Friday, 22 July 2016

Dear Thilda

Sudah dua malam sekembali menghantarmu di tempat tugas, saya sendiri di rumah. Televisi itu menemaniku. Datang membawa beragam berita dan program acara. Kubiarkan tetap hidup, saat saya menyibukkan diri mencuci piring dan pakaian. Saya sudah mengisi kulkas dengan berbagai jenis makanan dan sayuran. Beberapa orang ibu di pasar mulai mengenalku. “Istri bapak di mana? Pak masih bujang ya? Aduh... kasihan. Kenapa tidak cari pembantu saja? Itulah sederet pertanyaan yang sudah terbiasa kudengar. Tersenyum saja, sudah cukup membuat mereka diam. Beberapa tahun sebelum bersamamu, saya selalu bangun pukul 08.00 pagi. Tetapi tidak untuk sekarang. Saya mulai menirumu. Bangun pukul 05.30 dan langsung duduk berdoa. Sayang, selama ini belum ada yang datang bertamu. Biskuit kongguan itu masih utuh. Mungkin ada yang berpikir, pak Gusty itu orangnya sibuk sehingga tidak datang bertamu. Atau, mereka sibuk ya? Sudahlah, nanti saya telphon beberapa teman dekatku dan mengundang mereka datang di rumah kita.
Dear Thilda ...
            Mengingat dirimu, membuat saya tersenyum sendiri. Kamu punya segudang cara untuk menghiburku. Kadang kamu membuat diri tanpak konyol hanya supaya saya bisa terpingkal-pingkal. Bagiku, kamu itu bukan hanya seorang istri tetapi juga adik perempuan dan sahabat sekaligus. Hmmm....teringat kembali hari bahagia kita beberapa bulan lalu. Bersumpah, untuk sehidup-semati di hadapan Tuhan dan umat-Nya. Rasanya seperti mimpi. Tapi, ini nyata. Kamu adalah jawaban atas doa-doa kecilku. Awal Desember 2015 kita bertemu dan memutuskan menikah menjelang paskah 2016. Empat bulan kita berpacaran saat kamu hadir dengan segala kekurangan dan kelebihanku. Kamu adalah akhir pencarianku. Satu hal yang selalu membuatku bangga ketika kita mau mengakui bahwa kekurangmu akan menjadi kelebihanku dan kelebihanmu adalah kekuranganku.
Dear Thilda ...
Cincin nikah ini masih melingkar di jari manisku. Aku akan membawanya hingga maut datang menjemput. Ada namamu terukir di sana. Saat bersama ke sekolahmu beberapa hari lalu, anak-anak datang memberi salam. “Selamat pagi ibu guru”. Hatiku bergetar. Kamu adalah seorang istri dan guru. Rasa bangga dan haru padamu menjadi satu. Sayang, saya tahu tugas menjadi seorang guru itu tidak mudah. Kamu mengajar dan mendidik anak dari berbagai latar belakang kehidupan. Yah...Satu bulan lagi anak kita lahir. Kamu akan membagi waktu untuk mengajar dan mendidik anak kita dengan anak-anak didikmu di sekolah.
Dear Thilda ...

            Kupang dan Kefamenanu bukanlah sebuah jarak yang dekat. Waktu tempu empat jam setiap akhir pekan, bukanlah perkara mudah. Tapi, apakah itu yang membuatku mengeluh dan enggan mengunjungimu? Tidak. Saya akan terus menghitung jam dan hari untuk segera bertemu dengamu. Dalam sendiriku di sini, hanya ada satu nama. Dan itu adalah namamu. Aku akan tetap menunggu waktu itu tiba. Bersamamu di kota ini selamanya. Sesuai pesanmu, saya akan selalu menghindari makanan berminyak, minum air putih yang banyak dan mengkonsumsi buah-buahan. Jaga kesehatanmu dan bayi kita. Rinduku selalu untukmu ...
Share:

GERHANA DI MATAMU

Mobil traver Timor Oeste meluncur perlahan membelah bentara tanah Timor yang rata dan yang ditaburi bukit-bukit berpadang sabana. Dipinggir jalan selalu disirami wangi cendana yang harum semrbak. Perlahan-lahan matahari turun seakan hendak menciup kaki langit di ufuk barat, semantara remang senja merayap dan kurasa bagaikan tangan ajaib meraba kulitku dan tiba-tiba meremas hatiku. Alunan lagu Tetun-portu berdengung halus dan membuat aku terbuai untuk masuk ke alam mimpi sehingga tidak mengetahui kehadiran seseorang di sampingku. Lama aku tertidur sampai akhirnya aku tersadar ketika mobil mini itu di hadang oleh sebuah tikungan tajam dan membuat kepalaku menyentuh lembut bahu kanannya. Ketika mengangkat mata dan membuka mata, jantungku berdetak kencang oleh beragam perasaan yang menggerogoti hatiku. Untuk kedua kalinya aku menggosok kelopak mataku sampai aku sungguh yakin kalau yang berada di sampingku sungguh seorang anak manusia yang amat cantik dan manis. Dari sekian tempat yang kukunjungi, baru kali ini aku melihat gadis seperti bidadari yang turun dari khayangan. Kecantikannya seakan menjadi sempurna ketika kaca mata mungil berminus satu setengah bertengger di ats hidungnya yang mancung.
Namun ada seseuatu yang terpancar dari balik kaca bening itu, sayu dan hampa seakan menyimpan segudang duka, kecewa dan sakit hati yang amat dalam. Kuakui bahwa diriku seorang yang amat rileks dan dalam waktu sedetikpun aku dapat bergaul dengan seseorang meskipun belum kukenal sebelumnya. Tetapi kali ini aku sungguh tak mampu dan hampir menyerah untuk memperkenalkan diri padanya. Suasana dalam mobil itu sangat hening dan sesekali aku mendengar klaksosn mobil itu menyapa setiap tikungan yang dilewatinya. Aku berusaha untuk kembali memejamkan mata tetapi setiap kali aku mencobanya seketika itu juga muncullah niat untuk memandang matanya itu. Akhirnya dengan keberanian yang tersisa akau berani membuka percakapan dan di dahului dengan gesekan kaki dan batuk-batuk ringan sekadar menarik perhatiannya. “Hai...kamu hendak ke mana?” tanyaku sekenanya. Ia menatapku dengan tajam disertai raut wajah yang serius seperti mengganggu naga yang sedang tertidur pulas. “Apa urusanmu dengan aku? Ke mana aku pergi tidak terlalu penting buatmu. Atau mobil ini milik moyangmu sehingga harus mengetahui tujuanku?”. Demikian suaranya hadir dan membuat aku bingung dan cengar-cengir karena malu. Dengan pengetahuan yang ada aku berusaha tenang.
Keheningan kembali hadir dalam mobil itu, hingga kemudian ia melanjutkan lagi. “Mengapa kamu harus repot denganku? Apa kamu suadah tidak ada kerja lagi? Apa kamu berpikir kebebasan ini hanya milikmu?” Dengan sedikit membuang muka ia terus mengumpatku. “Semua laki-laki memnag sama, Tak berperasaan. Yang ada pada dirinya hamyalah keegoisan, kesombongan, keserakahan dan hatinya dibekukan oleh nafsu yang mengebu-ngebu”. Aku diam dan tenang tapi tetap menunjukkan sikap sebagai pendengar yang baik walau telingaku terasa panas seperti disiram arang api kusambi yang membara. Sekali lagi ia menatapku dan berkata “Mengapa engaku diam? Apaka engaku berpikir bahwa yang berbicra padamu hanyalah seorang perempuan dan boneka yang bisa dipermaikan kapan saja kamu mau?” Aku menarik nafas sejenak dan berusaha berbicara tanpa menamba luka yang ada di hatinya. “Hidup ini terasa singkat untuk memikirkan amarah, kebencian, kecewa dan dendam. Sebuah titik hitam tidak dapat mempengaruhi putihnya sebuah kertas. Dan bila orang membenci titik hitam itu dan berusaha menyangkalinya maka ia menyangkali kemanusiaannya sendiri. Aku hanya mau mengatakan kalau kamu jatuh pada generalisasi. Sejahat-jahatnya seseorang namun ia masih memiliki hati untuk mencinta sebab ia terlahir karena cinta dan setiap pribadi itu selalu unik dan berbeda”. Ia tunduk dan diam seakan tak punya kata-kata lagi sebab naluri perasaan kewanitaannya mengambil alih jalan pikirannya. Tak lama kemudia butiran bening meluncur dari kelopak matanya yang diiringi isak tangis yang membuat om sopir sesekali menoleh ke arah kami.
Aku menatapnya dan berusaha untuk tidak terbawa oleh perasaannya, kemudian melanjutkan lagi. “Setiap orang memiliki ziarah hidup. Memiliki pengalaman masa lalu yang pahit dan menyakitkan yang terbingkai dalam bentuk luka batin yang amat mendalam. Tetapi ketahuilah bahwa di dunia ini tidak ada yang abadi termasuk suka batin itu sendiri. Semua itu akan berlalu asalkan kita membiarkan DIA yang adalah kekal dan Esa yakni Tuhan, untuk menjamah dan menyembuhkan kita dengan sikap penyerahan yang total pada penyelenggaraanNya dan dijadikanNya ziarah hidup kita sebagi Ziarah keselamatan”. Ia tetap tunduk kemudian membersihkan bola matanya dan mengangkat kepala serta mentapku denga tatapan mata yang berbinar-binar penuh ketenagan, kepuasan dan kedamaian. “Maaf yah? kalau aku harus melempiaskan kekecewaan dan sakit hatiku pada kamu. Aku sungguh merasa kepedihan yang amat dalam karena dikecewakan oleh orang yang sudah kurasa dekat dan amat mengerti aku dan kehidupanku. Dia adalah Willy, kekasih yang paling kucintai. Tatapi entah kenapa ia memutuskan hubungan yang terjalin selam lima tahun secara sepihak tanpa meberi alasan yang jelas padaku. Namun kini aku sadar, kalau aku telah membuat hidup ini menjadi sulit dan menyakitkan. Terima kasih yah....karena engaku telah menyadarkan aku”. ujarnya penuh keterbukaan.
Kini untuk prtama kalinya ia mempersembahkan padaku sebuah senyuman indah dan menakjubkan. “Oh yah.....namaku Echik. Mahasisiwi semester VI di Stikes Wirahusada, Yogyakarta. Untuk sementara aku kembali ke rumah oleh bencana yang mengguncang Yogya sebeminggu yang lalu”. Aku menyambut uluran tangannya dengan penuh persahabatan. “Aku Anis, sang pemburu berita”.
Ia kembali tersenyum dan makin akrab denganku sambil mensheringkan pengalaman-pengalaman terindah yang pernah kami alami. Ia semakin tenang dan rileks. Sebuah pojok di jantung kota Karang Kupang seakan menghadang mobil yang berukuran dua kali lima meter itu. Ia berdiri dan meraup tasnya sambil menatapku. Begitu dalam dan penuh arti. Ia menyodorkan sebuah kartu nama dan alamatnya padaku. “Aku bahagia bila selalu berada di sampingmu”. katanya lembut. Kemudian ia turun dan menyelusup masuk ke halaman rumah yang berlantai dua itu. Mobil mini itupun kembali meluncur setelah aku sempat membalas lambaian tangannya.
Share:

Wednesday, 20 July 2016

Tentang Mama ...


Terdengar kabar dari kampung. Kakak iparku mengirim pesan. Singkat saja. "Mama sakit". Begitulah mereka di kampung di sekitar bulan Februari. Kadang untuk membeli pulsa seharga 7000 rupiah saja, sulitnya minta ampun. Bukan karena malas untuk membeli tapi memang karena tidak ada uang. Sudahlah. Kalau mau bahas tentang kampungku mungkin butuh kertas ribuan lembar. Kembali tentang mama. Setelah mendapat pesan itu, tiba_tiba hariku terasa gelap. Pikiranku berantakan. Jatungku berdebar. Wajah tulus mama melintas. Wanita hebat yang pernah kukenal. Usianya memang sudah uzur. 74 tahun. HP_ku berdering dan saya semakin ketakutan. Kakak sulungku menelphon. "Mama baik_baik saja", katanya tenang. Kakak memang begitu. Dia tidak mau mencerita kesulitan atau persoalan di kampung kepada kami adik_adiknya di rantauan. Menurut kakak, lima hari terakhir ini mama selalu mengeluh kesakitan pada lambungnya. Terasa perih dan menikam. Sulit tidur dan nafsu makan berkurang. Tapi sekarang sudah agak membaik. Beberapa ramuan tradisional dari Ema Hanes terlihat mujarab. Mendengar kabar itu, mendung hatiku cerah kembali. 
Bagiku, mama adalah segalanya. Saya selalu siap melakukan apa saja untuk kebahagiaan dan kebaikan mama. Untuk nama seorang mama Margareta Naul, terasa tidak bisa diwakili ratusan bait puisi. Mama adalah matahariku. Bicara soal mama bukan berarti mengesampingkan apalagi menomorduakan bapa. Namun, untuk kali ini saya ingin fokus tentang mama. Dalam satu kesempatan, mama bercerita tentang dua buah mimpi miliknya dan sulit dilupakan. Yah...semacam mimpi terindah dan paling berkesan dalam hidupnya. Mimpi itu tentang saya dan kakak saya nomor 4. Tentang saya, mama bermimpi melewati sebuah kali. Katanya, perjalanan itu hendak ke rumah nenek. Tapi belum sampai tujuan, gelombang banjir badang mendekat. Mama histeris dan berjuang menyelamatkan diri. Pada rusuk tebing berlicin, ia berjuang sekuat tenaga menghindar. Sebuah suara tiba_tiba muncul dari puncak tebing itu. Suara orangtua yang tdk dikenalinya. "Ulurkan tanganmu". Mama terselamatkan. Kepada orang tua itu mama bertanya, "Apakah bapa melihat  Ory? Ia anak bungsuku". Ory adalah nama pertamaku. Nama kesayangan keluarga. "Kamu jalan saja. Ia ada di sana"', jawab orangtua itu. Tak lama berselang, mama mendapatiku di atas pohon yang besar. Mama tersadar kembali dari mimpinya saat saya turun mendapati mama. Mimpi ini akhirnya membuat mama selalu optimis jika suatu saat, saya bakal menjadi orang hebat walau tak harus menjadi seorang penjabat. Tanpa disadari, mimpi mama adalah hidup saya. Ketergantunganku secara psikologis pada mama sangat tinggi. Mama adalah bentuk lain dari diriku. Mama adalah "roh" yang membuatku ada dan berarti. 
Saya menghabiskan masa kecil dan Sekolah Dasar (SD) di Regho. Sebuah kampung kecil di Kabupaten Manggarai Barat_Flores. Kampung tua tempat dulu bertahta seorang Dalu (Mungkin untuk saat ini jabatan Dalu setara dengan Gubernur. Wakil pemerintah pusat di daerah)  yang membawahi beberapa wilayah kekuasaan). Di sini juga terdapat dua buah obyek wisata kebanggan Manggarai Barat. Watu Timbang Raung dan gua Nisi Ketek. Nanti saya akan ceritakan pada kalian tentang kedua obyek wisata ini. Walaupun tidak setenar Komodo tetapi kedua obyek wisata ini memiliki cerita mistik yang sarat makna. Tujuh tahun saya di bangku SD. Tahan kelas di kelas 2 SD, membuat saya trauma. Kata wali kelasku, saya belum lancar bicara dan membaca. Mama sangat meneteskan air mata saat mendengar saya tahan kelas. Hatiku teriris. Mulai saat itu, saya menjadi seorang yang sangat ambisius dan sangat mandiri. Di bangku kelas IV dan V, saya selalu mewakili sekolah untuk mengikuti perlombaan khususnya soal publik speaking (berpidato dan berpuisi) dan mengarang.  Masa SMP adalah masa tersulit dalam hidup. Sekolah sambil bekerja sebagai pemberi makanan babi di biara susteran ditambah dengan waktu liburan yang hanya sekali dalam setahun membuat saya semakin mengerti tentang kesederhanaan, kesetiaan, kemandirian dan hidup hemat. Hingga saat ini, kepada semua keponakan, mama bercerita tentang saya jika bicara mengenai beberapa hal di atas. Itulah mama. Sekali ia percaya, susah untuk dilupakan. Daya ingatnya sangat hebat. Dia mengenal baik, tentang kami dan segala macam pengalaman pribadi kami dengannya. Dia tidak mudah ditipu tetapi selalu memaafkan orang yang menipunya. 

Cerita ini tidak bisa mewakili semua hal tentang mama. Bagai matahari yang hanya tahu memberi, itulah mama untuk kami anak-anaknya. Lima bersaudara kami hadir bersama dan seorang diantara kami pergi mendahului kami ke Surga. Kepada kami, beliau menghadiahkan dua orang anak (putra dan putri). Mama baik-baik saja. Itu yang ingin saya dengar dan rasakan. Mama baik-baik saja. Tahu kenapa? Karena saat ini, saya baik-baik saja. Terima kasih mama.


Share:

Cakrawala NTT datang, Meniupkan Awan dan Menurunkan Hujan


            Labuan bajo berubah mendung. Rintik hujan datang begitu saja. Panas yang terus menikam beberapa bulan terakhir di Kota Komodo ini terhapus sudah. Para sopir taksi/bemo tersenyum  melihat banyaknya penumpang yang datang berganti. Beberapa tukang ojek berjuang merebut rezeki, tetapi sepertinya sia-sia saja. Kabut tebal kehitaman itu kini datang dalam badai hujan yang besar. Begitulah bahasa alam. Kadang sulit ditebak dalam kata musim.
Tim formator Media Pendidikan Cakrawala NTT datang, seakan membawa angin dan meniupkan awan kehitaman dari cakrawala NTT menuju Kota Komodo. Kesejukanpun terjadi. Memberi warna dan aroma ilmiah di beberapa sekolah yang menjadi binaannya.  
“Selamat datang di Labuan Bajo-Manggarai Barat kepada Pemimpin Umum Media Pendidikan Cakrawala NTT bersama para tim formator Cakrawala. Saya selaku kepala dinas PPO Manggarai Barat merasa bangga dan terhormat bisa hadir dan membuka kegiatan bermartabat ini. Pemerintah khususnya Dinas PPO Manggarai Barat selalu membuka hati bagi semua pihak yang mau memnyumbangkan potensi dan talentanya demi meningkatkan mutu pendidikan di daerah ini. Kamipun berharap, kegiatan ini dilanjutkan bukan hanya untuk beberapa sekolah dalam Kota Labuan Bajo tetapi juga untuk sekolah-sekolah lain di beberapa kecamatan dalam wilayah Manggarai Barat ini”, tandas Drs. Marten Magol, selaku Kepala Dinas PPO Manggarai Barat saat membuka kegiatan pelatihan jurnalistik dan karya ilmiah di SMPN 2 Komodo.
Tepukan tangan semakin membahana saat Pemimpin Umum Media Pendidikan Cakrawala NTT, Gusty Rikarno, S.Fil berdiri dan memberikan sambutan. Menurut Gusty, proses dari sebuah pendidikan harus selalu bemuara pada sebuah peningkatan Sumber daya Manusia (SDM) dan profesionalitas.  Karenanya input, proses dan output dari sebuah lembaga pendidikan harus dibuat dalam sebuah perencanaan yang matang, berkelanjutan dan profesional.  Media Pendidikan Cakrawala NTT hadir untuk mendukung proses pendidikan itu. Para guru harus meningkatkan profesionalismenya dalam hal menulis karya ilmiah dan para siswa dipersiapkan secara baik agar terampil dalam hal menulis.
“Budaya tutur dalam masyarakat kita sangat kuat. Tidak terkecuali dalam lingkungan sekolah. Tidak heran budaya literasi (baca-tulis) semakin pudar dan menjadi asing di kalangan guru dan siswa-siswi. Media Pendidikan Cakrawala NTT dalam rangkaian kerjasama dengan pemerintah ingin mengerakkan kembali budaya literasi tersebut. Mimpi kami besar yakni menyambut generasi emas NTT 2050 dengan membangun budaya literasi. Berharap di tahun 2050 nanti, kita hadir dalam sebuah masyarakat melek literasi. Ingat, dalam waktu 2 hari jangan berharap untuk langsung bisa menulis. Sebagaimana budaya pada umumnya membutuhkan waktu dan berproses demikian halnya budaya literasi. Karena itu, kami selalu sebuat sekolah binaan/dampingan Media Pendidikan Cakrawala NTT. Artinya, pihak Cakrawala ber-MoU dengan pihak sekolah selama tiga tahun. Setiap semester tim Cakrawala selalu datang dan mendampingi para guru dan siswa-siswi menulis”, tegas alumni Ledalero ini.
Delapan hari berada di Kota Komodo ternyata memiliki beragam cerita yang tidak pernah habis untuk dibahas. Para guru dan siswa dari empat sekolah binaan cakrawala yakni SMPN 2 Komodo, SMPN 1 Komodo, SMPN 3 Komodo dan SMPK St. Arnoldus Labuan Bajo, sangat antusias dan berharap banyak dari kegiatan ini. Cakrawala NTT ternyata bukan hanya meniupkan angin dan membawa awan berkabut hitam tetapi juga menurunkan hujan. Hujan harapan, optimisme dan pembuka cakrawala berpikir.
“Saya bersama para guru dan siswa-siswi “disentakkan” oleh terobosan produktif Media Pendidikan Cakrawala NTT. Seakan bangun dari sebuah tidur panjang tentang pentingnya meningkatkan profesionalisme dan ketrampilan dalam hal menulis. Benar yang disampaikan Pak Gusty bahwa menulis itu tidak sebatas pada pengetahuan soal menulis tetapi harus bermuara pada ketrampilan menulis. Artinya, kita berkomunikasi dalam bentuk tulisan dan tulisan itu menjadi konsumsi publik (dipublikasikan). SMPK St. Arnoldus Labuan Bajo menyatakan siap menjadi salah satu dari sekolah binaan Media Pendidikan Cakrawala NTT”, tegas Pater Cletus Nenda, selaku kepala sekolah SMPK St. Arnoldus Labuan Bajo.
Hal yang sama disampaikan kepala sekolah SMPN 2 Komodo, Ferdinandus Jelahun, S.Pd. Menurut Ferdi, kegiatan ini bukan hanya berdampak sekarang tetapi juga puluhan tahun ke depan. SMPN 2 Komodo siap menjadi salah satu sekolah binaan Media Pendidikan Cakrawala NTT karena konsep media ini sangat cerdas, realistis dan luar biasa. Bayangkan, dampak langsung dari kegiatan ini yakni kami para guru PNS bisa naik pangkat. Sementara untuk siswa-siswi dipersiapkan sejak dini agar trampil menulis. Lebih lanjut, kepala SMPN 1 Komodo, Donatus Jahan, S.Pd memberi apreasiasi tulus kepada Media Pendidikan Cakrawala NTT. Menurutnya, kegiatan semacam inilah yang mereka selalu harapkan. Kegiatan yang memberi dampak langsung kepada para guru dan siswa-siswi. Selaku kepala sekolah dan mewakili staf guru serta komite, ia menyatakan siap menjadi sekolah binaan Media Pendidikan Cakrawala NTT.
Sementara itu, Drs. Mateus Jemalu selaku kepala sekolah SMPN 3 Komodo sekaligus formator Media Pendidikan Cakrawala NTT wilayah Manggarai Barat, terus memotivasi para guru agar giat membaca dan menulis. Mateus bisa dijadikan saksi hidup tentang betapa besar peranan media ini untuk meningkatkan profesionalisme guru.
“Saya naik pangkat dari golongan VI/A ke golongan VI/B, salah satunya karena menulis di Media Pendidikan Cakrawala NTT. Karena itu sejak tahun lalu SMPN 3 Komodo sudah menjadi sekolah binaan Media Pendidikan Cakrawala NTT. Sebagai formator dari media ini di wilayah Manggarai Barat, saya juga siap mengoreksi tulisan bapa/ibu guru supaya bisa diteruskan ke redaksi. Harapan saya, bukan hanya saya yang naik ke golongan VI/B tetapi juga sekian banyak guru di Kabupaten Manggarai Barat”, tandas Mateus.  
Labuan Bajo masih mendung dan ber-hujan saat Pimpinan Umum Media Pendidikan Cakrawala NTT, take off dari bandara Komodo. Dunia pendidikan Manggarai Barat terinspirasi. Membawa cerita tentang cakrawala yang selalu datang meniup angin membawa awan dan hujan. Memberi harapan, rasa optimis dan pembuka cakrawala berpikir. Cakrawala NTT, teruslah terbang dan semakin tinggi. Go Fly, Go High.


Share:

Dari Meja, Samping Dapur


Tidak perlu menunggu punya jabatan baru melakukan sebuah perubahan. Buatlah gerakan-gerakan kecil tetapi dengan cinta yang besar. Ketahuilah, Tuhan yang kita sembah itu kaya. Dahulukanlah kepentingan dan kebaikan bersama dan kamu akan terlebur di dalamnya. Akh...tidak perlu menjadi seorang Yeremia yang melihat tanah Kanaan dari jauh. Kebenaran itu akan terkristal saat kamu mengambil bagian di dalamnya. Mengapa kamu resah saat selesai diwisuda belum mendapat kerja? Mengapa kamu ragu diusia 28 belum mendapatkan jodoh? Mengapa harus malu berada di kampung dan menanam satu-dua pohon mahoni dan kopi?
Bangkit. Kamu adalah carikan kertas berharga. Dunia menunggu gerakanmu. Tidak perlu malu berdiskusi, berbagi cerita dan saling memberi inspirasi. Tersenyumlah. Untuk apa harus murung jika di dompet hanya punya 50 ribu. Menarilah untuk tuan pesta. Minum dan makanlah. Setelah pulang ke rumah, kamu akan tersenyum sendiri saat membayangkan bagaimana tuan pesta terpingkal-pingkal bahagia melihat gerakmu.
Jika kamu ke supermarket atau mall, tersenyum untuk para pelayan di sana. Mereka tidak butuh, apakah kamu membeli atau tidak. Toh...mereka bukan pemiliknya. Tersenyum saja, itu sudah cukup membuat mereka dihargai. Jika kamu berkendaraan, tidak perlu harus cepat-cepat. Santai saja. Ingat, saat itu orang akan menilai kamu sebagai seorang yang memiliki rencana atas hidup. Jika ada yang menawarkan sapu lidi, terima saja dan katakan siapa yang membuatnya. Belilah satu-dua buah sebagai bentuk penghargaanmu atas karyanya. Berbuat baik itu, punya pahalanya lho.
Jika ada keluargamu dari kampung meminta bantuanmu, katakan padanya apa yang dia butuh dan totalnya berapa. Setelah itu, kembali ke rumah dan berdoa semoga dia dikuatkan dan ada orang yang membantunya. Kamu kan tidak bisa memberi dari apa yang tidak kamu miliki. Dunia ini memang butuh uang tetapi ingat, uang hanyalah sarana bukan tujuan. Lalu, apa yang menjadi tujuanmu? Kebahagiaan sesama dan kemuliaaan Tuhan adalah jawabannya.
Kalau kamu suka menjelekkan nama orang, apa gunanya untuk kamu. Apakah kamu akan dapat untung seperti para pembawa acara gosip di TV? Kamu akan tetap begitu dan makin hari kamu akan makin sendiri dan mungkin pingsan sendiri. Pujilah orang dengan tulus dan katakan padanya kamu hebat. Kamu akan disegarkan oleh matanya yang binar dan senyumnya yang merekah.
Aku mencintai kalian semua.
Share:

Thursday, 2 August 2012

SOAL MEMILIH


Dalam setiap pengalaman harian, kita selalu punya kesempatan dan kemampuan untuk memilih dan dipilih.Kita memilih karena kita punya wewenang atau tanggungg jawab untuk menentukan dan mungkin juga berhak untuk memutuskan. Kita memilih seorang karyawan karena kita butuh tenaga, pengalaman dan keahliannya. Sebaliknya kita dapat saja dipilih karena kemampuan yang kita miliki. Singkatnya aktifitas memilih dan dipilih sebenarnya mengarisbawahi kebutuhan dasariah manusia sebagai mahluk biasa yang harus saling melengkapi. Manusia bukanlah segalanya sehingga tidak membutuhkan kehadiaran yang lain. Selain itu kecenderungan kita untuk memilih yang terbaik, yang paling bermutu dan tahan lama adalah hal yang wajar dan logis dari segi ekonomi. Dalam hal ini kita harus membenarkan pribahasa ”Habis manis sepah dibuang”. Kita tidak mungkin terus mengunakan tenaga seseorang yang tidak produktif atau barang-barang tua yang sudah karat. Oleh karena semua orang harus tetap menunjukkan diri sebagai yang terbaik dan terhormat yang ditunjukkan dalam sikap kreatifitas yang produktif, proaktif dan memiliki daya juang tinggi. Changge or be change (berubahlah sebelum anda dirubah). Penginjil Matius hari ini menampilkan cerita Yesus, soal bagaimana aktifitas memilih dan dipilih juga berlaku dalam kehidupan surga. Sekali peristiwa Yesus bersabda kepada orang banyak, "Hal Kerajaan Surga itu seumpama pukat yang dilabuhkan di laut, lalu mengumpulkan pelbagai jenis ikan. Setelah penuh, pukat itu ditarik orang ke pantai. Lalu mereka duduk dan dipilihlah ikan-ikan itu, ikan yang baik dikumpulkan ke dalam pasu, yang buruk dibuang. Demikianlah juga pada akhir zaman. Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar. Yang jahat lalu mereka campakkan ke dalam dapur api. Di sana akan ada ratapan dan kertak gigi. Mengertikah kalian akan segala hal ini?" Orang-orang menjawab,"Ya, kami mengerti." Maka bersabdalah Yesus kepada mereka, "Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran hal Kerajaan Allah seumpama seorang tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya." Setelah selesai menyampaikan perumpamaan itu Yesus pergi dari sana. Pemilihan Tuhan berlangsung, kalau Ia memilih para rasul menurut yang dikehendaki-Nya. Pemilihan Tuhan berlangsung, kalau Ia membagi-bagi talenta yang tidak sama. Pemilihan Tuhan terjadi lagi, kalau Ia memanggil pekerja pada waktu yang berbeda-beda dan kemudian memberikan upah yang sama, berdasarkan kebaikan-Nya. Tuhan juga membiarkan "seleksi" terjadi lewat perjalanan kodrat dan perlombaan alami: ada yang dilahirkan sehat, ada yang cacat, ada yang jadi kaya, ada yang jatuh miskin, ada yang untung, ada yang malang. Permainan alam kodrat, yang dibiarkan oleh Tuhan: pilihan - penyelenggaraan - atau nasib? Pukat yang mengumpulkan berbagai-bagai jenis ikan, setelah penuh, dipilih di hadapan Tuhan: "malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dan orang benar." Kejahatan atau kebenaran itu bukan nasib, bukan Tuhan yang menghendaki, ini terjadi karena pilihan manusia sendiri. Memang panggilan bakat dan rahmat, berbeda-beda. Tuhan yang memberikan menurut kerelaan-Nya. Pemilihan atau penolakan manusia terhadap kebaikan Tuhan akan menentukan tempatnya pada akhir zaman. Semoga dihadapan terang Sabda Allah dan Roh pemberi karunia lenyaplah kegelapan dosa dan kebutaan manusia tak beriman dan semoga hati Yesus hidup dalam hati semua orang. Amin
Share: