Wednesday, 20 July 2016

Tentang Mama ...


Terdengar kabar dari kampung. Kakak iparku mengirim pesan. Singkat saja. "Mama sakit". Begitulah mereka di kampung di sekitar bulan Februari. Kadang untuk membeli pulsa seharga 7000 rupiah saja, sulitnya minta ampun. Bukan karena malas untuk membeli tapi memang karena tidak ada uang. Sudahlah. Kalau mau bahas tentang kampungku mungkin butuh kertas ribuan lembar. Kembali tentang mama. Setelah mendapat pesan itu, tiba_tiba hariku terasa gelap. Pikiranku berantakan. Jatungku berdebar. Wajah tulus mama melintas. Wanita hebat yang pernah kukenal. Usianya memang sudah uzur. 74 tahun. HP_ku berdering dan saya semakin ketakutan. Kakak sulungku menelphon. "Mama baik_baik saja", katanya tenang. Kakak memang begitu. Dia tidak mau mencerita kesulitan atau persoalan di kampung kepada kami adik_adiknya di rantauan. Menurut kakak, lima hari terakhir ini mama selalu mengeluh kesakitan pada lambungnya. Terasa perih dan menikam. Sulit tidur dan nafsu makan berkurang. Tapi sekarang sudah agak membaik. Beberapa ramuan tradisional dari Ema Hanes terlihat mujarab. Mendengar kabar itu, mendung hatiku cerah kembali. 
Bagiku, mama adalah segalanya. Saya selalu siap melakukan apa saja untuk kebahagiaan dan kebaikan mama. Untuk nama seorang mama Margareta Naul, terasa tidak bisa diwakili ratusan bait puisi. Mama adalah matahariku. Bicara soal mama bukan berarti mengesampingkan apalagi menomorduakan bapa. Namun, untuk kali ini saya ingin fokus tentang mama. Dalam satu kesempatan, mama bercerita tentang dua buah mimpi miliknya dan sulit dilupakan. Yah...semacam mimpi terindah dan paling berkesan dalam hidupnya. Mimpi itu tentang saya dan kakak saya nomor 4. Tentang saya, mama bermimpi melewati sebuah kali. Katanya, perjalanan itu hendak ke rumah nenek. Tapi belum sampai tujuan, gelombang banjir badang mendekat. Mama histeris dan berjuang menyelamatkan diri. Pada rusuk tebing berlicin, ia berjuang sekuat tenaga menghindar. Sebuah suara tiba_tiba muncul dari puncak tebing itu. Suara orangtua yang tdk dikenalinya. "Ulurkan tanganmu". Mama terselamatkan. Kepada orang tua itu mama bertanya, "Apakah bapa melihat  Ory? Ia anak bungsuku". Ory adalah nama pertamaku. Nama kesayangan keluarga. "Kamu jalan saja. Ia ada di sana"', jawab orangtua itu. Tak lama berselang, mama mendapatiku di atas pohon yang besar. Mama tersadar kembali dari mimpinya saat saya turun mendapati mama. Mimpi ini akhirnya membuat mama selalu optimis jika suatu saat, saya bakal menjadi orang hebat walau tak harus menjadi seorang penjabat. Tanpa disadari, mimpi mama adalah hidup saya. Ketergantunganku secara psikologis pada mama sangat tinggi. Mama adalah bentuk lain dari diriku. Mama adalah "roh" yang membuatku ada dan berarti. 
Saya menghabiskan masa kecil dan Sekolah Dasar (SD) di Regho. Sebuah kampung kecil di Kabupaten Manggarai Barat_Flores. Kampung tua tempat dulu bertahta seorang Dalu (Mungkin untuk saat ini jabatan Dalu setara dengan Gubernur. Wakil pemerintah pusat di daerah)  yang membawahi beberapa wilayah kekuasaan). Di sini juga terdapat dua buah obyek wisata kebanggan Manggarai Barat. Watu Timbang Raung dan gua Nisi Ketek. Nanti saya akan ceritakan pada kalian tentang kedua obyek wisata ini. Walaupun tidak setenar Komodo tetapi kedua obyek wisata ini memiliki cerita mistik yang sarat makna. Tujuh tahun saya di bangku SD. Tahan kelas di kelas 2 SD, membuat saya trauma. Kata wali kelasku, saya belum lancar bicara dan membaca. Mama sangat meneteskan air mata saat mendengar saya tahan kelas. Hatiku teriris. Mulai saat itu, saya menjadi seorang yang sangat ambisius dan sangat mandiri. Di bangku kelas IV dan V, saya selalu mewakili sekolah untuk mengikuti perlombaan khususnya soal publik speaking (berpidato dan berpuisi) dan mengarang.  Masa SMP adalah masa tersulit dalam hidup. Sekolah sambil bekerja sebagai pemberi makanan babi di biara susteran ditambah dengan waktu liburan yang hanya sekali dalam setahun membuat saya semakin mengerti tentang kesederhanaan, kesetiaan, kemandirian dan hidup hemat. Hingga saat ini, kepada semua keponakan, mama bercerita tentang saya jika bicara mengenai beberapa hal di atas. Itulah mama. Sekali ia percaya, susah untuk dilupakan. Daya ingatnya sangat hebat. Dia mengenal baik, tentang kami dan segala macam pengalaman pribadi kami dengannya. Dia tidak mudah ditipu tetapi selalu memaafkan orang yang menipunya. 

Cerita ini tidak bisa mewakili semua hal tentang mama. Bagai matahari yang hanya tahu memberi, itulah mama untuk kami anak-anaknya. Lima bersaudara kami hadir bersama dan seorang diantara kami pergi mendahului kami ke Surga. Kepada kami, beliau menghadiahkan dua orang anak (putra dan putri). Mama baik-baik saja. Itu yang ingin saya dengar dan rasakan. Mama baik-baik saja. Tahu kenapa? Karena saat ini, saya baik-baik saja. Terima kasih mama.


Share:

Cakrawala NTT datang, Meniupkan Awan dan Menurunkan Hujan


            Labuan bajo berubah mendung. Rintik hujan datang begitu saja. Panas yang terus menikam beberapa bulan terakhir di Kota Komodo ini terhapus sudah. Para sopir taksi/bemo tersenyum  melihat banyaknya penumpang yang datang berganti. Beberapa tukang ojek berjuang merebut rezeki, tetapi sepertinya sia-sia saja. Kabut tebal kehitaman itu kini datang dalam badai hujan yang besar. Begitulah bahasa alam. Kadang sulit ditebak dalam kata musim.
Tim formator Media Pendidikan Cakrawala NTT datang, seakan membawa angin dan meniupkan awan kehitaman dari cakrawala NTT menuju Kota Komodo. Kesejukanpun terjadi. Memberi warna dan aroma ilmiah di beberapa sekolah yang menjadi binaannya.  
“Selamat datang di Labuan Bajo-Manggarai Barat kepada Pemimpin Umum Media Pendidikan Cakrawala NTT bersama para tim formator Cakrawala. Saya selaku kepala dinas PPO Manggarai Barat merasa bangga dan terhormat bisa hadir dan membuka kegiatan bermartabat ini. Pemerintah khususnya Dinas PPO Manggarai Barat selalu membuka hati bagi semua pihak yang mau memnyumbangkan potensi dan talentanya demi meningkatkan mutu pendidikan di daerah ini. Kamipun berharap, kegiatan ini dilanjutkan bukan hanya untuk beberapa sekolah dalam Kota Labuan Bajo tetapi juga untuk sekolah-sekolah lain di beberapa kecamatan dalam wilayah Manggarai Barat ini”, tandas Drs. Marten Magol, selaku Kepala Dinas PPO Manggarai Barat saat membuka kegiatan pelatihan jurnalistik dan karya ilmiah di SMPN 2 Komodo.
Tepukan tangan semakin membahana saat Pemimpin Umum Media Pendidikan Cakrawala NTT, Gusty Rikarno, S.Fil berdiri dan memberikan sambutan. Menurut Gusty, proses dari sebuah pendidikan harus selalu bemuara pada sebuah peningkatan Sumber daya Manusia (SDM) dan profesionalitas.  Karenanya input, proses dan output dari sebuah lembaga pendidikan harus dibuat dalam sebuah perencanaan yang matang, berkelanjutan dan profesional.  Media Pendidikan Cakrawala NTT hadir untuk mendukung proses pendidikan itu. Para guru harus meningkatkan profesionalismenya dalam hal menulis karya ilmiah dan para siswa dipersiapkan secara baik agar terampil dalam hal menulis.
“Budaya tutur dalam masyarakat kita sangat kuat. Tidak terkecuali dalam lingkungan sekolah. Tidak heran budaya literasi (baca-tulis) semakin pudar dan menjadi asing di kalangan guru dan siswa-siswi. Media Pendidikan Cakrawala NTT dalam rangkaian kerjasama dengan pemerintah ingin mengerakkan kembali budaya literasi tersebut. Mimpi kami besar yakni menyambut generasi emas NTT 2050 dengan membangun budaya literasi. Berharap di tahun 2050 nanti, kita hadir dalam sebuah masyarakat melek literasi. Ingat, dalam waktu 2 hari jangan berharap untuk langsung bisa menulis. Sebagaimana budaya pada umumnya membutuhkan waktu dan berproses demikian halnya budaya literasi. Karena itu, kami selalu sebuat sekolah binaan/dampingan Media Pendidikan Cakrawala NTT. Artinya, pihak Cakrawala ber-MoU dengan pihak sekolah selama tiga tahun. Setiap semester tim Cakrawala selalu datang dan mendampingi para guru dan siswa-siswi menulis”, tegas alumni Ledalero ini.
Delapan hari berada di Kota Komodo ternyata memiliki beragam cerita yang tidak pernah habis untuk dibahas. Para guru dan siswa dari empat sekolah binaan cakrawala yakni SMPN 2 Komodo, SMPN 1 Komodo, SMPN 3 Komodo dan SMPK St. Arnoldus Labuan Bajo, sangat antusias dan berharap banyak dari kegiatan ini. Cakrawala NTT ternyata bukan hanya meniupkan angin dan membawa awan berkabut hitam tetapi juga menurunkan hujan. Hujan harapan, optimisme dan pembuka cakrawala berpikir.
“Saya bersama para guru dan siswa-siswi “disentakkan” oleh terobosan produktif Media Pendidikan Cakrawala NTT. Seakan bangun dari sebuah tidur panjang tentang pentingnya meningkatkan profesionalisme dan ketrampilan dalam hal menulis. Benar yang disampaikan Pak Gusty bahwa menulis itu tidak sebatas pada pengetahuan soal menulis tetapi harus bermuara pada ketrampilan menulis. Artinya, kita berkomunikasi dalam bentuk tulisan dan tulisan itu menjadi konsumsi publik (dipublikasikan). SMPK St. Arnoldus Labuan Bajo menyatakan siap menjadi salah satu dari sekolah binaan Media Pendidikan Cakrawala NTT”, tegas Pater Cletus Nenda, selaku kepala sekolah SMPK St. Arnoldus Labuan Bajo.
Hal yang sama disampaikan kepala sekolah SMPN 2 Komodo, Ferdinandus Jelahun, S.Pd. Menurut Ferdi, kegiatan ini bukan hanya berdampak sekarang tetapi juga puluhan tahun ke depan. SMPN 2 Komodo siap menjadi salah satu sekolah binaan Media Pendidikan Cakrawala NTT karena konsep media ini sangat cerdas, realistis dan luar biasa. Bayangkan, dampak langsung dari kegiatan ini yakni kami para guru PNS bisa naik pangkat. Sementara untuk siswa-siswi dipersiapkan sejak dini agar trampil menulis. Lebih lanjut, kepala SMPN 1 Komodo, Donatus Jahan, S.Pd memberi apreasiasi tulus kepada Media Pendidikan Cakrawala NTT. Menurutnya, kegiatan semacam inilah yang mereka selalu harapkan. Kegiatan yang memberi dampak langsung kepada para guru dan siswa-siswi. Selaku kepala sekolah dan mewakili staf guru serta komite, ia menyatakan siap menjadi sekolah binaan Media Pendidikan Cakrawala NTT.
Sementara itu, Drs. Mateus Jemalu selaku kepala sekolah SMPN 3 Komodo sekaligus formator Media Pendidikan Cakrawala NTT wilayah Manggarai Barat, terus memotivasi para guru agar giat membaca dan menulis. Mateus bisa dijadikan saksi hidup tentang betapa besar peranan media ini untuk meningkatkan profesionalisme guru.
“Saya naik pangkat dari golongan VI/A ke golongan VI/B, salah satunya karena menulis di Media Pendidikan Cakrawala NTT. Karena itu sejak tahun lalu SMPN 3 Komodo sudah menjadi sekolah binaan Media Pendidikan Cakrawala NTT. Sebagai formator dari media ini di wilayah Manggarai Barat, saya juga siap mengoreksi tulisan bapa/ibu guru supaya bisa diteruskan ke redaksi. Harapan saya, bukan hanya saya yang naik ke golongan VI/B tetapi juga sekian banyak guru di Kabupaten Manggarai Barat”, tandas Mateus.  
Labuan Bajo masih mendung dan ber-hujan saat Pimpinan Umum Media Pendidikan Cakrawala NTT, take off dari bandara Komodo. Dunia pendidikan Manggarai Barat terinspirasi. Membawa cerita tentang cakrawala yang selalu datang meniup angin membawa awan dan hujan. Memberi harapan, rasa optimis dan pembuka cakrawala berpikir. Cakrawala NTT, teruslah terbang dan semakin tinggi. Go Fly, Go High.


Share:

Dari Meja, Samping Dapur


Tidak perlu menunggu punya jabatan baru melakukan sebuah perubahan. Buatlah gerakan-gerakan kecil tetapi dengan cinta yang besar. Ketahuilah, Tuhan yang kita sembah itu kaya. Dahulukanlah kepentingan dan kebaikan bersama dan kamu akan terlebur di dalamnya. Akh...tidak perlu menjadi seorang Yeremia yang melihat tanah Kanaan dari jauh. Kebenaran itu akan terkristal saat kamu mengambil bagian di dalamnya. Mengapa kamu resah saat selesai diwisuda belum mendapat kerja? Mengapa kamu ragu diusia 28 belum mendapatkan jodoh? Mengapa harus malu berada di kampung dan menanam satu-dua pohon mahoni dan kopi?
Bangkit. Kamu adalah carikan kertas berharga. Dunia menunggu gerakanmu. Tidak perlu malu berdiskusi, berbagi cerita dan saling memberi inspirasi. Tersenyumlah. Untuk apa harus murung jika di dompet hanya punya 50 ribu. Menarilah untuk tuan pesta. Minum dan makanlah. Setelah pulang ke rumah, kamu akan tersenyum sendiri saat membayangkan bagaimana tuan pesta terpingkal-pingkal bahagia melihat gerakmu.
Jika kamu ke supermarket atau mall, tersenyum untuk para pelayan di sana. Mereka tidak butuh, apakah kamu membeli atau tidak. Toh...mereka bukan pemiliknya. Tersenyum saja, itu sudah cukup membuat mereka dihargai. Jika kamu berkendaraan, tidak perlu harus cepat-cepat. Santai saja. Ingat, saat itu orang akan menilai kamu sebagai seorang yang memiliki rencana atas hidup. Jika ada yang menawarkan sapu lidi, terima saja dan katakan siapa yang membuatnya. Belilah satu-dua buah sebagai bentuk penghargaanmu atas karyanya. Berbuat baik itu, punya pahalanya lho.
Jika ada keluargamu dari kampung meminta bantuanmu, katakan padanya apa yang dia butuh dan totalnya berapa. Setelah itu, kembali ke rumah dan berdoa semoga dia dikuatkan dan ada orang yang membantunya. Kamu kan tidak bisa memberi dari apa yang tidak kamu miliki. Dunia ini memang butuh uang tetapi ingat, uang hanyalah sarana bukan tujuan. Lalu, apa yang menjadi tujuanmu? Kebahagiaan sesama dan kemuliaaan Tuhan adalah jawabannya.
Kalau kamu suka menjelekkan nama orang, apa gunanya untuk kamu. Apakah kamu akan dapat untung seperti para pembawa acara gosip di TV? Kamu akan tetap begitu dan makin hari kamu akan makin sendiri dan mungkin pingsan sendiri. Pujilah orang dengan tulus dan katakan padanya kamu hebat. Kamu akan disegarkan oleh matanya yang binar dan senyumnya yang merekah.
Aku mencintai kalian semua.
Share:

Thursday, 2 August 2012

SOAL MEMILIH


Dalam setiap pengalaman harian, kita selalu punya kesempatan dan kemampuan untuk memilih dan dipilih.Kita memilih karena kita punya wewenang atau tanggungg jawab untuk menentukan dan mungkin juga berhak untuk memutuskan. Kita memilih seorang karyawan karena kita butuh tenaga, pengalaman dan keahliannya. Sebaliknya kita dapat saja dipilih karena kemampuan yang kita miliki. Singkatnya aktifitas memilih dan dipilih sebenarnya mengarisbawahi kebutuhan dasariah manusia sebagai mahluk biasa yang harus saling melengkapi. Manusia bukanlah segalanya sehingga tidak membutuhkan kehadiaran yang lain. Selain itu kecenderungan kita untuk memilih yang terbaik, yang paling bermutu dan tahan lama adalah hal yang wajar dan logis dari segi ekonomi. Dalam hal ini kita harus membenarkan pribahasa ”Habis manis sepah dibuang”. Kita tidak mungkin terus mengunakan tenaga seseorang yang tidak produktif atau barang-barang tua yang sudah karat. Oleh karena semua orang harus tetap menunjukkan diri sebagai yang terbaik dan terhormat yang ditunjukkan dalam sikap kreatifitas yang produktif, proaktif dan memiliki daya juang tinggi. Changge or be change (berubahlah sebelum anda dirubah). Penginjil Matius hari ini menampilkan cerita Yesus, soal bagaimana aktifitas memilih dan dipilih juga berlaku dalam kehidupan surga. Sekali peristiwa Yesus bersabda kepada orang banyak, "Hal Kerajaan Surga itu seumpama pukat yang dilabuhkan di laut, lalu mengumpulkan pelbagai jenis ikan. Setelah penuh, pukat itu ditarik orang ke pantai. Lalu mereka duduk dan dipilihlah ikan-ikan itu, ikan yang baik dikumpulkan ke dalam pasu, yang buruk dibuang. Demikianlah juga pada akhir zaman. Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar. Yang jahat lalu mereka campakkan ke dalam dapur api. Di sana akan ada ratapan dan kertak gigi. Mengertikah kalian akan segala hal ini?" Orang-orang menjawab,"Ya, kami mengerti." Maka bersabdalah Yesus kepada mereka, "Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran hal Kerajaan Allah seumpama seorang tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya." Setelah selesai menyampaikan perumpamaan itu Yesus pergi dari sana. Pemilihan Tuhan berlangsung, kalau Ia memilih para rasul menurut yang dikehendaki-Nya. Pemilihan Tuhan berlangsung, kalau Ia membagi-bagi talenta yang tidak sama. Pemilihan Tuhan terjadi lagi, kalau Ia memanggil pekerja pada waktu yang berbeda-beda dan kemudian memberikan upah yang sama, berdasarkan kebaikan-Nya. Tuhan juga membiarkan "seleksi" terjadi lewat perjalanan kodrat dan perlombaan alami: ada yang dilahirkan sehat, ada yang cacat, ada yang jadi kaya, ada yang jatuh miskin, ada yang untung, ada yang malang. Permainan alam kodrat, yang dibiarkan oleh Tuhan: pilihan - penyelenggaraan - atau nasib? Pukat yang mengumpulkan berbagai-bagai jenis ikan, setelah penuh, dipilih di hadapan Tuhan: "malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dan orang benar." Kejahatan atau kebenaran itu bukan nasib, bukan Tuhan yang menghendaki, ini terjadi karena pilihan manusia sendiri. Memang panggilan bakat dan rahmat, berbeda-beda. Tuhan yang memberikan menurut kerelaan-Nya. Pemilihan atau penolakan manusia terhadap kebaikan Tuhan akan menentukan tempatnya pada akhir zaman. Semoga dihadapan terang Sabda Allah dan Roh pemberi karunia lenyaplah kegelapan dosa dan kebutaan manusia tak beriman dan semoga hati Yesus hidup dalam hati semua orang. Amin
Share:

Tuesday, 31 July 2012

SOAL PENJELASAN


Dalam kehidupan sehari-hari ada banyak hal yang membuat kita bingung dan ragu. Kita binggung dan ragu karena banyak hal atau pristiwa yang tidak jelas. Jangan tanyakan lagi kenapa tidak jelas karena hal itu sangat pribadi dan situsional. Satu hal yang bisa dibuat yakni untuk sesuatu yang membingungkan atau tidak jelas harus diberi penjelasan. Disisi lain khususnya dalam konteks filsafat, kebingungan adalah awal yang baik. Kebijaksanaan selalu berawal dari ketidakjelasan dan keaadan binggung. Hal ini mau menggarisbawahi bahwa orang tidak selalu atau selamanya dalam keadaan bingung. Jika itu yang terjadi maka rumah sakit jiwa adalah tempatnya. Kebingungan seharusnya memaksa orang untuk proaktif mencari solusi, penjelasan dan alternative. Cara tepat yang mesti ditempuh yakni dengan bertanya. Bertanya dan terus bertanya adalah cirikhas seorang yang cerdas dan bukan tanda seorang yang otak lemah. Seseorang akan bertanya dan terus bertanya, mungkin hingga sang maut menjemputnya. Orang bertanya karena hidup itu sendiri adalah sebuah pertanyaan abadi. Bukankah tidak ada yang tetap dan mutlak benar di bawah matahari? Penginjil Matius hari ini menampilkan kebingungan para muris yang Nampak dalam pertanyaan mereka kepada Yesus. Mereka bingung dan meminta penjelasan lanjut dari sang Guru soal perumpamaan ilalang di antara gandum. Mereka bingung karena bagaimana mungkin seorang petani harus membiarkan gandum dan ilalang tumbuh bersama. Apakah petani itu memang terlampau bodoh sehingga ia tidak membutuhkan hasil dari kerjanya. Ketika orang banyak pulang, para murid bertanya kepada Yesus ”Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu.” Yesus menjawab, kata-Nya: ”Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia; ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan dan lalang anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman dan para penuai itu malaikat. Maka seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman. Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malai¬kat-Nya dan mereka akan mengumpulkan se¬ga¬la sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratap¬an dan kertakan gigi. Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti mata¬hari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa ber¬telinga, hendaklah ia mendengar!” Yesus rupanya sangat menghargai permintaan tulus para murid. Ia menjawab pertanyaan para murid dengan penjelasan yang sangat jelas dan konkrit. Menurut Yesus petani yang menabur benih itu tidak sebodoh yang dibayangkan. Ilalang yang ada tumbuh di antara gandum tersebut adalah tindakan si jahat. Si petani atau Anak Manusia sengaja membiarkan anak-anak cahaya dan antek-antek setan berada bersama dalam sebuah ladang dunia. Mereka ada bersama bukan untuk saling mengisi dan melengkapi tetapi saling berkompotisi untuk mempertahankan jati dirinya masing-masing. Dalam kebersaman, gandum tidak mungkin berubah menjadi Ilalang ataupun sebaliknya tetapi sangat mungkin gandum bermental ilalang. Tidak heran bila pada akhirnya Malaikat Tuhan masih bisa membedakan gandum atau ilalang. Di sini celah pertobatan masih ada. Anak-anak cahaya atau kerajaan dikumpulkan dalam surge dan antek-antek setan dijerumuskan dalam neraka untuk dibakar. Apakah kita mampu menangkap penjelasan ini? Seorang pemuda nekad mencuri di sebuah perumahan mewah lantaran desakan ekonomi. Namun, nasib sial menimpanya. Ia tertangkap tangan, lalu dihakimi oleh warga sekitar yang geram karena ulah nekat pemuda itu. Untung saja petugas kepolisian berhasil mencegah tindakan anarkis massa yang main hakim sendiri ini. Nyawa pemuda itu dapat diselamatkan. Pemuda itu tidak menaburkan benih baik, tetapi benih jahat. Maka, hasil yang dia terima bukanlah pujian atau sanjungan melainkan cercaan dan hujatan. Siapa pun yang menabur kebaikan akan mendapat hal yang baik. Begitu pun sebaliknya. Upah amal kasih dan perbuatan baik adalah surga; upah dosa adalah maut! Orang-orang berdosa hidup di bawah bimbingan Iblis dan kuasa kegelapan dunia ini, sementara orang yang baik hidup di bawah bimbingan Roh Allah sendiri. Orang berdosa akan dikumpulkan, lalu dicampakkan ke dalam neraka jahanam; di sana akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Orang yang baik menikmati sukacita abadi bersama Allah di surga. Yesus dalam Injil hari ini dengan sangat jelas melukiskan semuanya ini, tetang apa yang akan terjadi dengan hidup kita kelak. Apakah kita dicampakkan ke dalam neraka ataukah beroleh hidup bahagia di surga, semua tergantung pada kita yang menjalaninya. Karena hidup digerakkan oleh tujuan, maka pilihan akhirat kita menentukan sikap dan perilaku kita saat ini. Oleh karena itu saudara/iku, jangan pernah membingungkan diri sendiri oleh berbagai sikap acuh tak acuh, angkuh, gila harta dan pangkat. Tetapi sekiranya situasi hidup menghadapkan kalian pada sebuah kebingungan, bertanyalah pada Yesus dalam doa maka kamu akan memperoleh jawaban dan penjelasan yang sangat lengkap sehingga dapat membedakan yang baik dan jahat, yang benar dan salah. Semoga dihadapan terang Sabda Allah dan Roh pemberi karunia lenyaplah kegelapan dosa dan kebutaan manusia tak beriman dan semoga hati Yesus hidup dalam hati semua orang. Amin
Share:

Monday, 30 July 2012

SOAL MENANAM

Mananam adalah kata yang biasa dan sering dipraktekkan. Kita menanam dengan sebuah tujuan dan harapan agara apa yang ditanam tersebut dapat tumbuh dan menghasilkan sesuatu. Petani mananam tanaman entah tanaman jangka pendek ataupun jangka panjang, pengusaha mengadakan survey pada sebuah perusahan untuk ikut menanam modal atau saham di dalamnya, Pemimpin dan pengurus partai politik sibuk menebar pesona untuk bisa menanam kepecayaan masyarakat. Singkatnya kita menanam agar dapat memanen. Bukan hanya satu kali lipat tetapi berlipat-lipat ganda. Namun demikian berbicara tentang menanam tidak terlepas dari peranan orang yang menanam, benih yang ditanam dan tempat serta waktu kapan benih itu ditanam. Tanaman pohon cendana misalnya, memiliki peluang untuk tumbuh jika ditanam oleh seorang petani yang berpengalaman diatas lahan yang subur pada saat menjelang musim hujan. Sebaliknya menanam tanaman cendana dalam lahan yang kritis dan musim yang salah oleh seorang kontraktor yang nota bene “awan” soal pertanian sudah pasti tidak berhasil. Selain itu jenis dan kualitas benih, harus mendapat perhatian lebih dalam hal menanam. Benih yang baik selalu berpeluang besar untuk tumbuh dan menghasilkan buah. Sebaliknya jenis benih yang kriput dan kerdil biasanya tidak bertahan dalam sebuah iklim yang garang. Singkatnya, menanam mengandaikan adanya peranan dari yang menanam, jenis tanaman, tempat atau lahan serta iklim yang mendukung. Penginjil Matius hari ini menampilkan cerita soal bagaimana Yesus membentangkan suatu per-um¬pamaan kepada para pendengar-Nya. Yesus berkata: ”Hal Kerajaan Surga itu seum¬pama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar daripada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang ber¬sarang pada cabang-cabangnya.” Dan Ia men-ceritakan perumpamaan ini juga kepada mereka: ”Hal Kerajaan Surga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya.” Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatu pun tidak disampaikan-Nya kepada mereka, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi: ”Aku mau membuka mulut-Ku mengatakan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan.” Kegiatan menabur dan menanam memiliki maksud yang sama atas cara yang beda. Menabur selalu mendahului kegiatan menanam. Atau dengan kata lain kita dapat menanam dari apa yang sebelumnya kita taburkan. Dalam konteks cerita biblis hari ini, pada dasarnya Tuhan sudah menabur benih Sabda dalam hati nurani kita. Tugas kita yang tersisa yakni menanam benih Sabda tersebut secara kreatif dalam produktif dalam hati sesama di sekitar kita. Pertumbuhan pohon sesawi dipakai Yesus untuk menggambarkan pertumbuhan iman kita. Iman yang semakin bertumbuh dan berkembang, suatu saat akan menghasilkan buah yang melimpah. Jika buah melimpah panenan pasti banyak; jika panenan banyak, pasti banyak para pendatang. Bagaikan pohon sesawi yang didatangi banyak burung, untuk berteduh, sekadar singgah, membuat rumah bahkan mencari makan pada pohon itu juga. Ragi juga menjadi salah satu gambaran yang baik untuk melukiskan kharisma iman dalam hidup seseorang. Ragi itu tampak tidak berarti dan tidak kelihatan, namun ia menyusup masuk ke seluruh adonan dan memengaruhi dari dalam sehingga adonan itu berkembang besar dan enak. Iman yang ada dalam diri seseorang itu bagai ragi yang bekerja diam-diam, dari dalam, memengaruhi seluruh hidup seseorang. Namun, seperti ragi, harus diaduk dulu ke dalam tepung sampai merata semuanya supaya dapat bekerja efektif, demikianpun iman harus diolah dengan baik dan dirawat supaya bisa efektif memengaruhi hidup kita secara keseluruhan. Yesus telah menabur benih iman ke dalam diri kita. Betapa Ia sangat mengharapkan iman itu bertumbuh bagai biji sesawi, dan efektif memengaruhi seluruh hidup kita bagai ragi, sehingga menjadi semakin berkualitas dan bermanfaat. Maka, mari kita merawat iman kita dan mengolah kehidupan rohani kita agar senantiasa menghasilkan buah yang baik dan berlimpah. Semoga dihadapan terang Sabda Allah dan Roh pemberi karunia lenyaplah kegelapan dosa dan kebutaan manusia tak beriman dan semoga hati Yesus hidup dalam hati semua orang. Amin
Share: