Wednesday, 11 July 2012

SOAL NAMA

Semua orang mempunyai nama dan seharusnya mempunyai nama. Nama adalah tanda (nomen is omen). Sebagai sebuah tanda, nama adalah gambaran diri seseorang. Nama juga berhubungan erat dengan sistem kekerabatan. Kita bisa mengenal asal-usul seseorang, entah soal suku, agama maupun tempat asal dari nama yang disandangnya. Dengan demikian, apapun nama yang dimiliki seseorang adalah baik dalam dirinya sendiri khususnya bagi yang bersangkutan. Implikasi lanjutnya yakni kita tidak berhak untuk mengantikan nama seseorang atau bergonta-ganti nama. Dalam arus zaman yang serba anonim, kecenderungan untuk bergonta-ganti nama sangat tinggi dan dilihat sebagai sebuah trend baru yang sangat digandrungi. Seseorang bisa memiliki beberapa nama sekaligus. Di satu tempat misalnya dipanggil Peter dan ditempat lain dipanggil Mahmud, atau di satu kota dipanggil mas Joko dan di kota lain dipanggil bung Nadus. Singkatnya nama bukan lagi tanda tetapi gaya. Di lain pihak banyak orang yang sibuk mencari nama. Nama akhirnya bukan hanya tanda atau gaya tetapi juga soal popularitas, harga diri dan kehormatan. Tidak heran ada yang berani mempertaruhkan segala yang dimilikinya hanya untuk sebuah nama agar dikenal oleh sebanyak mungkin orang. Penginjil Matius hari ini menampilkan cerita Yesus tentang bagaimana Yesus memanggil orang-orang pilihannya seturut nama yang dimilikinya. Petrus, Andreas, Yokobus anak Zebedeus, Yohanes, Filipus, Bertolomeus, Thomas, Matius, Tadeus, Simon, Yokobus anak Alfeus dan Yudas Iskariot. Kedua nama ini adalah figure-figur pilihan yang kemudian disebut kedua belas rasul. Mereka dipanggil dalam sebuah nama yang bersifat unik, khas dan asli. Kepada mereka Yesus menitipkan pesan agar jangan menyimpang ke jalan bangsa lain melainkan pergi untuk mendapatkan domba-domba yang hilang dari umat Israel. “Pergilah dan beritakanlah, kerajaan Surga sudah dekat”. Mungkin pertanyaan lanjut yakni mengapa hanya dua belas orang untuk sebuah tugas yang sangat besar yakni memberitakan kerajaan Allah ke seluruh dunia? Mengapa harus memilih Yudas Iskariot yang kemudian terbukti mengkhianati gurunya sendiri? Mengapa dipilih nama-nama dari kalangan bawah yang minim dan terbatas dalam hal akademis dan management? Pertanyaan-pertanyaan ini dinilai wajar dan lumrah. Dua belas nama yang dipilih Yesus dapat mewakili dua belas suku Israel dan pengkhianatan Yudas iskariot dapat dilihat sebagai simbol kerapuhan dan ketidaksetiaan manusia pada rencana dan kehendak Allah. Yesus memilih nama-nama dari kalangan bawah mau menujukkan bahwa dihadapan Allah semua orang sama. Keunggulan dalam bidang akademis dan kelimpahan harta kekayaan bukanlah jaminan untuk terlaksananya tugas yang diberikan Yesus untuk mewartakan kasih dan cinta Tuhan. Hanya dalam hati yang rendah dan mau berkorban, Tuhan hadir dan meraja sehingga yang kecil dan hina dimata manusia menjadi indah dan luhur di mata Allah. Intisari dari cerita Yesus hari ini yakni bagaimana nama hendaknya mampu mewakili sebuah pribadi. Dengan demikian pribadi itulah yang justru mendapat penekanan dan bukan nama yang hanyalah sebuah tanda. Dengan demikian pribadi manusia harus mendapat tempat yang pantas dan wajar dari sebuah nama yang berwujud status, pangkat, kekayaan, ketenaran dan sebagainya. Nama yang indah dan menawan seyogianya mampu mewakili kepribadian yang menarik, penuh rasa persaudaraan dan rela berkorban untuk kebahagiaan orang lain. Persoalan selalu muncul ketika orang lebih menekankan nama yang dirangkai dalam bergama bentuk seperti pangkat, kekayaan, kecerdasan dan popularitas ketimbang pribadi yang sabar, bijaksana dan murah hati. Yesus memanggil kita seturut nama kita masing-masing untuk berkarya dan berusaha menjadikan Tuhan dan sesama sebagai tujuan pengabdian kita. Ketahuilah nama yang kita miliki tidak diberikan untuk kita gagal tetapi kita sendiri yang justru gagal merancang sebuah nama agar tetap harum dan dikenang semua orang.
Share:

Tuesday, 10 July 2012

SOAL BERJALAN

Kita semua mempunyai hasrat, kemampuan dan keharusan untuk berjalan. Berjalan berarti bergerak atau berpindah dari suatu tempat ke tempat lain dengan sebuah tujuan tertentu. Kita berjalan karena kita harus berjalan. Ketidakmampuan untuk berjalan dapat dinilai sebagai sebuah kekurangan tetapi bukan kemalangan. Seorang yang cacat atau lumpuh, secara badaniah memang tidak bisa berjalan tetapi ia tetap memiliki keinginan dan kerinduan untuk berjalan. Lalu mengapa orang harus berjalan? Hemat saya berjalan bukan karena kita harus mempergunakan karya Allah dalam sepasang kaki tetapi karena kita harus berusaha dan berkarya. Kita harus mampu menemukan cara dan bentuk baru dalam memaknai dan mempergunakan segala talenta dan buah karya Tuhan di dunia. Namun persoalan selalu muncul ketika orang selalu senang untuk berjalan dan berjalan. Lebih sedih lagi ketika perjalanan itu tanpa sebuah rencana, maksud dan orientasi yang jelas. Padahal hidup ini butuh kepastian, butuh masa depan dan butuh komitmen. Hidup ini memang sementara dan fana tetapi tetap memiliki nilai dalam satu bentuk tertentu. Kita harus bergerak atau berjalan maju karena di dunia ini tidak ada yang bersifat statis dan abadi. Waktu bergerak dan kitapun dituntut untuk berubah di dalamnya. Penginjil Matius menampilkan cerita Yesus soal kebiasaan dan aktifitas utama Yesus dalam hidupnya yakni berjalan untuk mengajar, menyembuhkan dan memberitakan injil kerajaan surga dari suatu tempat ke tempat lain atau dari suatu kota ke kota lain. Yesus berjalan karena ia harus merebut peluang agar dapat menyelamatkan sekian banyak jiwa yang melarat dan terlantar. Diceritakan bahwa ketika dalam perjalanan Yesus melihat banyak orang yang mendambakan uluran kasih-Nya, Ia tergerak oleh belaskasihan kepada mereka karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tak bergembala. Dengan demikian Yesus berjalan karena didorong oleh sebuah motifasi mulia yang bersifat tunggal yakni merangkul dan membawa semua orang pada jalan keselamatan yang telah disediakan Allah. Ia berjalan bukan bermaksud untuk mempromosikan diri atau sekadar bertamasya sambil mencari kehormatan dan ketenaran. Yesus harus berjalan, mendapatkan dan merangkul banyak orang karena tidak sedikit yang berusaha menghindar dan menjauh dari-Nya. Diakhir ceritanya, penginjil Matius menegaskan kembali motifasi Yesus berjalan dalam sebuah kalimat afirmatif yang menantang yakni, “Tuaian banyak tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian supaya ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu”. Tanpa kita sadari setiap hari kita berjalan seturut status dan peran kita. Kita berjalan bukan karena kita mampu berjalan tetapi karena tuntunan hidup. Namun motifasi dan orientasi kita untuk berjalan tentunya beragam. Ada yang berjalan karena tuntutan pekerjaan dan apnggilan hidup tetapi ada yang sekadar jalan-jalan. Tentunya kita menginginkan untuk berjalan sambil berbuat baik dan bukan sebaliknya berjalan untuk mencari kelemahan orang sembari mengambil keuntungan secara tidak halal darinya seperti mencuri atau berbagai sikap manipulatif lainnya. Dalam konteks iman perjalanan kita lazim disebut ziarah. Kita adalah kaum peziarah. Akhirnya disadari jika hidup ini dilihat sebagai sebuah perziarahan menuju keabadian. Kita bergerak dari kelemahan dan kerapuhan manusiawi kita menuju Dia yang adalah tujuan perjalanan kita yakni Tuhan sendiri. Yesus berkata “Akulah jalan, kebenaran dan kehidupan. Barangsiapa datang kepada-Ku akan mendapat keselamatan kekal”. Lalu untuk apalagi kita harus berdiam diri? untuk apalagi kita harus tetap terbelenggu pada rasa bersalah, psimis dan kehilangan motifasi untuk berjuang? Bangun dan berjalanlah sebab banyak orang menunggu kehadiran dan kreatifitas kita. Ketahuilah setiap orang yang sukses adalah pemimpi-pemimpi besar. Mereka berimajinasi tentang masa depan, berbuat sebaik mungkin, berjalan dan bekerja menuju visi ke depan yang menjadi tujuan mereka.
Share:

Monday, 9 July 2012

Soal Bekal

Berbicara tentang bekal, imajinasi kita sudah tertuju pada sebuah perjalanan jauh yang melelahkan. Bekal dalam konteks segala zaman memiliki nama, simbol dan arti sendiri. bekal untuk seorang masyarakat tradisional berbeda dengan seorang yang hidup pada zaman modern demikian halnya konsep bekal untuk seorang pengusaha berbeda dengan konsep bekal seorang akademisi. Mungkin untuk masyarakat radisional bekal adalah bahan makanan yang dijunjung dan dipikul. Sementara untuk masyarakat modern mungkin berupa sepotong kartu kredit atau ATM. Sementara itu bekal untuk seorang pengusaha diidentikkan dengan uang dan barang material sementara untuk seorang akademisi bekal adalah ketajaman intelektual dalam beranalisa dan berpikir kritis dan komprehensif. Lalu bagaimanakah konsep bekal untuk seorang yang beriman? Apakah bekal itu terletak pada kemahiran dalam menghafal ayat-ayat Kitab Suci, aktif dalam kehidupan mengereja atau terletak pada status dan pakaian tertentu seperti pemimpin gereja/jemaat dan jubah? Jawabannya tentu berdasarkan kadar dan kualitas iman pribadi. Pada kesempatan ini saya mengajak kita untuk bercermin pada konsep bekal dalam kehidupan iman keagamaan versi Yesus. Diceritakan oleh penginjil matius bahwa suatu ketika Yesus mengutus para murid untuk sebuah perjalan misi. Yesus berpesan “Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma. Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat. Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Mungkin kita mengamini bersama kalau bekal satu-satunya untuk perjalanan dan perjuangan misi kerajaan Allah yakni iman. Dalam tugas yang dipercayakan kepada para murid, Yesus mengingatkan mereka untuk tidak memikirkan soal perbekalan mereka. Tentunya dalam hal ini bekal yang bersifat lahiriah dan fana. Mereka tidak perlu mengkhawatirkan semua itu. Suatu hal yang menarik bahwa sebagai utusan para murid percaya penuh pada Yesus yang mengutus mereka. Dan sebaliknya, Tuhan juga menaruh perhatian besar pada para utusan-Nya. Tuhan akan memperhatikan kebutuhan mereka dan Tuhan juga akan melindungi mereka. Yang terutama adalah bahwa mereka menjadi utusan yang sungguh-sungguh sehingga sebanyak mungkin orang mendengar warta keselamatan itu. Yesus mengingatkan bahwa akan ada yang menerima mereka tetapi akan ada pula yang menolak mereka. Para utusan Yesus harus siap mengalami kenyataan seperti ini. Tetapi pada “hari penghakiman” Tuhan akan mengadakan perhitungan: yang menolak tawaran itu akan menanggung hukuman yang lebih berat daripada hukuman yang dijatuhkan Tuhan atas Sodom dan Gomora. Perjuangan kita dalam usaha untuk mapan dalam segala hal baik ekonomi, politik sosial dan ilmu hendaknya jangan sampai mengganggu apalagi menghambat persiapan kita untuk menyiapkan bekal bagi kehidupan kita diakhirat. Bekal-bekal lain seperti harta, pangkat, kejeniusan dan sebagainya adalah factor pendukung bagi sebuah bekal untuk kehidupan abadi yakni iman kita yang utuh dan hidup pada Yesus Kristus. Ketahuilah iman itu bukan sesuatu yang lahiriah tetapi suatu yang bersifat batiniah. Kualitas iman akan senantiasa terpancar dalam sikap hidup yang penuh kedamaian, kesederhanaan, solidaritas dan penuh kekeluargaan.
Share:

SOAL PERANAN

Setiap orang bisa, mampu dan seharusnya menjalani suatu peran tertentu. Tanpa sebuah peran, hidup itu seperti bayang-bayang, tanpa orientasi dan sasaran. Anda, saya dan semua orang tentunya memahami dan mengerti apa itu peran. Peran berarti sesuatu yang menjadi bagian atau memegang pimpinan yang terutama. Peran lebih enak didekatkan dengan kata peranan yang berarti sebuah prihal apa yang dapat dilakukan individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat. Peranan meliputi norma-norma yang dikembangkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat. Peranan dalam arti ini meruapakan rangkaian peraturan-peratuatran yang membimbing seseorang dalam kehidupan kemasyarakatan. Dengan demikian peranan lebih dekat dengan kata status dimana terdapat hak, kewajiaban atau tanggung jawab tertentu. Dalam kotbah di atas bukit, Yesus bersabda: “Kalian ini garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah dapat diasinkan? Tiada gunanya lagi selain dibuang dan diinjak-injak orang. Kalian ini cahaya dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian, sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya cahayamu bersinar di depan orang, agar mereka melihat perbuatanmu yang baik, dan memuliakan Bapamu di surga.” Tahukah kita sekalian tentang fungsi sebuah garam? Fungsi garam bukan hanya untuk menyedapkan rasa pada makanan, tetapi juga untuk mengawetkan daging atau ikan. Semntara lampu adalah sarana ampuh untuk menumpas kegelapan dan kedinginan. Lalu bagaimanakah hubungannya dengan peranan kita sebagai murid-murid Kristus. Hemat saya, panggilan kemuridan, dengan kesaksian hidupnya yang bermutu, mengawetkan dunia dari kehancuran karena dosa. Dan lagi, pola hidup mereka yang baik, menyinari orang-orang yang hidup dalam kegelapan. Ketahuilah saudara/iku, seekor burung dapat disebut burung jika ia terbang, sekuntum mawar disebut mawar jika ia mekar dan seorang manusia yang memiliki jati diri dan sunggu disebut manusia jika ia mencinta. Apa yang terjadi jika burung itu tidak bisa terbang, mawar tak mampui mekar dan manusia tidak lagi saling mencinta maka identitas mereka sebagai burung, mawar dan manusia serentak dipertanyakan.
Share:

SOAL HATI

Penghormatan kepada Hati Yesus Yang Mahakudus sudah mulai berkembang sejak abad VII dan semakin tersebar luas setelah penglihatan-penglihatan Santa Margareta Maria Alacoque (1647-1690). Pada tahun 1856, Paus Pius IX memasukkan Pesta Hati Kudus Yesus dalam penanggalan liturgi. Melalui perayaan ini, kita diajak untuk menghormati dan mensyukuri cinta serta belas kasih Allah yang memancar dari Hati Yesus yang Mahakudus seraya memohon agar kita dapat mengambil bagian dalam kekudusan hati-Nya sehingga kita pun mempunyai kasih yang berkobar kepada Tuhan dan sesama. Bacaan-bacaan pada Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus ini menegaskan bahwa cinta dan belaskasih Allah kepada kita itu kekal dan tanpa batas. Meskipun kita adalah manusia berulang kali jatuh ke dalam dosa, membangkang dan meninggalkan Allah, tetapi Ia tetap setia dan hati-Nya penuh belas kasih. Cinta dan belas kasih Allah itu mencapai puncak dan kepenuhannya dalam diri Yesus Kristus yang mengorbankan diri-Nya di kayu salib demi keselamatan kita. “Di dalam Dia, kita beroleh keberanian dan jalan menghadap kepada tahta Allah” (Ef 3:12). Pengorbanan diri Yesus yang didasari oleh cinta dan belas kasih-Nya membuka jalan keselamatan bagi kita. Maka, kita diajak untuk “memahami betapa lebar dan panjangnya, dan betapa tinggi dan dalamnya kasih Kristus; juga supaya dapat mengenal kasih Kristus itu, sekalipun melampaui segala pengetahuan” (Ef 3:18-19). Pada saat Yesus mengorbankan diri-Nya di kayu salib, ketika lambungnya ditikam dengan tombak, mengalirlah darah dan air (Yoh 19:34). Peristiwa ini begitu penting dan ditekankan oleh Yohanes sampai ia mengatakan, “Orang yang melihat hal itu sendiri yang memberikan kesaksian ini dan kesaksiannya benar, dan ia tahu bahwa ia mengatakan kebenaran, supaya kamu juga percaya" (19:35). Peristiwa ini menjadi lambang yang menyatakan arti wafat Yesus di kayu salib, yang dapat dimengerti dengan baik kalau kita dapat menangkap lambang-lambang yang dipakai. Dalam perayaan Ekaristi, saat persiapan persembahan, Imam mencampurkan air ke dalam anggur yang akan dikosekrir menjadi Darah Kristus. Pada saat pencampuran itu, Imam berdoa, “Sebagaimana dilambangkan oleh pencampuran air dan anggur ini, semoga kami boleh mengambil bagian dalam keallahan Kristus yang telah menjadi manusia seperti kami”. Melalui tindakan simbolis ini, kita diajak menghayati penjelmaan Kristus, Sang Putera Allah, yang menjadi awal karya penyelamatan-Nya. Dengan penjelmaan-Nya itu, Ia tinggal di tengah-tengah kita sampai akhirnya Ia wafat bagi kita. Wafat-Nya itulah yang menjadikan kita dapat mengambil bagian dalam keallahan-Nya sehingga kita “dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah” (Ef 3:19). Artinya, dengan wafat-Nya, Kristus menebus kita dan menganugerahi kita kehidupan kekal, yaitu kehidupan abadi bersama Allah sepenuhnya dan selama-lamanya. Perayaan Hati Kudus Yesus mengajak kita untuk merenungkan pengalaman hidup kita yang sungguh diper-hati-kan oleh Allah dengan kasih-Nya yang tanpa batas. Ia rela mengorbankan diri demi kesalamatan kita. Semoga, dengan iman akan kasih Tuhan yang tanpa batas itu, kita berani mengarungi samudera kehidupan yang penuh liku dan perjuangan ini. Kasih itu juga mendorong dan menggerakkan hati kita untuk selalu siap membagikan kasih kepada sesama kita. Yesus yang lembut dan murah hati, jadikanlah hati kami seperti hati-Mu!
Share:

SOAL PROSES

Proses adalah sebuah alur untuk menggapai dan meraih sesuatu. Melangkahi proses adalah sikap tidak santun yang berujung pada kegagalan dan kegalauan. Kecenderungan yang mencemaskan dalam masyarakat modern sekarang ini adalah gaya hidup yang doyan melangkahi proses. Orang ingin cepat-cepat kaya, ingin besar dan sukses secara tiba-tiba atau ingin dikenal tanpa harus memperkenalkan diri dalam satu cara. Dalam lingkungan anak muda, ada kecenderungan berpikir, mengikuti proses adalah cara lama yang sudah out of date/ketinggalan zaman. Apa yang terjadi, banyak perhatian dan energi yang terkuras percuma untuk mengejar ketinggalan dan cepat-cepat ingin meraih cita-cita dan merebut prestasi. Waktu kuliah yang seyogianya delapan semester, dibuat hanya lima semester walau harus mengorbankan kesehatan, relasi yang berantakan dan menjadi pribadi super sibuk. Rupanya menjadi manusia sibuk atau super sibuk dianggap sebagai gaya hidup bergensi. Bandingkan saja gaya hidup seorang pengusaha atau seorang artis. Manusia bukan lagi mengejar waktu tetapi dikejar waktu. Dengan kata lain melangkahi proses membuat manusia teralienasi dan terasing dari dirinya sendiri, sesama dan Tuhan. Penginjil Markus hari ini menampilkan cerita Yesus soal sikap seorang anak muda yang ingin melangkahi proses. Anak muda yang mau mengikuti Yesus rupanya telah menyedot banyak energy hanya karena perhatiannya yang terlampau besar pada kekayaan dan prestasi namun tanpa dilandasi oleh sebuah fondasi iman yang kokoh dan matang. Ia menganggap diri mampu untuk melakukan semua perintah Allah seperti perintah jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri dll. Hal ini menyata dalam jawabannya terhadap pertanyaan Yesus soal butur-butir perintah Allah. Ia menjawab “Semua itu sudah kuturuti sejak masa mudaku”. Tersirat sebuah harapan untuk mendapat pujian dari Yesus. Namun apa yang terjadi, Yesus justru menantang agar ia harus menjual semua yang dimilikinya seperti harta kekayaan, kebebasan dan keinginan pribadi untuk dapat mengikuti Yesus. Anak muda itu akhirnya memilih untuk pergi karena takut kehilangan harta kekayaan dan popularitas pribadi. Mimpi terbesar yang dimiliki hampir sebagai besar anak muda dewasa ini yakni menjadi pegawai negeri sipil. Status PNS menjadi hal yang membanggakan walau tanpa disadari bahwa birokrasi dan struktur yang kaku dan berbelit-belit dalam tubuh pemerintahan telah membunuh semangat kreatifitas dan daya juang seseorang. Apa yang terjadi bila lowongan PNS sangat sedikit di tengah meluapnya para pencari kerja? Pengangguran terdidik semakin menjamur di tengah banyaknya peluang usaha dalam bangsa yang memiliki sumber daya alam yang melimpah. Bercermin dari kenyataan ini, maka sebenarnya generasi bangsa sekarang adalah generasi bermental intan, cari gampang dan tak punya nyali dalam berwirausaha. Hal ini juga menyata dalam kehidupan beriman. Banyak yang menjual bendera agama dan iman untuk memiliki kemudahan dalam hal ekonomi dan politik. Tuhan dijadikan modal promosi untuk kenyamanan dan popilaritas pribadi. Hari ini Yesus menyadarkan kita sekalian bahwa menjadi murid Yesus bukanlah soal like dislike tetapi soal keyakinan dan komitment yang kuat untuk memperjuangkan kebenaran dan kesejahteraan umat manusia seluruhnya. Ketahuilah, hal terbaik yang anda lakukan kepada orang lain bukan memberi kekayaan yang anda miliki tetapi memberi sesuatu sehingga ia memperoleh kekayaannya sendiri.
Share: