Tuesday, 17 July 2012

SOAL KEKUATAN KATA

Kata bukan hanya apa yang tertulis dan yang terucap tetapi apa yang dihidupi. Semakin ada kesesuaian antara apa yang ditulis atau yang diucapakan dengan apa yang dihidupi maka kata akan lebih bermkna dan memiliki kekuatan dalam dirinya sendiri. Dengan ini mau menegaskan bahwa kata berbeda dengan bicara. Atau dengan kata lain berbicara banyak belum tentuk mengatakan sesuatu. Saya, anda dan kita sekalian seringkali mengunakan kata, baik lisan maupun tulisan untuk menyampaikan pesan, kata hati atau pikiran kita kepada orang lain. Semakin sederhana dan jelas kata kata yang digunakan maka semakin mudah pesan tersebut dipahami dan dimengerti orang lain. Sebaliknya semakin luas, rumit dan berbelit-belit kata yang dipakai maka sangat besar peluang adanya interpretasi beragam, multi tafsir dan bukan tidak mungkin berujung pada kesalahapahaman dan konflik. Akhir-akhir ini, dalam arena politik kata-kata kehilangan kekuatannya. Kata-kata bukan lagi membantu orang untuk menyatukan perbedaan pendapat, mengeratkan relasi dan membangun rasa persaudaraan dan solidaritas tetapi dijadikan sebagai sarana untuk membalikkan banyak fakta dan kebenaran. Lebih parah lagi ketika banyak calon pemimpin atau pemimpin yang mudah memilih kata-kata biblis untuk membenarkan dan mendukung banyak tindakan korup dan manipulatif. Melihat semua kenyataan ini apakah kita masih mempersalahkan keberadaan sebuah lidah yang tidak bertulang? Penginjil Matius menampilkan kecaman Yesus atas beberapa kota yang tidak mau bertobat sekalipun di situ Yesus melakukan banyak mukjizat. Yesus mengunakan kata “celakalah” untuk mewakili rasa kecewa mendalam atas keangkuhan dan kepongahan manusia yang makin lupa diri dan bahkan tidak tahu diri. Kata “celaka” adalah kata kutukan yang dalam arti lebih ringan berarti tidak mendapat berkat, selalu mendapat nasib malang, tidak pernah sukses dalam tugas dan karya serta tidak mendapat tempat dalam kerajaan Allah. Selain itu celaka berarti mendapat kemalangan atau mengalami nasib sial serta kematian tragis. Mungkin kita bertanya, bukankah Yesus seorang utusan Allah yang berkelimpahan dalam hal pengampunan dan kesabaran. Mengapa IA justru mengutuk manusia yang seharusnya diselamatkan karena sudah merupakan tujuan tunggal kehadiran-Nya. Atas pertanyaan ini tentunya kita harus kembali pada konteks yang lebih konkrit dan manusiawi. Kota Korazim dan Betsaida bisa saja gambaran sebuah hati yang terlanjur kaku dan keras sehingga sulit untuk dilunakkan lagi. Tidak ada cara yang paling tampan selain menggetarkannya dalam satu bentuk seperti nasib sial dan malang. Dengan demikian setiap pengalaman pahit dalam hidup bukan tanda ketidakhadiran Allah atau sisi lain dari kebaikan Allah tetapi bentuk penyadaran agar kita mengenal kata tobat. Kata celaka, tobat dan berbahagia sebenarnya satu garis lurus yang saling bersinggungan. Tidak terhitung, berapa banyak dan jenis kata yang tertulis dan terucap dari bibir kita setiap hari. Terkadang kita berbicara banyak tetapi hampir tidak mengatkan sesuatu. Artinya kata-kata yang kita lontarkan tidak memiliki dampak lebih bagi orang lain. Kata-kata kita bisa saja menjadi suara hambar yang tak bermakna, bisa juga menjadi melodi penuh arti atau bisa berupa pedang yang siap menusuk kalbu. Kata-kata kita menjadi tawar ketika apa yang kita ucapkan tidak sepadan dengan apa yang kita lakukan. Orang yang plin-plan, cari muka dan munafik akan masuk dalam kategori ini. Selain itu kata-kata bisa berubah dalam bentuk sebuah pedang yang menusuk dan mengoyakkan nurani dan akal sehat. Orang yang mendengar kata-kata kita terluka, kecewa dan bisa saja menjadi beringas dan sadis. Tetapi kata-kata akan menjadi sebuah melodi indah saat kita tahu memuji, meneguhkan, memberi rasa aman dan tenang. Banyak yang mengatakan”Mulutmu adalah harimaumu” tetapi mulut tetap merupakan salah satu bagian tubuh yang lugu dan biasa selama tetap diam dan tidak mengatakan apa-apa. Yang membuat mulut itu menjadi harimau adalah kata-kata yang kita ucapkan. Ketahuilah kata-kata adalah manifestasi dari sebuah suasana jiwa, nurani dan akal budi. Semakin terampil dalam menulis dan peka dalam menyampikan sesuatu maka semakin jernih dan jelas isi hati dan pikiran seseorang. Gunakanlah kata-kata seperlunya sesuai kebutuhan, situasi dan konteks sosial masyarakat agar kat-akata tetap memiliki kekuatan yang mampu merangkul, memberdaya dan memberi isnpirasi kepada orang lain tentang perdamaian, persaudaraan dan solidaritas. Semoga dihadapan terang Sabda Allah dan Roh pemberi karunia lenyaplah kegelapan dosa dan kebutaan manusia tak beriman dan semoga hati Yesus hidup dalam hati semua orang. Amin
Share:

Saturday, 14 July 2012

SOAL MENJADI GURU

Jika kita pernah mendengar atau melihat sendiri pengalaman seorang guru yang mengajar di sebuah sekolah, maka dalam waktu 10 tahun kemudian guru itu dapat melihat murid-muridnya yang berhasil memiliki berbagai macam profesi pekerjaan, pangkat dan status pendidikan. Ada yang menjadi dokter, insinyur, designer, programer dan macam-macam lainnya. Tentunya guru tadi masih setia mengajar murid-murid dengan keadaannya yang demikian itu. Mungkin alasan itulah gelar pahlawan tanpa tanda jasa disematkan pada seorang guru. Profesi sebagai guru sebenarnya tidak pantas diukur dengan sejumlah gaji, tunjangan dan dana pensiunan. Guru lebih tepat bila dihubungan dengan soal keteladanan, keuletan, ketabahan dan pengorbanan. Perikop hari ini menampilkan cerita Yesus soal status seorang guru dan murid. Yesus mengajarkan bahwa “Seorang murid tidak melebihi gurunya, dan seorang hamba tidak melebihi tuannya”. Apakah dengan ini Yesus mau mempertahankan status quo, gengsi dan wibawa seorang guru? Atas dasar apa dan dari segi mana seorang murid tidak dapat melebihi gurunya? Yesus mengutus para murid-Nya untuk memberitakan datangnya Kerajaan Sorga (10:7). Dalam melaksanakan tugas mewartakan Kerajaan Sorga itu, mereka akan mengalami penolakan (10:14). Tugas yang mereka terima itu bukanlah tugas yang mudah dan ringan karena mereka akan “seperti domba di tengah serigala” (10:16). Inti nasihat Yesus kepada para murid-Nya ini adalah supaya mereka tidak takut kepada siapa pun yang menolak dan menentang mereka dan Kerajaan Sorga yang mereka wartakan. Karena, Tuhan akan memperhatikan dan memelihara mereka. Nasihat Yesus ini senada dengan keyakinan Yeremia: Tuhan yang mengutus dan yang diabdinya akan menjaga dan memelihara para utusan-Nya. Yesus mengetahui bahwa para murid-Nya akan menghadapi semua itu. Karena itu, Yesus menasihati mereka untuk tidak takut kepada semua yang menolak dan menentang mereka, bahkan yang dapat membunuh mereka. Karena, mereka hanya dapat membunuh tubuh, tetapi tidak akan dapat membinasakan jiwa. Tuhan, untuk siapa mereka bekerja, jauh lebih berkuasa daripada semua itu karena Ia dapat membinasakan tubuh dan sekaligus jiwa. Tuhan tidak akan membiarkan mereka terlantar dan menderita. Burung pipit pun berharga di hadapan Allah dan diperhatikan-Nya, apalagi mereka yang bekerja untuk-Nya. Selain itu Yesus ingin menandaskan bahwa aneka macam kesusahan, penderitaan, tantangan, cobaan yang akan kita alami jika kita bandingkan dengan penderitaan Yesus sendiri, maka sebenarnya apa yang kita alami itu masih belum ada apa-apanya. Artinya ialah, apa pun yang kita lakukan jika kita percaya dalam nama Yesus, maka kita akan mendapat perlindungan-Nya senantiasa. Kita tidak perlu merasa takut atau bahkan merasa tidak berdaya jika menghadapi sebuah tantangan atau cobaan hidup yang berat. Karena hidup kita sebenarnya sudah mendapat jaminan di dalam nama Yesus. Maka sikap terbaik yang perlu kita bangun ialah kita mau menyerahkan diri kita sepenuhnya terhadap karya Allah yang turut bekerja di dalam hidup kita, membiarkan diri kita dibimbing oleh-Nya dalam setiap rentetan peristiwa kehidupan kita. Marilah kita dari hari ke hari semakin peka terhadap karya Allah yang senantiasa menuntun hidup kita dalam menghadapi setiap tantangan dan perjuangan dalam hidup kita untuk memperoleh kebahagiaan. Semoga dihadapan terang Sabda Allah dan Roh pemberi karunia lenyaplah kegelapan dosa dan kebutaaan manusia tak beriman dan semoga hati Yesus hidup dalam hati semua orang. Amin
Share:

Friday, 13 July 2012

SOAL PENDERITAAN

Berbicara soal penderitaan sebenarnya tidak terlepas dari cerita soal kebahagiaan. Penderitaan dan kebahagiaan laksana dua bua buah mata uang yang sulit untuk dilepaskan dari satu dengan yang lain. Bandingkan filsafat Cina soal Yin dan Yang yang menegaskan bahwa dalam dunia ini ada dua hal yang bersifat kontradiksi dan tidak bisa dilepaspisahkan seperti adanya siang dan malam, terang dan gelap, panas dan dingin, hidup dan mati, air mata dan tawaria dan sebagainya. Sebagaimana kita berhak menerima kebahagiaan maka kita seharus terbuka juga untuk menerima penderitaan dalam beragam bentuk. Dalam dunia modern yang serba kompleks, banyak orang menjadi alergi dengan berbagai masalah dan penderitaan hidup. Berbagai kasus bunuh diri dan banyaknya penghuni rumah sakit jiwa menegaskan kenyataan ini. Namun di lain pihak tidak sedikit orang melihat penderitaan sebagai sebuah garis tangan atau takdir yang harus ditanggung. Allah seakan-akan sudah menentukan semua itu dari semula. Padahal banyal soal atau penderitaan menuntut perjuangan kita untuk mencari solusi yang tepat dan benar. Penginjil Matius menampilkan cerita Yesus soal awasannya akan penganiayaan yang akan datang oleh karena pengakuan dan iman kita akan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan penyelamat. Kepada para murid-Nya Yesus memberi pesan : Lihat aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala yang selalu siap untuk mengejar, menerkam dan menyesah tetapi jangan takut Roh Kudus tetap menyertai kamu. Dia akan membelamu dihadapan segala lawanmu”. Dengan demikian memilih untuk menjadi murid Yesus butuh pertanggungjawaban dan pengorbanan. Iman harus dipertanggungjawabkan dalam satu cara termasuk dalam berbagai jenis penderitaan. Sebagaimana Yesus rela terentang antara langit dan dibumi di atas palang salib demikian halnya para murid dan semua yang menyebut diri Kristiani. Tetapi ingat, siapa yang bertahan dalam penderitaan ia kan selamat. Allah memiliki suatu tujuan dibalik berbagai persoalan dan masalah. Dia mengunakan keadaan-keadaan sulit untuk mengembangkan karakter dan iman kita. Yesus sudah memperingatkan bahwa kita akan menghadapi berbagai penderitaan hidup dan tidak ada seorangpun yang kebal terhadap penderitaan. Kehidupan ini adalah serangkaian masalah dan penderitaan. Setiap kali kita berusaha memecahkan satu masalah, masalah lain sudah menanti untuk muncul. Memang tidak semua masalah itu besar tetapi sangat penting untuk kita renungkan dan maknai demi kematangan iman dan karakter kita. Rupa-rupanya Allah memakai masalah-masalah untuk menarik kita dekat kepada-Nya. Kitab Suci menulis bahwa Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati dan menyelamatkan orang-orang yang remuk redam hatinya. Ketahuilah saudara/saudariku beragam persoalan dan penderitaan mendorong kita untuk memandang Allah dan bergantung pada-nya dan bukan diri kita sendiri. Anda tidak akan pernah mengetahui bahwa Allah itu satu-satunya yang anda butuhkan sebelum Allah menjadi satu-satunya yang anda miliki. Apapun penyebabnya, tidak ada satupun maslah atau penderitaan yang terjadi tanpa seizin Allah. Cara bijaksana dari sebuah kualitas iman yang mendalam adalah dengan menyerahkan dan menyatukan penderitaan kita dengan penderitaan Kristus. Teguhkan hatimu dan angkatlah matamu sebab di sana ada cinta yang siap merangkul dan merangkai hatimu yang luka. Semoga dihadapan terang Sabda Allah dan Roh pemberi karunia lenyaplah kegelapan dosa dan kebutaan manusia tak beriman dan semoga hati Yesus hidup dalam hati semua orang. Amin.
Share:

Thursday, 12 July 2012

SOAL MEMBERI SALAM

Dalam setiap bangsa dan budaya, salam merupakan kata sentral dalam sebuah relasi. Orang bisa dan lazim memberI salam dan menerima salam. Apapun cara dan gaya dalam hal memberi salam atau menerima salam semuanya bermuara pada sebuah pengertian tunggal bahwa kita adalah pribadi yang pantas untuk dihargai. Dengan demikian kita tiba pada sebuah kesadaran bahwa menghargai orang lain sama halnya menghargai diri sendiri. Memberi salam kepada orang lain adalah bentuk yang kelihatannya biasa dan sederhana. Mungkin karena hal itu bersifat sederhana dan biasa banyak orang justru melupakan atau mengabaikannya. Anggota keluarga dalam rumah misalnya, enggan untuk memberi salam atau menerima salam satu sama lain hanya karena selalu bertemu dan selalu ada bersama. Padahal salam adalah tanda atau simbol yang nampak jelas dari sebuah relasi yang hidup dan harmonis. Tentunya salam dalam hal ini bukan soal kepentingan atau prosedur yang mesti dibuat seperti salam seorang ajudan untuk seorang Bupati atau Gubernur, atau salam seorang perwira untuk pimpinannya ataupun salam seorang penjaga supermarket untuk para calon pembeli dan sebagainya. Salam dalam konteks ini adalah sebuah sikap bebas yang tulus dan spontan sebagai bukti eratnya rasa persaudaraan. Penginjil Matius menampilkan cerita Yesus soal sikap yang mesti ditunjukkan pada murid saat pertama kali berkunjung pada sebuah rumah yakni memberi salam. Salam menjadikan kata awal yang terbilang kramat untuk sebuah relasi. Atau dengan bentuk lain, relasi dapat dibangun sejauh apakah salam itu diterima atau tidak. Yesus berpesan, apabila kamu masuk sebuah rumah berilah salam kepada seisi rumah itu, jika mereka layak menerimanya maka salammu itu turun ke atas mereka dan jika tidak salam itu akan kembali kepadamu. Apakah arti pernyataan ini? Terlihat jelas bahwa salam bukan sekadar kata hampa belaka. Salam adalah sebuah kalimat kramat yang berdaya guna dan bersifat mengikat. Lebih lanjut salam dilihat sebagai benih yang siap untuk ditaburkan. Lahan dan tanah yang adalah hati nurani tempat yang sepantasnya menerima benih atau salam tersebut. Semakin terbuka dan rendahnya sebuah hati maka salam itu akan ditaburkan dan berbuah dalam bentuk relasi yang hidup, rasa persaudaraan dan solidaritas. Namun jika salam itu tidak mendapat tempat atau ditolak maka yang ada hanyalah kekosongan, kecemasan abadi dan ketiadaan harapan serta kehilangan inspirasi. Kepada para muridnya Yesus berpesan agar jangan pernah berharap apalagi memaksa agar salam itu diterima. Salam itu hendaknya menjadi sebuah aliran air yang pantas mengalir pada sebuah huma yang rendah dan terbuka untuk diairi. Setiap hari kita mendengar, memberi dan menerima salam tetapi sejauhmana kita memahami dan mekanai arti sepenggal kata salam. Apakah salam hanya dilihat sebagai sebuah kebiasaan yang semakin hambar dalam sebuah rutinitas harian yang sama dan monoton? Seberapa banyak kita memberi salam kepada semua orang tanpa harus melihat latar belakang kehidupannya. Apakah kita hanya memberi salam kepada orang yang sama status dengan kita atau memberi salam kepada orang yang berpengaruh baik dalam hal jabatan politis, keagamaan, kemakmuran ekonomi dan sebagainya ketimbang orang-orang biasa yang serba kekurangan dalam banyak hal? Dalam perayaan ekaristi kita selalu meberi salam damai kepada sesama di sekitar kita tetapi sejauhmana itu diaplikasikan dalam keseharian kita sehari-hari baik di rumah, di tempat kerja atau di tempat lain? Sesederhana apapun sepenggal kata salam sangat berarti bagi yang membutuhkannya. Berilah salam sebelum anda menerima salam. Ketahuilah, salammu adalah doamu dan juga dukunganmu. Semoga dihadapan terang Sabda Allah dan Roh pemberi akrunia lenyaplah kegelapan dosa dan kebutaan manusia tak beriman dan semoga hati Yesus hidup dalam hati semua orang. Amin
Share:

Wednesday, 11 July 2012

SOAL NAMA

Semua orang mempunyai nama dan seharusnya mempunyai nama. Nama adalah tanda (nomen is omen). Sebagai sebuah tanda, nama adalah gambaran diri seseorang. Nama juga berhubungan erat dengan sistem kekerabatan. Kita bisa mengenal asal-usul seseorang, entah soal suku, agama maupun tempat asal dari nama yang disandangnya. Dengan demikian, apapun nama yang dimiliki seseorang adalah baik dalam dirinya sendiri khususnya bagi yang bersangkutan. Implikasi lanjutnya yakni kita tidak berhak untuk mengantikan nama seseorang atau bergonta-ganti nama. Dalam arus zaman yang serba anonim, kecenderungan untuk bergonta-ganti nama sangat tinggi dan dilihat sebagai sebuah trend baru yang sangat digandrungi. Seseorang bisa memiliki beberapa nama sekaligus. Di satu tempat misalnya dipanggil Peter dan ditempat lain dipanggil Mahmud, atau di satu kota dipanggil mas Joko dan di kota lain dipanggil bung Nadus. Singkatnya nama bukan lagi tanda tetapi gaya. Di lain pihak banyak orang yang sibuk mencari nama. Nama akhirnya bukan hanya tanda atau gaya tetapi juga soal popularitas, harga diri dan kehormatan. Tidak heran ada yang berani mempertaruhkan segala yang dimilikinya hanya untuk sebuah nama agar dikenal oleh sebanyak mungkin orang. Penginjil Matius hari ini menampilkan cerita Yesus tentang bagaimana Yesus memanggil orang-orang pilihannya seturut nama yang dimilikinya. Petrus, Andreas, Yokobus anak Zebedeus, Yohanes, Filipus, Bertolomeus, Thomas, Matius, Tadeus, Simon, Yokobus anak Alfeus dan Yudas Iskariot. Kedua nama ini adalah figure-figur pilihan yang kemudian disebut kedua belas rasul. Mereka dipanggil dalam sebuah nama yang bersifat unik, khas dan asli. Kepada mereka Yesus menitipkan pesan agar jangan menyimpang ke jalan bangsa lain melainkan pergi untuk mendapatkan domba-domba yang hilang dari umat Israel. “Pergilah dan beritakanlah, kerajaan Surga sudah dekat”. Mungkin pertanyaan lanjut yakni mengapa hanya dua belas orang untuk sebuah tugas yang sangat besar yakni memberitakan kerajaan Allah ke seluruh dunia? Mengapa harus memilih Yudas Iskariot yang kemudian terbukti mengkhianati gurunya sendiri? Mengapa dipilih nama-nama dari kalangan bawah yang minim dan terbatas dalam hal akademis dan management? Pertanyaan-pertanyaan ini dinilai wajar dan lumrah. Dua belas nama yang dipilih Yesus dapat mewakili dua belas suku Israel dan pengkhianatan Yudas iskariot dapat dilihat sebagai simbol kerapuhan dan ketidaksetiaan manusia pada rencana dan kehendak Allah. Yesus memilih nama-nama dari kalangan bawah mau menujukkan bahwa dihadapan Allah semua orang sama. Keunggulan dalam bidang akademis dan kelimpahan harta kekayaan bukanlah jaminan untuk terlaksananya tugas yang diberikan Yesus untuk mewartakan kasih dan cinta Tuhan. Hanya dalam hati yang rendah dan mau berkorban, Tuhan hadir dan meraja sehingga yang kecil dan hina dimata manusia menjadi indah dan luhur di mata Allah. Intisari dari cerita Yesus hari ini yakni bagaimana nama hendaknya mampu mewakili sebuah pribadi. Dengan demikian pribadi itulah yang justru mendapat penekanan dan bukan nama yang hanyalah sebuah tanda. Dengan demikian pribadi manusia harus mendapat tempat yang pantas dan wajar dari sebuah nama yang berwujud status, pangkat, kekayaan, ketenaran dan sebagainya. Nama yang indah dan menawan seyogianya mampu mewakili kepribadian yang menarik, penuh rasa persaudaraan dan rela berkorban untuk kebahagiaan orang lain. Persoalan selalu muncul ketika orang lebih menekankan nama yang dirangkai dalam bergama bentuk seperti pangkat, kekayaan, kecerdasan dan popularitas ketimbang pribadi yang sabar, bijaksana dan murah hati. Yesus memanggil kita seturut nama kita masing-masing untuk berkarya dan berusaha menjadikan Tuhan dan sesama sebagai tujuan pengabdian kita. Ketahuilah nama yang kita miliki tidak diberikan untuk kita gagal tetapi kita sendiri yang justru gagal merancang sebuah nama agar tetap harum dan dikenang semua orang.
Share:

Tuesday, 10 July 2012

SOAL BERJALAN

Kita semua mempunyai hasrat, kemampuan dan keharusan untuk berjalan. Berjalan berarti bergerak atau berpindah dari suatu tempat ke tempat lain dengan sebuah tujuan tertentu. Kita berjalan karena kita harus berjalan. Ketidakmampuan untuk berjalan dapat dinilai sebagai sebuah kekurangan tetapi bukan kemalangan. Seorang yang cacat atau lumpuh, secara badaniah memang tidak bisa berjalan tetapi ia tetap memiliki keinginan dan kerinduan untuk berjalan. Lalu mengapa orang harus berjalan? Hemat saya berjalan bukan karena kita harus mempergunakan karya Allah dalam sepasang kaki tetapi karena kita harus berusaha dan berkarya. Kita harus mampu menemukan cara dan bentuk baru dalam memaknai dan mempergunakan segala talenta dan buah karya Tuhan di dunia. Namun persoalan selalu muncul ketika orang selalu senang untuk berjalan dan berjalan. Lebih sedih lagi ketika perjalanan itu tanpa sebuah rencana, maksud dan orientasi yang jelas. Padahal hidup ini butuh kepastian, butuh masa depan dan butuh komitmen. Hidup ini memang sementara dan fana tetapi tetap memiliki nilai dalam satu bentuk tertentu. Kita harus bergerak atau berjalan maju karena di dunia ini tidak ada yang bersifat statis dan abadi. Waktu bergerak dan kitapun dituntut untuk berubah di dalamnya. Penginjil Matius menampilkan cerita Yesus soal kebiasaan dan aktifitas utama Yesus dalam hidupnya yakni berjalan untuk mengajar, menyembuhkan dan memberitakan injil kerajaan surga dari suatu tempat ke tempat lain atau dari suatu kota ke kota lain. Yesus berjalan karena ia harus merebut peluang agar dapat menyelamatkan sekian banyak jiwa yang melarat dan terlantar. Diceritakan bahwa ketika dalam perjalanan Yesus melihat banyak orang yang mendambakan uluran kasih-Nya, Ia tergerak oleh belaskasihan kepada mereka karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tak bergembala. Dengan demikian Yesus berjalan karena didorong oleh sebuah motifasi mulia yang bersifat tunggal yakni merangkul dan membawa semua orang pada jalan keselamatan yang telah disediakan Allah. Ia berjalan bukan bermaksud untuk mempromosikan diri atau sekadar bertamasya sambil mencari kehormatan dan ketenaran. Yesus harus berjalan, mendapatkan dan merangkul banyak orang karena tidak sedikit yang berusaha menghindar dan menjauh dari-Nya. Diakhir ceritanya, penginjil Matius menegaskan kembali motifasi Yesus berjalan dalam sebuah kalimat afirmatif yang menantang yakni, “Tuaian banyak tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian supaya ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu”. Tanpa kita sadari setiap hari kita berjalan seturut status dan peran kita. Kita berjalan bukan karena kita mampu berjalan tetapi karena tuntunan hidup. Namun motifasi dan orientasi kita untuk berjalan tentunya beragam. Ada yang berjalan karena tuntutan pekerjaan dan apnggilan hidup tetapi ada yang sekadar jalan-jalan. Tentunya kita menginginkan untuk berjalan sambil berbuat baik dan bukan sebaliknya berjalan untuk mencari kelemahan orang sembari mengambil keuntungan secara tidak halal darinya seperti mencuri atau berbagai sikap manipulatif lainnya. Dalam konteks iman perjalanan kita lazim disebut ziarah. Kita adalah kaum peziarah. Akhirnya disadari jika hidup ini dilihat sebagai sebuah perziarahan menuju keabadian. Kita bergerak dari kelemahan dan kerapuhan manusiawi kita menuju Dia yang adalah tujuan perjalanan kita yakni Tuhan sendiri. Yesus berkata “Akulah jalan, kebenaran dan kehidupan. Barangsiapa datang kepada-Ku akan mendapat keselamatan kekal”. Lalu untuk apalagi kita harus berdiam diri? untuk apalagi kita harus tetap terbelenggu pada rasa bersalah, psimis dan kehilangan motifasi untuk berjuang? Bangun dan berjalanlah sebab banyak orang menunggu kehadiran dan kreatifitas kita. Ketahuilah setiap orang yang sukses adalah pemimpi-pemimpi besar. Mereka berimajinasi tentang masa depan, berbuat sebaik mungkin, berjalan dan bekerja menuju visi ke depan yang menjadi tujuan mereka.
Share: