Bagi seorang yang memegang prinsip, hidup butuh kepastian maka sudah hampir pasti ia memiliki target atau rencana. Karena itu selalu ada hal yang menjadi prioritas dalam hidup dan karya. Seorang yang baru menamatkan bangku kulian tentunya memiliki prioritas untuk segera mendapat pekerjaan sementara seorang yang sudah bekerja tentunya memiliki prioritas untuk segera mendapat pasangan hidup. Singkatnya prioritas adalah hal yang utama atau yang menjadi pusat perhatian untuk dapat diwujudkan. Seorang yang tidak memiliki prioritas dalam hidup adalah dia yang tidak memiliki target atau rencana hidup. Bila itu yang terjadi maka hidup tidak lebih dari sebuah biduk yang tanpa nahkoda. Tidak memiliki arah atau cita-cita untuk diraih. Oleh karena itu hidup harus memiliki prioritas atau hal yang diutamakan. Kebanyakan diantara kita menjadikan prioritas hidup untuk berjuang agar selalu unggul dalam banyak hal seperti kelimpahan ekonomi, status atau pangkat, ketenaran dan nama besar. Hal itu adalah wajar-wajar saja sejauh tidak menghambat pikiran dan hati kita untuk selalu terarah pada sebuah prioritas hidup yang paling esensial yakni kehidupan eskatologis. Sebuah kehidupan baru setelah perziarahan kita di dunia ini. Tuhan adalah prioritas akhir dari sekian banyak prioritas hidup yang kita rencanakan.
Penginjil Matius hari ini menampilkan cerita Yesus, soal prioritas dalam hidup keagamaan. Yesus menekankan agar selalu memprioritaskan Allah dan manusia dalam setiap bentuk dan ragam hidup beriman. Atau dengan kata lain Allah dan manusia harus menjadi target atau sasaran utama bukan memprioritaskan beragama jenis dogma keagamaan atau tradisi nenek moyang yang justru menghambat seseorang dalam mewujudkan jati diri yang sesungguhnya. Diceritakan, ketika para murid Yesus memetik gandum pada hari sabat, orang Farisi tiba-tiba merasa risih hingga spontan mengkleim kepada Yesus. “Lihatlah para murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat”. Yesus menegaskan anak manusia adalah Tuhan pada hari sabat. Dengan demikian Yesus hendak menegaskan kalau diri-Nya menjadi prioritas bukan tunduk pada berbagai macam jenis dogma atau aturan yang dibuat manusia.
Dalam keseharian hidup kita ada banyak hal yang kita perjuangkan. Dengan demikian banyak juga yang menjadi prioritas kita ke depan. Namun dari semua prioritas itu apakah kita masih menomorduakan Tuhan dari yang lain? Apakah kita lebih mengutamakan kerja kita ketimbang menyisihkan waktu untuk bertemu Tuhan dalam doa, ibadah dan perayaan ekaristi? Apakah kita lebih senang menghabiskan banyak uang di meja judi atau tempat hiburan lainnya ketimbang menyumbangkan sedikit yang kita miliki bagi saudara-saudara kita yang menderita kelaparan? Semua jawabannya, ada dalam hati dan pikiran kita sendiri. kita yang memutuskan apa yang menjadi prioritas dalam hidup kita? apakah uang? harta benda? pangkat? nama besar? Atau Tuhan dan sesama? Ketahuilah saudara/i-ku, kita masih diberi waktu untuk menentukan sikap kita apakah memprioritaskan Allah dan sesama atau diri sendiri dan ambisi pribadi kita. Semoga dihadapan terang Sabda Allah dan Roh pemberi karunia lenyaplah kegelapan dosa dan kebutaan manusia tak beriman dan semoga hati Yesus hidup dalam hati semua orang. Amin
Friday, 20 July 2012
Thursday, 19 July 2012
SOAL CURHAT
Hampir tidak ada cara yang lebih bijaksana untuk meringankan beban pikiran dan rasa selain ber-curhat. Curhat adalah bukti nyata keberadaan manusia sebagai homo socius atau mahluk sosial. Manusia mampu dan seharusnya berelasi dengan orang lain dalam beragam cara termasuk ber-curhat. Dengan demikian curhat adalah hal yang wajar dan pantas dibuat oleh semua orang baik laki-laki maupun perempuan. Selain itu mencurahkan isi hati kepada orang lain tentunya berkaitan erat soal kepercayaan, kedekatan dan keakraban. Semakin kita merasa dekat, akrab dan yakin bahwa seseorang mampu menjaga rahasia persoalan kita maka semakin besar keinginan kita untuk berbagi cerita dengan orang tersebut. Biasanya orang berbagi isi hati menyangkut persoalan luar biasa dalam hidup termasuk beban hidup pribadi atau keluarga.
Di negara-negara maju seperti Jepang kasus bunuh diri sangat tinggi. Hal ini terjadi karena relasi yang dibangun adalah relasi kepentingan bukan relasi personal. Orang sibuk dengan pekerjaan dan dirinya sendiri. Maka ketika terjadi persoalan orang merasa ditinggalkan sendiri. Tidak ada orang yang mau atau diyakini dapat mencurahkan isi hati. Persoalan yang sekian berat akan mengakibatkan depresi, stress dan berakhir pada tindakan bunuh diri. Sikap seorang yang tertutup atau introvert sangat berbahaya jika tidak bisa mengekpresikan perasaannya secara kreatif. Jauh dari semuanya itu saya hanya mau mengatakan bahwa mencurakan isi hati adalah cara bijaksana, pantas dan wajar untuk meringankan beban pikiran dan perasaan. Persoaln baru muncul ketika orang yang kita yakin mampu menjaga rahasia hati kita bersikap plin-plan dan membocorkan semuanya itu kepada orang lain. Jika itu terjadi kepada siapakah kita harus percaya???
Penginjil Matius hari ini menampilkan cerita Yesus soal keterbukaan hatinya untuk menerima dan member solusi bagi semua orang yang mengalami persoalan dan beban dalam hidup. Yesus berkata “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-ku pun ringan." Dengan demikain Yesus mengajak kita untuk menjadikan-Nya sebagai temapat kita mencurahkan segal isi hati dan beban hidup kita. Kita tidak perlu takut untuk dikhinati atau masalah kita diketahui banyak orang. Yesus adalah Tuhan yang senantiasa mendengar keluh kesah dan rintihan hati kita. Dalam dan melalui Yesus kita dapat belajar soal kesabaran, kekuatan untuk bertahan dalam berbagai situasi hidup dan kepasrahan yang total pada kehendak Allah.
Hari ini kita semua diundang Yesus untuk datang dan belajar kepada-Nya, Yesus ingin mengajarkan kita kembali tentang pentingnya kebijaksaan dan kerendahan hati dalam menyikapi berbagai persoalan dalam hidup ini. Ia ingin kita mengikuti-Nya dan belajar dari pada-Nya bagaimana menyelesaikan masalah tanpa mempergunakan cara-cara kekerasan yang hanya akan berbuah ketidakbahagiaan dan ketidaktenangan. Yang kedua adalah Yesus ingin kita kembali dan datang kepada-Nya. Kita seringkali terhimpit beban berat khususnya dalam masalah ekonomi dimana berbagai kebutuhan hidup terus melambung tinggi dan kadang sulit terjangkau oleh orang-orang "kecil'. Demikian halnya yang bermasalah dengan dosa-dosa berat yang menghimpit hati dan pikiran sehingga selalu menjadi bayang-bayang dalam keseharian kita. Saudara/iku, melalui gereja Yesus telah memberikan kuasa untuk mengampuni dosa-dosa kita melalui Sakramen pengakuan dosa dan ini meruapakn sebuah karunia tak terhingga bagi kita dari Yesus yang Maharahim untuk memberikan kita pengampunan dan kelegaan pada segenap hati dan pikiran. Semoga dihadapan terang Sabda Allah dan Roh pemberi karunia lenyaplah kegelapan dosa dan kebutaan manusia tak beriman dan semoga hati Yesus hidup dalam hati semua orang. Amin
Wednesday, 18 July 2012
SOAL BERSYUKUR
Dalam hidup ini kita selalu mempunyai seribu satu alasan untuk bersyukur. Kita pantas dan wajib bersyukur karena hidup ini anugerah semata. Sebagai sebuah anugerah, kita tidak mempunyai wewenang untuk menentukan keberadaan hidup kita termasuk soal kelahiran dan kematian. Kapan dan bagaimana seseorang lahir atau meninggal, semuanya berada dalam sebuah misteri abadi. Sebagai seorang beriman kita yakin dan percaya, Tuhan adalah penyelenggara kehidupan Manusia. Tuhan adalah alva dan omega, sumber sekaligus tujuan akhir perziarahan hidup manusia. Tanpa kehadiran dan campur tangan Tuhan, kita hanyalah bayang-bayang yang tanpa makna dan tujuan. Oleh karena itu, ungkapan syukur kita dalam doa, amal dan puasa bukanlah sebuah rutunitas belaka sebagai seorang beragama tetapi sebagai kewajiban dan keharusan yang dijalani penuh kesadaran. Sebuah fakta yang mencemaskan akhir-akhir ini yakni banyak orang yang mempolitisi agama. Kosekuensinya jelas, iman dijadikan sebagai sebuah kesenian semata yang penuh permainan dan sandiwara. Syukur bukan lagi menjadi kata kehidupan yang mengalir dari hati tetapi hanyalah sebuah pertunjukan batiniah yang sarat kepentingan. Padahal bersyukur kepada Tuhan harus nampak dalam sebuah sikap hidup yang tulus karena respek yang tinggi kepada yang Ilahi.
Penginjil Matius hari ini menampilkan cerita Yesus soal suka cita-Nya dalam sebuah nada syukur. Yesus bersyukur kepada bapa-Nya di surga yang telah menyatakan kebesaran-Nya dalam pribadi-pribadi yang sederhana yang kelihatan kecil di mata dunia. Yesus berdoa dengan menyapa Allah sebagai Bapa: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil.” Yesus bersyukur karena Allah menyembunyikan semuanya bagi orang bijak-pandai dan menyingkapkan bagi orang kecil. Orang bijak artinya terpelajar/berilmu; orang pandai artinya pintar/inteligen; orang kecil artinya belum berilmu. Orang bijak-pandai mengklaim berpengetahuan mendalam tentang Allah; orang kecil merasa tidak tahu banyak tentang Allah, tetapi mengakui kehadiran Allah dalam diri Yesus. Karena itu bagi orang-orang kecil dinyatakan “semuanya itu”. Semuanya itu berkenaan dengan Bapa yang mempercayakan segala sesuatunya kepada Yesus, yaitu kuasa sebagaimana dimiliki-Nya sendiri. Karena misteri Allah yang tak mungkin dimiliki siapapun itu ada pada Yesus, maka hanya Yesus dapat mengenal sepenuhnya Bapa dan hanya Bapa dapat mengenal sepenuhnya Dia.
Mengenal bukan saja berarti mengetahui, tetapi suatu intimitas yang menciptakan relasi khusus antar dua pribadi. Karena itu pula hanya Yesus dapat menyingkapkan sepenuhnya diri Bapa dan hanya orang yang kepadanya Ia berkenan menyatakannya dapat mengenal Bapa. Dalam hidup kita setiap hari, terkadang kita mengetahui diri sebagai seorang beragama tetapi sedikit sekali yang mengenal diri sebagai orang beriman. Kosekuensinya kita hanya bersyukur atas semua pristiwa hidup yang menyenangkan dan membahagiakan. Sedikit sekali bahkan tidak pernah kita menerima semua pengalaman pahit atau menyakitkan dengan sedikit rasa syukur. Kita kerapkali mengutuki diri dan mempertanyakan kekuasaan dan penyelenggaraan Tuhan dalam hidup kita. Kita diajak untuk semakin mengenal diri dan kuasa Tuhan atas hidup kita dan senantisa bersyukur dalam segala situasi hidup yang kita alami baik yang mengembirakan maupun yang menyakitkan. Yesus mengajarkan kita untuk selalu bersyukur dalam Roh sebab kita memang terlahir untuk bersyukur. Ketahuilah, sebuah hati yang tidak tahu bersyukur adalah hati yang tidak mengenal diri dan sudah pasti tidak mengenal Allah. Bersyukurlah selalu sebelum anda dihakimi oleh diri anda sendiri sebagai pribadi yang tidak tahu diri karena tidak mengenal diri. Semoga dihadapan terang Sabda Allah dan Roh pemberi karunia lenyaplah kegelapan dosa dan kebutaan manusia tak beriman dan semoga hati Yesus hidup dalam hati semua orang. Amin
Tuesday, 17 July 2012
SOAL KEKUATAN KATA
Kata bukan hanya apa yang tertulis dan yang terucap tetapi apa yang dihidupi. Semakin ada kesesuaian antara apa yang ditulis atau yang diucapakan dengan apa yang dihidupi maka kata akan lebih bermkna dan memiliki kekuatan dalam dirinya sendiri. Dengan ini mau menegaskan bahwa kata berbeda dengan bicara. Atau dengan kata lain berbicara banyak belum tentuk mengatakan sesuatu. Saya, anda dan kita sekalian seringkali mengunakan kata, baik lisan maupun tulisan untuk menyampaikan pesan, kata hati atau pikiran kita kepada orang lain. Semakin sederhana dan jelas kata kata yang digunakan maka semakin mudah pesan tersebut dipahami dan dimengerti orang lain. Sebaliknya semakin luas, rumit dan berbelit-belit kata yang dipakai maka sangat besar peluang adanya interpretasi beragam, multi tafsir dan bukan tidak mungkin berujung pada kesalahapahaman dan konflik. Akhir-akhir ini, dalam arena politik kata-kata kehilangan kekuatannya. Kata-kata bukan lagi membantu orang untuk menyatukan perbedaan pendapat, mengeratkan relasi dan membangun rasa persaudaraan dan solidaritas tetapi dijadikan sebagai sarana untuk membalikkan banyak fakta dan kebenaran. Lebih parah lagi ketika banyak calon pemimpin atau pemimpin yang mudah memilih kata-kata biblis untuk membenarkan dan mendukung banyak tindakan korup dan manipulatif. Melihat semua kenyataan ini apakah kita masih mempersalahkan keberadaan sebuah lidah yang tidak bertulang?
Penginjil Matius menampilkan kecaman Yesus atas beberapa kota yang tidak mau bertobat sekalipun di situ Yesus melakukan banyak mukjizat. Yesus mengunakan kata “celakalah” untuk mewakili rasa kecewa mendalam atas keangkuhan dan kepongahan manusia yang makin lupa diri dan bahkan tidak tahu diri. Kata “celaka” adalah kata kutukan yang dalam arti lebih ringan berarti tidak mendapat berkat, selalu mendapat nasib malang, tidak pernah sukses dalam tugas dan karya serta tidak mendapat tempat dalam kerajaan Allah. Selain itu celaka berarti mendapat kemalangan atau mengalami nasib sial serta kematian tragis. Mungkin kita bertanya, bukankah Yesus seorang utusan Allah yang berkelimpahan dalam hal pengampunan dan kesabaran. Mengapa IA justru mengutuk manusia yang seharusnya diselamatkan karena sudah merupakan tujuan tunggal kehadiran-Nya. Atas pertanyaan ini tentunya kita harus kembali pada konteks yang lebih konkrit dan manusiawi. Kota Korazim dan Betsaida bisa saja gambaran sebuah hati yang terlanjur kaku dan keras sehingga sulit untuk dilunakkan lagi. Tidak ada cara yang paling tampan selain menggetarkannya dalam satu bentuk seperti nasib sial dan malang. Dengan demikian setiap pengalaman pahit dalam hidup bukan tanda ketidakhadiran Allah atau sisi lain dari kebaikan Allah tetapi bentuk penyadaran agar kita mengenal kata tobat. Kata celaka, tobat dan berbahagia sebenarnya satu garis lurus yang saling bersinggungan.
Tidak terhitung, berapa banyak dan jenis kata yang tertulis dan terucap dari bibir kita setiap hari. Terkadang kita berbicara banyak tetapi hampir tidak mengatkan sesuatu. Artinya kata-kata yang kita lontarkan tidak memiliki dampak lebih bagi orang lain. Kata-kata kita bisa saja menjadi suara hambar yang tak bermakna, bisa juga menjadi melodi penuh arti atau bisa berupa pedang yang siap menusuk kalbu. Kata-kata kita menjadi tawar ketika apa yang kita ucapkan tidak sepadan dengan apa yang kita lakukan. Orang yang plin-plan, cari muka dan munafik akan masuk dalam kategori ini. Selain itu kata-kata bisa berubah dalam bentuk sebuah pedang yang menusuk dan mengoyakkan nurani dan akal sehat. Orang yang mendengar kata-kata kita terluka, kecewa dan bisa saja menjadi beringas dan sadis. Tetapi kata-kata akan menjadi sebuah melodi indah saat kita tahu memuji, meneguhkan, memberi rasa aman dan tenang. Banyak yang mengatakan”Mulutmu adalah harimaumu” tetapi mulut tetap merupakan salah satu bagian tubuh yang lugu dan biasa selama tetap diam dan tidak mengatakan apa-apa. Yang membuat mulut itu menjadi harimau adalah kata-kata yang kita ucapkan. Ketahuilah kata-kata adalah manifestasi dari sebuah suasana jiwa, nurani dan akal budi. Semakin terampil dalam menulis dan peka dalam menyampikan sesuatu maka semakin jernih dan jelas isi hati dan pikiran seseorang. Gunakanlah kata-kata seperlunya sesuai kebutuhan, situasi dan konteks sosial masyarakat agar kat-akata tetap memiliki kekuatan yang mampu merangkul, memberdaya dan memberi isnpirasi kepada orang lain tentang perdamaian, persaudaraan dan solidaritas. Semoga dihadapan terang Sabda Allah dan Roh pemberi karunia lenyaplah kegelapan dosa dan kebutaan manusia tak beriman dan semoga hati Yesus hidup dalam hati semua orang. Amin
Saturday, 14 July 2012
SOAL MENJADI GURU
Jika kita pernah mendengar atau melihat sendiri pengalaman seorang guru yang mengajar di sebuah sekolah, maka dalam waktu 10 tahun kemudian guru itu dapat melihat murid-muridnya yang berhasil memiliki berbagai macam profesi pekerjaan, pangkat dan status pendidikan. Ada yang menjadi dokter, insinyur, designer, programer dan macam-macam lainnya. Tentunya guru tadi masih setia mengajar murid-murid dengan keadaannya yang demikian itu. Mungkin alasan itulah gelar pahlawan tanpa tanda jasa disematkan pada seorang guru. Profesi sebagai guru sebenarnya tidak pantas diukur dengan sejumlah gaji, tunjangan dan dana pensiunan. Guru lebih tepat bila dihubungan dengan soal keteladanan, keuletan, ketabahan dan pengorbanan. Perikop hari ini menampilkan cerita Yesus soal status seorang guru dan murid. Yesus mengajarkan bahwa “Seorang murid tidak melebihi gurunya, dan seorang hamba tidak melebihi tuannya”. Apakah dengan ini Yesus mau mempertahankan status quo, gengsi dan wibawa seorang guru? Atas dasar apa dan dari segi mana seorang murid tidak dapat melebihi gurunya?
Yesus mengutus para murid-Nya untuk memberitakan datangnya Kerajaan Sorga (10:7). Dalam melaksanakan tugas mewartakan Kerajaan Sorga itu, mereka akan mengalami penolakan (10:14). Tugas yang mereka terima itu bukanlah tugas yang mudah dan ringan karena mereka akan “seperti domba di tengah serigala” (10:16). Inti nasihat Yesus kepada para murid-Nya ini adalah supaya mereka tidak takut kepada siapa pun yang menolak dan menentang mereka dan Kerajaan Sorga yang mereka wartakan. Karena, Tuhan akan memperhatikan dan memelihara mereka. Nasihat Yesus ini senada dengan keyakinan Yeremia: Tuhan yang mengutus dan yang diabdinya akan menjaga dan memelihara para utusan-Nya. Yesus mengetahui bahwa para murid-Nya akan menghadapi semua itu. Karena itu, Yesus menasihati mereka untuk tidak takut kepada semua yang menolak dan menentang mereka, bahkan yang dapat membunuh mereka. Karena, mereka hanya dapat membunuh tubuh, tetapi tidak akan dapat membinasakan jiwa. Tuhan, untuk siapa mereka bekerja, jauh lebih berkuasa daripada semua itu karena Ia dapat membinasakan tubuh dan sekaligus jiwa. Tuhan tidak akan membiarkan mereka terlantar dan menderita. Burung pipit pun berharga di hadapan Allah dan diperhatikan-Nya, apalagi mereka yang bekerja untuk-Nya.
Selain itu Yesus ingin menandaskan bahwa aneka macam kesusahan, penderitaan, tantangan, cobaan yang akan kita alami jika kita bandingkan dengan penderitaan Yesus sendiri, maka sebenarnya apa yang kita alami itu masih belum ada apa-apanya. Artinya ialah, apa pun yang kita lakukan jika kita percaya dalam nama Yesus, maka kita akan mendapat perlindungan-Nya senantiasa. Kita tidak perlu merasa takut atau bahkan merasa tidak berdaya jika menghadapi sebuah tantangan atau cobaan hidup yang berat. Karena hidup kita sebenarnya sudah mendapat jaminan di dalam nama Yesus. Maka sikap terbaik yang perlu kita bangun ialah kita mau menyerahkan diri kita sepenuhnya terhadap karya Allah yang turut bekerja di dalam hidup kita, membiarkan diri kita dibimbing oleh-Nya dalam setiap rentetan peristiwa kehidupan kita. Marilah kita dari hari ke hari semakin peka terhadap karya Allah yang senantiasa menuntun hidup kita dalam menghadapi setiap tantangan dan perjuangan dalam hidup kita untuk memperoleh kebahagiaan. Semoga dihadapan terang Sabda Allah dan Roh pemberi karunia lenyaplah kegelapan dosa dan kebutaaan manusia tak beriman dan semoga hati Yesus hidup dalam hati semua orang. Amin
Friday, 13 July 2012
SOAL PENDERITAAN
Berbicara soal penderitaan sebenarnya tidak terlepas dari cerita soal kebahagiaan. Penderitaan dan kebahagiaan laksana dua bua buah mata uang yang sulit untuk dilepaskan dari satu dengan yang lain. Bandingkan filsafat Cina soal Yin dan Yang yang menegaskan bahwa dalam dunia ini ada dua hal yang bersifat kontradiksi dan tidak bisa dilepaspisahkan seperti adanya siang dan malam, terang dan gelap, panas dan dingin, hidup dan mati, air mata dan tawaria dan sebagainya. Sebagaimana kita berhak menerima kebahagiaan maka kita seharus terbuka juga untuk menerima penderitaan dalam beragam bentuk.
Dalam dunia modern yang serba kompleks, banyak orang menjadi alergi dengan berbagai masalah dan penderitaan hidup. Berbagai kasus bunuh diri dan banyaknya penghuni rumah sakit jiwa menegaskan kenyataan ini. Namun di lain pihak tidak sedikit orang melihat penderitaan sebagai sebuah garis tangan atau takdir yang harus ditanggung. Allah seakan-akan sudah menentukan semua itu dari semula. Padahal banyal soal atau penderitaan menuntut perjuangan kita untuk mencari solusi yang tepat dan benar.
Penginjil Matius menampilkan cerita Yesus soal awasannya akan penganiayaan yang akan datang oleh karena pengakuan dan iman kita akan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan penyelamat. Kepada para murid-Nya Yesus memberi pesan : Lihat aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala yang selalu siap untuk mengejar, menerkam dan menyesah tetapi jangan takut Roh Kudus tetap menyertai kamu. Dia akan membelamu dihadapan segala lawanmu”. Dengan demikian memilih untuk menjadi murid Yesus butuh pertanggungjawaban dan pengorbanan. Iman harus dipertanggungjawabkan dalam satu cara termasuk dalam berbagai jenis penderitaan. Sebagaimana Yesus rela terentang antara langit dan dibumi di atas palang salib demikian halnya para murid dan semua yang menyebut diri Kristiani. Tetapi ingat, siapa yang bertahan dalam penderitaan ia kan selamat.
Allah memiliki suatu tujuan dibalik berbagai persoalan dan masalah. Dia mengunakan keadaan-keadaan sulit untuk mengembangkan karakter dan iman kita. Yesus sudah memperingatkan bahwa kita akan menghadapi berbagai penderitaan hidup dan tidak ada seorangpun yang kebal terhadap penderitaan. Kehidupan ini adalah serangkaian masalah dan penderitaan. Setiap kali kita berusaha memecahkan satu masalah, masalah lain sudah menanti untuk muncul. Memang tidak semua masalah itu besar tetapi sangat penting untuk kita renungkan dan maknai demi kematangan iman dan karakter kita. Rupa-rupanya Allah memakai masalah-masalah untuk menarik kita dekat kepada-Nya. Kitab Suci menulis bahwa Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati dan menyelamatkan orang-orang yang remuk redam hatinya. Ketahuilah saudara/saudariku beragam persoalan dan penderitaan mendorong kita untuk memandang Allah dan bergantung pada-nya dan bukan diri kita sendiri. Anda tidak akan pernah mengetahui bahwa Allah itu satu-satunya yang anda butuhkan sebelum Allah menjadi satu-satunya yang anda miliki. Apapun penyebabnya, tidak ada satupun maslah atau penderitaan yang terjadi tanpa seizin Allah. Cara bijaksana dari sebuah kualitas iman yang mendalam adalah dengan menyerahkan dan menyatukan penderitaan kita dengan penderitaan Kristus. Teguhkan hatimu dan angkatlah matamu sebab di sana ada cinta yang siap merangkul dan merangkai hatimu yang luka. Semoga dihadapan terang Sabda Allah dan Roh pemberi karunia lenyaplah kegelapan dosa dan kebutaan manusia tak beriman dan semoga hati Yesus hidup dalam hati semua orang. Amin.