Monday, 30 July 2012

SOAL MENANAM

Mananam adalah kata yang biasa dan sering dipraktekkan. Kita menanam dengan sebuah tujuan dan harapan agara apa yang ditanam tersebut dapat tumbuh dan menghasilkan sesuatu. Petani mananam tanaman entah tanaman jangka pendek ataupun jangka panjang, pengusaha mengadakan survey pada sebuah perusahan untuk ikut menanam modal atau saham di dalamnya, Pemimpin dan pengurus partai politik sibuk menebar pesona untuk bisa menanam kepecayaan masyarakat. Singkatnya kita menanam agar dapat memanen. Bukan hanya satu kali lipat tetapi berlipat-lipat ganda. Namun demikian berbicara tentang menanam tidak terlepas dari peranan orang yang menanam, benih yang ditanam dan tempat serta waktu kapan benih itu ditanam. Tanaman pohon cendana misalnya, memiliki peluang untuk tumbuh jika ditanam oleh seorang petani yang berpengalaman diatas lahan yang subur pada saat menjelang musim hujan. Sebaliknya menanam tanaman cendana dalam lahan yang kritis dan musim yang salah oleh seorang kontraktor yang nota bene “awan” soal pertanian sudah pasti tidak berhasil. Selain itu jenis dan kualitas benih, harus mendapat perhatian lebih dalam hal menanam. Benih yang baik selalu berpeluang besar untuk tumbuh dan menghasilkan buah. Sebaliknya jenis benih yang kriput dan kerdil biasanya tidak bertahan dalam sebuah iklim yang garang. Singkatnya, menanam mengandaikan adanya peranan dari yang menanam, jenis tanaman, tempat atau lahan serta iklim yang mendukung. Penginjil Matius hari ini menampilkan cerita soal bagaimana Yesus membentangkan suatu per-um¬pamaan kepada para pendengar-Nya. Yesus berkata: ”Hal Kerajaan Surga itu seum¬pama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar daripada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang ber¬sarang pada cabang-cabangnya.” Dan Ia men-ceritakan perumpamaan ini juga kepada mereka: ”Hal Kerajaan Surga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya.” Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatu pun tidak disampaikan-Nya kepada mereka, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi: ”Aku mau membuka mulut-Ku mengatakan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan.” Kegiatan menabur dan menanam memiliki maksud yang sama atas cara yang beda. Menabur selalu mendahului kegiatan menanam. Atau dengan kata lain kita dapat menanam dari apa yang sebelumnya kita taburkan. Dalam konteks cerita biblis hari ini, pada dasarnya Tuhan sudah menabur benih Sabda dalam hati nurani kita. Tugas kita yang tersisa yakni menanam benih Sabda tersebut secara kreatif dalam produktif dalam hati sesama di sekitar kita. Pertumbuhan pohon sesawi dipakai Yesus untuk menggambarkan pertumbuhan iman kita. Iman yang semakin bertumbuh dan berkembang, suatu saat akan menghasilkan buah yang melimpah. Jika buah melimpah panenan pasti banyak; jika panenan banyak, pasti banyak para pendatang. Bagaikan pohon sesawi yang didatangi banyak burung, untuk berteduh, sekadar singgah, membuat rumah bahkan mencari makan pada pohon itu juga. Ragi juga menjadi salah satu gambaran yang baik untuk melukiskan kharisma iman dalam hidup seseorang. Ragi itu tampak tidak berarti dan tidak kelihatan, namun ia menyusup masuk ke seluruh adonan dan memengaruhi dari dalam sehingga adonan itu berkembang besar dan enak. Iman yang ada dalam diri seseorang itu bagai ragi yang bekerja diam-diam, dari dalam, memengaruhi seluruh hidup seseorang. Namun, seperti ragi, harus diaduk dulu ke dalam tepung sampai merata semuanya supaya dapat bekerja efektif, demikianpun iman harus diolah dengan baik dan dirawat supaya bisa efektif memengaruhi hidup kita secara keseluruhan. Yesus telah menabur benih iman ke dalam diri kita. Betapa Ia sangat mengharapkan iman itu bertumbuh bagai biji sesawi, dan efektif memengaruhi seluruh hidup kita bagai ragi, sehingga menjadi semakin berkualitas dan bermanfaat. Maka, mari kita merawat iman kita dan mengolah kehidupan rohani kita agar senantiasa menghasilkan buah yang baik dan berlimpah. Semoga dihadapan terang Sabda Allah dan Roh pemberi karunia lenyaplah kegelapan dosa dan kebutaan manusia tak beriman dan semoga hati Yesus hidup dalam hati semua orang. Amin
Share:

Saturday, 28 July 2012

SOAL SELEKSI

Perubahan zaman yang begitu cepat membuat kita harus terus bergerak dan dengan sendirinya berada dalam pengalaman diseleksi dan menyeleksi. Kita diseleksi oleh alam, sesama dan Tuhan sendiri. Kita diseleksi oleh alam yang garang dan iklim yang tidak bersahabat. Yang tidak berhasil dalam seleksi alamiah ini maka hidupnya dihabiskan diatas tempat tidur, rumah sakit bahkan liang lahat. Kita juga diseleksi dari segi kompetensi dan kreatifitas. Seorang yang tidak meng-up date kemampuanya atau dia yang kehilangan kreatifitas dengan sendirinya ketinggalan kreta sekaligus segera menyandang profesi baru sebagai penggangur dan tuna wisma. Akhirnya kita diseleksi oleh diri kita sendiri. Segala sesuatu yang kita lakukan di dunia ini harus dipertanggungjawabkan saat maut menjemput. Yang tidak lolos atau gugur dalam proses seleksi surgawi ini maka ia harus berada di tempat penyucian kalau bukan di neraka. Selain itu kita punya hak dan kemampauan untuk menyeleksi. Kita harus menyeleksi sebelum kita diseleksi. Kita berhak menyeleksi tempat dimana kita harus tinggal dan hidup. Kita menyeleksi pekerjaan yang sesuai dengan minat, bakat dan kemapuan kita. Kita juga menyeleksi hal-hal apa yang harus dibuat untuk kehidupan di akhirat nanti. Singkatnya hidup ini adalah proses untuk menyeleksi dam diseleksi. Penginjil Matius hari ini menampilakan cerita Yesus soal perumpamaannya tentang seorang penabur, gandum dan ilalang. Diceritakan tentang kerajaan Allah itu seumpama orang yang menaburkan benih baik di ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya, menaburkan benih lalang di antara gandum, lalu pergi. Ketika gandum tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. Maka datanglah hamba-hamba tuan ladang itu dan berkata kepadanya, 'Tuan, bukankah benih baik yang Tuan taburkan di ladang Tuan? Dari manaka lalang itu? Jawab tuan itu,'Seorang musuh yang melakukannya!' Lalu berkatalah para hamba itu, 'Maukah Tuan, supaya kami pergi mencabuti lalang itu?' Tetapi ia menjawab, 'Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kalian mencabut lalangnya. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai tiba. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai, 'Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandumnya ke dalam lumbungku. Tentunya kita bisa bedakan fungsi gandum dan ilalang. Gandum adalah jenis makanan khas masyarakat Yahudi yang mungkin bisa disamakan dengan fungsi padi untuk konteks kita. Sementara ilalang hampir tidak ada manfaat lebih selain hanyak berfungsi menghijaukan padang yang tandus. Dimana ilalang bertumbuh maka disaat ada riwayat kematian bagi tumbuhan lain termasuk gandum. Dengan demikian bila gandum dan ilalang hidup bersama maka yang selalu berada pihak yang kalah dan menderita adalah gandum. Yesus mengumpamakan orang yang baik adalah gandum dan orang jahat pasti ilalang. Dengan demikian orang baik tidak pernah bahagia jika berada di antara orang jahat. Namun Yesus justru membiarkan hal itu terjadi walau saatnya Ia hadir untuk menyeleksi dan memisahakan gandum atau orang baik dengan ilalang atau orang jahat. Ilalang dibakar dan gandum dimasukkan ke dalam lumbung. Perumpamaan ini sangat jelas dan pasti. Hidup ini merupakan sebuah proses seleksi dan menyeleksi. Meskipun benih itu sudah masuk golongan baik, unggul, pilihan, namun ketika ditanam bukan berarti lepas dari ancaman. Ia bisa mati oleh karena rumput liar yang menghimpitnya. (Mt 13:25). Kejahatan dan kuasa jahat selalu mengancam pewartaan kebaikan dan cinta kasih. Setiap kejahatan tidak serta merta dapat diusir, dikalahkan, atau dihalau begitu saja. Sebab ilalang yang dicabut bisa jadi akan membuat gandum pun tercabut (ay 29). Dalam situasi begini, dibutuhkan kebijasanaan, kebajikan, sikap yang hati-hati penuh pertimbangan, tidak asal bertindak. Tindakan ceroboh dapat menghancurkan semunya. Mungkin senada ungkapan kita menyembuhkan tetapi tidak menyakiti. Bagaimana kita dapat mempunyai kebijaksanaan tersebut? Tidak lain dan tidak bukan adalah hidup bersatu dengan Allah, mendengarkan Allah. Kita berusaha fokus dan orientasi pada kebaikan yang hendak kita kembangkan agar menghasilkan sukacita. Allah akan mengganjar yang baik dan menghukum yang jahat. Sesuatu yang baik akan selalu hidup dan tahan zaman. Sementara yang jahat akan kelihatan dan dijauhi orang. Oleh karena itu, saudara/iku, kita sepantasnya terus menerus untuk memperbaharui diri, melakukan pertobatan baik dalam pikiran, sikap, maupun perbuatan. Yang dulu selalu punya pikiran negatif pada sesama, harus mengembangkan pemikiran positif atau kebaikan dalam diri sesama. Yang dulu sering bersikap merendahkan sesama kita harus berusaha menghormati dan mengaku keunggulan sesama. Yang dulu sering menindas sesama yang lemah, kini harus berani rendah hati dan melayani mereka. Semoga dihadapan terang Sabda Allah dan Roh pemberi karunia lenyaplah kegelapan dosa dan kebutaan manusia tak beriman dan semoga hati Yesus hidup dalam hati semua orang. Amin
Share:

Tuesday, 24 July 2012

SOAL SIKAP APATIS DAN SKEPTIS

Kata apatis diartikan sebagai sikap acuh tidak acuh; tidak peduli; masa bodoh. Lalu pertanyaannya apa bedanya dengan skeptis? Sepintas keduanya memiliki kesamaan arti dan maksud dimana skeptis berarti sikap curiga, tidak mudah percaya, dan bersikap hati-hati atas tindakan orang lain. Orang menjadi acuh tak acuh dan tidak peduli karena ia terlanjur tidak percaya. Kehati-hatian dan curiga akhirnya menjadi sikap dasar seseorang. Bagaimanakah sikap apatis dan skeptis dipadukan sehingga menajdi dan menghasilkan sebuah sikap yang kreatifa dan bersifat konstrukstif. Sikap apatis dan skeptis itu ada dan selalu mewarnai hidup manusia modern sekarang ini. Bahkan ada yang mengkampenyekannya secara terbuka dengan berbagai produk undang-undang tentang hak asasi manusia dan kebebasan. Orang seharusnya apatis dengan sesuatu yang bukan merupakan persoalan dan ruang tanggungjawabnya. Sebagai contoh aparat pemerintah negara seharusnya apatis dan tidak boleh mencampuri urusan pribadi seseorang seperti soal kehidupan iman dan moral. Atau seorang pemimpin agama tidak berhak untuk memasukkan ayat-ayat kitab sucinya dalam sebuah undang-undang atau peraturan daerah tertentu. Singkatnya orang harus apatis untuk sesuatu yang bukan merupakan wewenang dan tanggungjawabnya. Selain itu orang harus bersikap skeptis untuk berbagai hal. Segala sesuatu harus dipertanyakan, diminta klarifikasi dan penjelasan yang akurat. Dengan bersikap skeptis kita dapat menemukan titik terang, kepastian dan kebenaran. Walau demikian kita tidak bisa selamanya hidup dalam sikap apatis dan skeptis. Konteks kapan dan dimana kita berada hendaknya menjadi bahan pertimbangan. Penginjil Matius hari ini menampilkan sikap apastis yang ditunjukkan Yesus. Ia bersikap acuh tak acuh, tidak peduli bahkan tidak sopan terhadap keluargaNya sendiri. Sikap apatis yang dibarengi sikap tidak sopan adalah sikap seorang yang tidak tahu diri dan tidak tersentuh pendidikan moral dan tata kerama. Diceritakan bahwa ketika seseorang memberitahu kehadiran ibu dan keluarga-Nya, Yesus terkesan menyangkal dan menghindar. Ia berkata dalam nada skeptis ”Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?” Kemudian Ia menunjuk ke arah murid-murid-Nya: ”Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.” Sikap apatis dan skeptis yang ditunjukkan Yesus ini membuat kita merasa geli penuh kebingungan? Bagaimana mungkin dalam waktu yang terbilang singkat tiba-tiba Yesus menjadi amnesia dengan kelurganya sendiri. Kalau orang lain boleh dilupakan tetapi apakah kita pantas menyangkal dan menolak kehadiran seorang ibu? Sungguh-sungguh membingungkan. Sikap yang seharusnya tidak boleh dipertontonkan oleh seorang Yesus. Tetapi itu yang terjadi dan benar adanya. Yesus bersikap tidak peduli dan mempertanyakan kehadiran dan keberadaan keluarga-Nya sendiri termasuk ibu yang telah melahirkan dan membesarkannya. Lalu apa yang mau disampaikan Yesus kepada kita dari cerita suci hari ini? Sebagai seorang anak yang baik, Yesus tentu sangat mengenal Maria sebagai ibu-Nya, demikianpun sebaliknya, Maria sangat mengenal siapa Yesus itu. Mereka berdua sama-sama mengerti perannya masing-masing dalam karya keselamatan Allah. Mendengar Yesus mempertanyakan: Siapa ibu dan saudara-saudara-Nya, tidak membuat Maria terkejut. Justru dalam hatinya Maria bangga karena Yesus sedang memuji dirinya. Betapa tidak, kriteria saudara-saudara dan Ibu Yesus sepenuhnya dimiliki Maria: Ia telah melakukan kehendak Bapa di surga, bahkan telah dirahmati Allah sejak dari dalam kandungan. Dengan mengatakan hal ini, Yesus hendak membuka relasi yang lebih luas lagi bagi kita dan mengajak kita untuk menjadi ibu dan saudara-saudara-Nya, dengan satu syarat: Hanya melakukan apa yang Tuhan kehendaki. Jika kita melakukan kehendak Bapa, kita adalah saudara-saudari Yesus. Kita mendapatkan keistimewaan untuk tinggal bersama Yesus dalam satu keluarga besar Allah. Sebagaimana Yesus telah memperluas relasi-Nya dengan kita, kita pun hendaknya juga demikian, membiarkan semakin banyak orang mengenal Allah dan mau melaksanakan apa yang Allah kehendaki. Kita membuka diri untuk juga menjadi saudara dan ibu bagi orang lain. Bapa, ajari aku untuk selalu melakukan kehendak-Mu sehingga aku boleh menikmati janji-janji-Mu. Saudara/iku, bersikaplah apatis dan skeptis untuk sesuatu yang merugikan sesama dan yang bertentangan dengan kehendak Allah. Semoga dihadapan terang Sabda Allah dan Roh pemberi karunia lenyaplah kegelapan dosa dan kebutaan manusia tak beriman dan semoga hati Yesus hidup dalam hati semua orang. Amin
Share:

Saturday, 21 July 2012

SOAL JEMBATAN

Berbicara tentang jembatan bukanlah hal yang baru. Jembatan bisa dipakai untuk berbagai konteks atau juga dalam bentuk kiasan digunakan dalam beragam arti. Dalam arti aslinya jembatan dimengerti sebagai sarana ideal yang didesain untuk menghubungkan medan yang sulit atau curam. Jembatan bisa juga dilekatkan pada seorang jurubicara, diplomat atau pengacara. Peranan sebuah jembatan atau orang yang bertindak sebagai jembatan sangat ideal tetapi sekaligus menantang. Jembatan yang baik biasanya memberi kemudahan dalam hal transportasi dan efesiensi dalam hal waktu, biaya dan tenaga. Demikian halnya seorang yang bertindak sebagai jembatan, ia bisa menjadi orang kepercayaan dari dua belah pihak yang mebutuhkan jasanya. Bandingkan saja tugas seorang duta besar atau diplomat. Walau demikian tugas seorang “jembatan atau juga sering disebut juru bicara memiliki tantangan tersendiri. Keputusan dan kesepakatan yang saling menguntungkan antara dua belas pihak sangat bergantung pada sepak terjangnya. Semakin cerdas, trampil dan bijaksana seorang juru bicara maka semakin besar terjadinya sebuah keputusan dan kerjasama yang akrab dan penuh persaudaraan. Lalu bagaimanakah bila sebuah jembatan atau seorang yang bertugas sebagai jembatan menyalahgunakan fungsinya sebagai penghubung atau penyalur informasi yang baik? Tentunya yang ada adalah kesalahpahaman, saling curiga dan berakhir pada konflik atau perselisihan. Penginjil Matius hari ini, menampilkan cerita biblis tentang eksistensi Yesus sebagai jembatan sebagaimana yangditegaskan nabi Yesaya, "Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan, Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya dan Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa. Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap”. Kata-kata yang disampaikan Nabi Yesaya ini adalah penegasan Allah sendiri akan diri Yesus sebagai Sabda Allah yang telah menajdi manusia. Yesus adalah penghubung atara yang Ilahi dan manusiawi, antara yang fana dengan yang abadi, antara dunia dan surga. Itu berarti kehadiran Yesus sudah diramalkan jauh sbelum Yesus hadir. Kehadiran Yesus bukan sesuatu yang tiba-tiba atau mendadak tetapi direncanakan Allah semenjak dunia diciptakan. Dengan demikian manusia sangat bernilai dan luhur di mata Allah. Panggilan hidup kita sebagai orang Kristen adalah panggilan untuk menjadi jembatan atau duta Allah untuk menjadi iman, nabi dan raja. Kehadiran Allah sangat terasa bagi sesama kita sejauh mereka mampu melihat keindahan dan kekhasan diri kita sebagai duta kasih Allah dalam hal cinta, persaudaraan, maaf dan kesetiaan. Upaya kita untuk menyalurkan kasih Allah dalam kata dan perbuatan merupakan sebuah perjuangan yang tak pernah berakhir. Dari setiap detik hidup yang kita lalui, selalu saja ada hal tersulit dan terpahit yang bakal kita alami untuk menguji kekuatan dan ketegaran hati kita. Setiap musim kita digilas oleh banyak kesulitan dan tantangan hidup dan pada saat yang sama iman dan harapan kita sebagai utusan Allah dimurnikan. Jangan pernah takut karena pada saat itu kita bisa bersaksi bahwa kita hanyalah alat di tangan Tuhan. Tuhan adalah Dia yang setia dalam segala situasi hidup kita. Jadilah jembatan kebaikan sebelum setan memakaimu sebagai jembatan kejahatan dan kemunafikan. Semoga dihadapan terang Sabda Allah dan Roh pemberi karunia lenyaplah kegelapan dosa dan kebutaan manusia tak beriman dan semoga hati Yesus hidup dalam hati semua orang. Amin
Share:

Friday, 20 July 2012

SOAL PRIORITAS

Bagi seorang yang memegang prinsip, hidup butuh kepastian maka sudah hampir pasti ia memiliki target atau rencana. Karena itu selalu ada hal yang menjadi prioritas dalam hidup dan karya. Seorang yang baru menamatkan bangku kulian tentunya memiliki prioritas untuk segera mendapat pekerjaan sementara seorang yang sudah bekerja tentunya memiliki prioritas untuk segera mendapat pasangan hidup. Singkatnya prioritas adalah hal yang utama atau yang menjadi pusat perhatian untuk dapat diwujudkan. Seorang yang tidak memiliki prioritas dalam hidup adalah dia yang tidak memiliki target atau rencana hidup. Bila itu yang terjadi maka hidup tidak lebih dari sebuah biduk yang tanpa nahkoda. Tidak memiliki arah atau cita-cita untuk diraih. Oleh karena itu hidup harus memiliki prioritas atau hal yang diutamakan. Kebanyakan diantara kita menjadikan prioritas hidup untuk berjuang agar selalu unggul dalam banyak hal seperti kelimpahan ekonomi, status atau pangkat, ketenaran dan nama besar. Hal itu adalah wajar-wajar saja sejauh tidak menghambat pikiran dan hati kita untuk selalu terarah pada sebuah prioritas hidup yang paling esensial yakni kehidupan eskatologis. Sebuah kehidupan baru setelah perziarahan kita di dunia ini. Tuhan adalah prioritas akhir dari sekian banyak prioritas hidup yang kita rencanakan. Penginjil Matius hari ini menampilkan cerita Yesus, soal prioritas dalam hidup keagamaan. Yesus menekankan agar selalu memprioritaskan Allah dan manusia dalam setiap bentuk dan ragam hidup beriman. Atau dengan kata lain Allah dan manusia harus menjadi target atau sasaran utama bukan memprioritaskan beragama jenis dogma keagamaan atau tradisi nenek moyang yang justru menghambat seseorang dalam mewujudkan jati diri yang sesungguhnya. Diceritakan, ketika para murid Yesus memetik gandum pada hari sabat, orang Farisi tiba-tiba merasa risih hingga spontan mengkleim kepada Yesus. “Lihatlah para murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat”. Yesus menegaskan anak manusia adalah Tuhan pada hari sabat. Dengan demikian Yesus hendak menegaskan kalau diri-Nya menjadi prioritas bukan tunduk pada berbagai macam jenis dogma atau aturan yang dibuat manusia. Dalam keseharian hidup kita ada banyak hal yang kita perjuangkan. Dengan demikian banyak juga yang menjadi prioritas kita ke depan. Namun dari semua prioritas itu apakah kita masih menomorduakan Tuhan dari yang lain? Apakah kita lebih mengutamakan kerja kita ketimbang menyisihkan waktu untuk bertemu Tuhan dalam doa, ibadah dan perayaan ekaristi? Apakah kita lebih senang menghabiskan banyak uang di meja judi atau tempat hiburan lainnya ketimbang menyumbangkan sedikit yang kita miliki bagi saudara-saudara kita yang menderita kelaparan? Semua jawabannya, ada dalam hati dan pikiran kita sendiri. kita yang memutuskan apa yang menjadi prioritas dalam hidup kita? apakah uang? harta benda? pangkat? nama besar? Atau Tuhan dan sesama? Ketahuilah saudara/i-ku, kita masih diberi waktu untuk menentukan sikap kita apakah memprioritaskan Allah dan sesama atau diri sendiri dan ambisi pribadi kita. Semoga dihadapan terang Sabda Allah dan Roh pemberi karunia lenyaplah kegelapan dosa dan kebutaan manusia tak beriman dan semoga hati Yesus hidup dalam hati semua orang. Amin
Share:

Thursday, 19 July 2012

SOAL CURHAT

Hampir tidak ada cara yang lebih bijaksana untuk meringankan beban pikiran dan rasa selain ber-curhat. Curhat adalah bukti nyata keberadaan manusia sebagai homo socius atau mahluk sosial. Manusia mampu dan seharusnya berelasi dengan orang lain dalam beragam cara termasuk ber-curhat. Dengan demikian curhat adalah hal yang wajar dan pantas dibuat oleh semua orang baik laki-laki maupun perempuan. Selain itu mencurahkan isi hati kepada orang lain tentunya berkaitan erat soal kepercayaan, kedekatan dan keakraban. Semakin kita merasa dekat, akrab dan yakin bahwa seseorang mampu menjaga rahasia persoalan kita maka semakin besar keinginan kita untuk berbagi cerita dengan orang tersebut. Biasanya orang berbagi isi hati menyangkut persoalan luar biasa dalam hidup termasuk beban hidup pribadi atau keluarga. Di negara-negara maju seperti Jepang kasus bunuh diri sangat tinggi. Hal ini terjadi karena relasi yang dibangun adalah relasi kepentingan bukan relasi personal. Orang sibuk dengan pekerjaan dan dirinya sendiri. Maka ketika terjadi persoalan orang merasa ditinggalkan sendiri. Tidak ada orang yang mau atau diyakini dapat mencurahkan isi hati. Persoalan yang sekian berat akan mengakibatkan depresi, stress dan berakhir pada tindakan bunuh diri. Sikap seorang yang tertutup atau introvert sangat berbahaya jika tidak bisa mengekpresikan perasaannya secara kreatif. Jauh dari semuanya itu saya hanya mau mengatakan bahwa mencurakan isi hati adalah cara bijaksana, pantas dan wajar untuk meringankan beban pikiran dan perasaan. Persoaln baru muncul ketika orang yang kita yakin mampu menjaga rahasia hati kita bersikap plin-plan dan membocorkan semuanya itu kepada orang lain. Jika itu terjadi kepada siapakah kita harus percaya??? Penginjil Matius hari ini menampilkan cerita Yesus soal keterbukaan hatinya untuk menerima dan member solusi bagi semua orang yang mengalami persoalan dan beban dalam hidup. Yesus berkata “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-ku pun ringan." Dengan demikain Yesus mengajak kita untuk menjadikan-Nya sebagai temapat kita mencurahkan segal isi hati dan beban hidup kita. Kita tidak perlu takut untuk dikhinati atau masalah kita diketahui banyak orang. Yesus adalah Tuhan yang senantiasa mendengar keluh kesah dan rintihan hati kita. Dalam dan melalui Yesus kita dapat belajar soal kesabaran, kekuatan untuk bertahan dalam berbagai situasi hidup dan kepasrahan yang total pada kehendak Allah. Hari ini kita semua diundang Yesus untuk datang dan belajar kepada-Nya, Yesus ingin mengajarkan kita kembali tentang pentingnya kebijaksaan dan kerendahan hati dalam menyikapi berbagai persoalan dalam hidup ini. Ia ingin kita mengikuti-Nya dan belajar dari pada-Nya bagaimana menyelesaikan masalah tanpa mempergunakan cara-cara kekerasan yang hanya akan berbuah ketidakbahagiaan dan ketidaktenangan. Yang kedua adalah Yesus ingin kita kembali dan datang kepada-Nya. Kita seringkali terhimpit beban berat khususnya dalam masalah ekonomi dimana berbagai kebutuhan hidup terus melambung tinggi dan kadang sulit terjangkau oleh orang-orang "kecil'. Demikian halnya yang bermasalah dengan dosa-dosa berat yang menghimpit hati dan pikiran sehingga selalu menjadi bayang-bayang dalam keseharian kita. Saudara/iku, melalui gereja Yesus telah memberikan kuasa untuk mengampuni dosa-dosa kita melalui Sakramen pengakuan dosa dan ini meruapakn sebuah karunia tak terhingga bagi kita dari Yesus yang Maharahim untuk memberikan kita pengampunan dan kelegaan pada segenap hati dan pikiran. Semoga dihadapan terang Sabda Allah dan Roh pemberi karunia lenyaplah kegelapan dosa dan kebutaan manusia tak beriman dan semoga hati Yesus hidup dalam hati semua orang. Amin
Share: