadi kita. Semoga dihadapan terang Sabda Allah dan Roh pemberi karunia lenyaplah kegelapan dosa dan kebutaan manusia tak beriman dan semoga hati Yesus hidup dalam hati semua orang. Amin
Thursday, 19 July 2012
SOAL CURHAT
Hampir tidak ada cara yang lebih bijaksana untuk meringankan beban pikiran dan rasa selain ber-curhat. Curhat adalah bukti nyata keberadaan manusia sebagai homo socius atau mahluk sosial. Manusia mampu dan seharusnya berelasi dengan orang lain dalam beragam cara termasuk ber-curhat. Dengan demikian curhat adalah hal yang wajar dan pantas dibuat oleh semua orang baik laki-laki maupun perempuan. Selain itu mencurahkan isi hati kepada orang lain tentunya berkaitan erat soal kepercayaan, kedekatan dan keakraban. Semakin kita merasa dekat, akrab dan yakin bahwa seseorang mampu menjaga rahasia persoalan kita maka semakin besar keinginan kita untuk berbagi cerita dengan orang tersebut. Biasanya orang berbagi isi hati menyangkut persoalan luar biasa dalam hidup termasuk beban hidup pribadi atau keluarga.
Di negara-negara maju seperti Jepang kasus bunuh diri sangat tinggi. Hal ini terjadi karena relasi yang dibangun adalah relasi kepentingan bukan relasi personal. Orang sibuk dengan pekerjaan dan dirinya sendiri. Maka ketika terjadi persoalan orang merasa ditinggalkan sendiri. Tidak ada orang yang mau atau diyakini dapat mencurahkan isi hati. Persoalan yang sekian berat akan mengakibatkan depresi, stress dan berakhir pada tindakan bunuh diri. Sikap seorang yang tertutup atau introvert sangat berbahaya jika tidak bisa mengekpresikan perasaannya secara kreatif. Jauh dari semuanya itu saya hanya mau mengatakan bahwa mencurakan isi hati adalah cara bijaksana, pantas dan wajar untuk meringankan beban pikiran dan perasaan. Persoaln baru muncul ketika orang yang kita yakin mampu menjaga rahasia hati kita bersikap plin-plan dan membocorkan semuanya itu kepada orang lain. Jika itu terjadi kepada siapakah kita harus percaya???
Penginjil Matius hari ini menampilkan cerita Yesus soal keterbukaan hatinya untuk menerima dan member solusi bagi semua orang yang mengalami persoalan dan beban dalam hidup. Yesus berkata “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-ku pun ringan." Dengan demikain Yesus mengajak kita untuk menjadikan-Nya sebagai temapat kita mencurahkan segal isi hati dan beban hidup kita. Kita tidak perlu takut untuk dikhinati atau masalah kita diketahui banyak orang. Yesus adalah Tuhan yang senantiasa mendengar keluh kesah dan rintihan hati kita. Dalam dan melalui Yesus kita dapat belajar soal kesabaran, kekuatan untuk bertahan dalam berbagai situasi hidup dan kepasrahan yang total pada kehendak Allah.
Hari ini kita semua diundang Yesus untuk datang dan belajar kepada-Nya, Yesus ingin mengajarkan kita kembali tentang pentingnya kebijaksaan dan kerendahan hati dalam menyikapi berbagai persoalan dalam hidup ini. Ia ingin kita mengikuti-Nya dan belajar dari pada-Nya bagaimana menyelesaikan masalah tanpa mempergunakan cara-cara kekerasan yang hanya akan berbuah ketidakbahagiaan dan ketidaktenangan. Yang kedua adalah Yesus ingin kita kembali dan datang kepada-Nya. Kita seringkali terhimpit beban berat khususnya dalam masalah ekonomi dimana berbagai kebutuhan hidup terus melambung tinggi dan kadang sulit terjangkau oleh orang-orang "kecil'. Demikian halnya yang bermasalah dengan dosa-dosa berat yang menghimpit hati dan pikiran sehingga selalu menjadi bayang-bayang dalam keseharian kita. Saudara/iku, melalui gereja Yesus telah memberikan kuasa untuk mengampuni dosa-dosa kita melalui Sakramen pengakuan dosa dan ini meruapakn sebuah karunia tak terhingga bagi kita dari Yesus yang Maharahim untuk memberikan kita pengampunan dan kelegaan pada segenap hati dan pikiran. Semoga dihadapan terang Sabda Allah dan Roh pemberi karunia lenyaplah kegelapan dosa dan kebutaan manusia tak beriman dan semoga hati Yesus hidup dalam hati semua orang. Amin
Wednesday, 18 July 2012
SOAL BERSYUKUR
Dalam hidup ini kita selalu mempunyai seribu satu alasan untuk bersyukur. Kita pantas dan wajib bersyukur karena hidup ini anugerah semata. Sebagai sebuah anugerah, kita tidak mempunyai wewenang untuk menentukan keberadaan hidup kita termasuk soal kelahiran dan kematian. Kapan dan bagaimana seseorang lahir atau meninggal, semuanya berada dalam sebuah misteri abadi. Sebagai seorang beriman kita yakin dan percaya, Tuhan adalah penyelenggara kehidupan Manusia. Tuhan adalah alva dan omega, sumber sekaligus tujuan akhir perziarahan hidup manusia. Tanpa kehadiran dan campur tangan Tuhan, kita hanyalah bayang-bayang yang tanpa makna dan tujuan. Oleh karena itu, ungkapan syukur kita dalam doa, amal dan puasa bukanlah sebuah rutunitas belaka sebagai seorang beragama tetapi sebagai kewajiban dan keharusan yang dijalani penuh kesadaran. Sebuah fakta yang mencemaskan akhir-akhir ini yakni banyak orang yang mempolitisi agama. Kosekuensinya jelas, iman dijadikan sebagai sebuah kesenian semata yang penuh permainan dan sandiwara. Syukur bukan lagi menjadi kata kehidupan yang mengalir dari hati tetapi hanyalah sebuah pertunjukan batiniah yang sarat kepentingan. Padahal bersyukur kepada Tuhan harus nampak dalam sebuah sikap hidup yang tulus karena respek yang tinggi kepada yang Ilahi.
Penginjil Matius hari ini menampilkan cerita Yesus soal suka cita-Nya dalam sebuah nada syukur. Yesus bersyukur kepada bapa-Nya di surga yang telah menyatakan kebesaran-Nya dalam pribadi-pribadi yang sederhana yang kelihatan kecil di mata dunia. Yesus berdoa dengan menyapa Allah sebagai Bapa: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil.” Yesus bersyukur karena Allah menyembunyikan semuanya bagi orang bijak-pandai dan menyingkapkan bagi orang kecil. Orang bijak artinya terpelajar/berilmu; orang pandai artinya pintar/inteligen; orang kecil artinya belum berilmu. Orang bijak-pandai mengklaim berpengetahuan mendalam tentang Allah; orang kecil merasa tidak tahu banyak tentang Allah, tetapi mengakui kehadiran Allah dalam diri Yesus. Karena itu bagi orang-orang kecil dinyatakan “semuanya itu”. Semuanya itu berkenaan dengan Bapa yang mempercayakan segala sesuatunya kepada Yesus, yaitu kuasa sebagaimana dimiliki-Nya sendiri. Karena misteri Allah yang tak mungkin dimiliki siapapun itu ada pada Yesus, maka hanya Yesus dapat mengenal sepenuhnya Bapa dan hanya Bapa dapat mengenal sepenuhnya Dia.
Mengenal bukan saja berarti mengetahui, tetapi suatu intimitas yang menciptakan relasi khusus antar dua pribadi. Karena itu pula hanya Yesus dapat menyingkapkan sepenuhnya diri Bapa dan hanya orang yang kepadanya Ia berkenan menyatakannya dapat mengenal Bapa. Dalam hidup kita setiap hari, terkadang kita mengetahui diri sebagai seorang beragama tetapi sedikit sekali yang mengenal diri sebagai orang beriman. Kosekuensinya kita hanya bersyukur atas semua pristiwa hidup yang menyenangkan dan membahagiakan. Sedikit sekali bahkan tidak pernah kita menerima semua pengalaman pahit atau menyakitkan dengan sedikit rasa syukur. Kita kerapkali mengutuki diri dan mempertanyakan kekuasaan dan penyelenggaraan Tuhan dalam hidup kita. Kita diajak untuk semakin mengenal diri dan kuasa Tuhan atas hidup kita dan senantisa bersyukur dalam segala situasi hidup yang kita alami baik yang mengembirakan maupun yang menyakitkan. Yesus mengajarkan kita untuk selalu bersyukur dalam Roh sebab kita memang terlahir untuk bersyukur. Ketahuilah, sebuah hati yang tidak tahu bersyukur adalah hati yang tidak mengenal diri dan sudah pasti tidak mengenal Allah. Bersyukurlah selalu sebelum anda dihakimi oleh diri anda sendiri sebagai pribadi yang tidak tahu diri karena tidak mengenal diri. Semoga dihadapan terang Sabda Allah dan Roh pemberi karunia lenyaplah kegelapan dosa dan kebutaan manusia tak beriman dan semoga hati Yesus hidup dalam hati semua orang. Amin
Tuesday, 17 July 2012
SOAL KEKUATAN KATA
Kata bukan hanya apa yang tertulis dan yang terucap tetapi apa yang dihidupi. Semakin ada kesesuaian antara apa yang ditulis atau yang diucapakan dengan apa yang dihidupi maka kata akan lebih bermkna dan memiliki kekuatan dalam dirinya sendiri. Dengan ini mau menegaskan bahwa kata berbeda dengan bicara. Atau dengan kata lain berbicara banyak belum tentuk mengatakan sesuatu. Saya, anda dan kita sekalian seringkali mengunakan kata, baik lisan maupun tulisan untuk menyampaikan pesan, kata hati atau pikiran kita kepada orang lain. Semakin sederhana dan jelas kata kata yang digunakan maka semakin mudah pesan tersebut dipahami dan dimengerti orang lain. Sebaliknya semakin luas, rumit dan berbelit-belit kata yang dipakai maka sangat besar peluang adanya interpretasi beragam, multi tafsir dan bukan tidak mungkin berujung pada kesalahapahaman dan konflik. Akhir-akhir ini, dalam arena politik kata-kata kehilangan kekuatannya. Kata-kata bukan lagi membantu orang untuk menyatukan perbedaan pendapat, mengeratkan relasi dan membangun rasa persaudaraan dan solidaritas tetapi dijadikan sebagai sarana untuk membalikkan banyak fakta dan kebenaran. Lebih parah lagi ketika banyak calon pemimpin atau pemimpin yang mudah memilih kata-kata biblis untuk membenarkan dan mendukung banyak tindakan korup dan manipulatif. Melihat semua kenyataan ini apakah kita masih mempersalahkan keberadaan sebuah lidah yang tidak bertulang?
Penginjil Matius menampilkan kecaman Yesus atas beberapa kota yang tidak mau bertobat sekalipun di situ Yesus melakukan banyak mukjizat. Yesus mengunakan kata “celakalah” untuk mewakili rasa kecewa mendalam atas keangkuhan dan kepongahan manusia yang makin lupa diri dan bahkan tidak tahu diri. Kata “celaka” adalah kata kutukan yang dalam arti lebih ringan berarti tidak mendapat berkat, selalu mendapat nasib malang, tidak pernah sukses dalam tugas dan karya serta tidak mendapat tempat dalam kerajaan Allah. Selain itu celaka berarti mendapat kemalangan atau mengalami nasib sial serta kematian tragis. Mungkin kita bertanya, bukankah Yesus seorang utusan Allah yang berkelimpahan dalam hal pengampunan dan kesabaran. Mengapa IA justru mengutuk manusia yang seharusnya diselamatkan karena sudah merupakan tujuan tunggal kehadiran-Nya. Atas pertanyaan ini tentunya kita harus kembali pada konteks yang lebih konkrit dan manusiawi. Kota Korazim dan Betsaida bisa saja gambaran sebuah hati yang terlanjur kaku dan keras sehingga sulit untuk dilunakkan lagi. Tidak ada cara yang paling tampan selain menggetarkannya dalam satu bentuk seperti nasib sial dan malang. Dengan demikian setiap pengalaman pahit dalam hidup bukan tanda ketidakhadiran Allah atau sisi lain dari kebaikan Allah tetapi bentuk penyadaran agar kita mengenal kata tobat. Kata celaka, tobat dan berbahagia sebenarnya satu garis lurus yang saling bersinggungan.
Tidak terhitung, berapa banyak dan jenis kata yang tertulis dan terucap dari bibir kita setiap hari. Terkadang kita berbicara banyak tetapi hampir tidak mengatkan sesuatu. Artinya kata-kata yang kita lontarkan tidak memiliki dampak lebih bagi orang lain. Kata-kata kita bisa saja menjadi suara hambar yang tak bermakna, bisa juga menjadi melodi penuh arti atau bisa berupa pedang yang siap menusuk kalbu. Kata-kata kita menjadi tawar ketika apa yang kita ucapkan tidak sepadan dengan apa yang kita lakukan. Orang yang plin-plan, cari muka dan munafik akan masuk dalam kategori ini. Selain itu kata-kata bisa berubah dalam bentuk sebuah pedang yang menusuk dan mengoyakkan nurani dan akal sehat. Orang yang mendengar kata-kata kita terluka, kecewa dan bisa saja menjadi beringas dan sadis. Tetapi kata-kata akan menjadi sebuah melodi indah saat kita tahu memuji, meneguhkan, memberi rasa aman dan tenang. Banyak yang mengatakan”Mulutmu adalah harimaumu” tetapi mulut tetap merupakan salah satu bagian tubuh yang lugu dan biasa selama tetap diam dan tidak mengatakan apa-apa. Yang membuat mulut itu menjadi harimau adalah kata-kata yang kita ucapkan. Ketahuilah kata-kata adalah manifestasi dari sebuah suasana jiwa, nurani dan akal budi. Semakin terampil dalam menulis dan peka dalam menyampikan sesuatu maka semakin jernih dan jelas isi hati dan pikiran seseorang. Gunakanlah kata-kata seperlunya sesuai kebutuhan, situasi dan konteks sosial masyarakat agar kat-akata tetap memiliki kekuatan yang mampu merangkul, memberdaya dan memberi isnpirasi kepada orang lain tentang perdamaian, persaudaraan dan solidaritas. Semoga dihadapan terang Sabda Allah dan Roh pemberi karunia lenyaplah kegelapan dosa dan kebutaan manusia tak beriman dan semoga hati Yesus hidup dalam hati semua orang. Amin