Berbicara soal penderitaan sebenarnya tidak terlepas dari cerita soal kebahagiaan. Penderitaan dan kebahagiaan laksana dua bua buah mata uang yang sulit untuk dilepaskan dari satu dengan yang lain. Bandingkan filsafat Cina soal Yin dan Yang yang menegaskan bahwa dalam dunia ini ada dua hal yang bersifat kontradiksi dan tidak bisa dilepaspisahkan seperti adanya siang dan malam, terang dan gelap, panas dan dingin, hidup dan mati, air mata dan tawaria dan sebagainya. Sebagaimana kita berhak menerima kebahagiaan maka kita seharus terbuka juga untuk menerima penderitaan dalam beragam bentuk.
Dalam dunia modern yang serba kompleks, banyak orang menjadi alergi dengan berbagai masalah dan penderitaan hidup. Berbagai kasus bunuh diri dan banyaknya penghuni rumah sakit jiwa menegaskan kenyataan ini. Namun di lain pihak tidak sedikit orang melihat penderitaan sebagai sebuah garis tangan atau takdir yang harus ditanggung. Allah seakan-akan sudah menentukan semua itu dari semula. Padahal banyal soal atau penderitaan menuntut perjuangan kita untuk mencari solusi yang tepat dan benar.
Penginjil Matius menampilkan cerita Yesus soal awasannya akan penganiayaan yang akan datang oleh karena pengakuan dan iman kita akan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan penyelamat. Kepada para murid-Nya Yesus memberi pesan : Lihat aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala yang selalu siap untuk mengejar, menerkam dan menyesah tetapi jangan takut Roh Kudus tetap menyertai kamu. Dia akan membelamu dihadapan segala lawanmu”. Dengan demikian memilih untuk menjadi murid Yesus butuh pertanggungjawaban dan pengorbanan. Iman harus dipertanggungjawabkan dalam satu cara termasuk dalam berbagai jenis penderitaan. Sebagaimana Yesus rela terentang antara langit dan dibumi di atas palang salib demikian halnya para murid dan semua yang menyebut diri Kristiani. Tetapi ingat, siapa yang bertahan dalam penderitaan ia kan selamat.
Allah memiliki suatu tujuan dibalik berbagai persoalan dan masalah. Dia mengunakan keadaan-keadaan sulit untuk mengembangkan karakter dan iman kita. Yesus sudah memperingatkan bahwa kita akan menghadapi berbagai penderitaan hidup dan tidak ada seorangpun yang kebal terhadap penderitaan. Kehidupan ini adalah serangkaian masalah dan penderitaan. Setiap kali kita berusaha memecahkan satu masalah, masalah lain sudah menanti untuk muncul. Memang tidak semua masalah itu besar tetapi sangat penting untuk kita renungkan dan maknai demi kematangan iman dan karakter kita. Rupa-rupanya Allah memakai masalah-masalah untuk menarik kita dekat kepada-Nya. Kitab Suci menulis bahwa Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati dan menyelamatkan orang-orang yang remuk redam hatinya. Ketahuilah saudara/saudariku beragam persoalan dan penderitaan mendorong kita untuk memandang Allah dan bergantung pada-nya dan bukan diri kita sendiri. Anda tidak akan pernah mengetahui bahwa Allah itu satu-satunya yang anda butuhkan sebelum Allah menjadi satu-satunya yang anda miliki. Apapun penyebabnya, tidak ada satupun maslah atau penderitaan yang terjadi tanpa seizin Allah. Cara bijaksana dari sebuah kualitas iman yang mendalam adalah dengan menyerahkan dan menyatukan penderitaan kita dengan penderitaan Kristus. Teguhkan hatimu dan angkatlah matamu sebab di sana ada cinta yang siap merangkul dan merangkai hatimu yang luka. Semoga dihadapan terang Sabda Allah dan Roh pemberi karunia lenyaplah kegelapan dosa dan kebutaan manusia tak beriman dan semoga hati Yesus hidup dalam hati semua orang. Amin.
Friday, 13 July 2012
Thursday, 12 July 2012
SOAL MEMBERI SALAM
Dalam setiap bangsa dan budaya, salam merupakan kata sentral dalam sebuah relasi. Orang bisa dan lazim memberI salam dan menerima salam. Apapun cara dan gaya dalam hal memberi salam atau menerima salam semuanya bermuara pada sebuah pengertian tunggal bahwa kita adalah pribadi yang pantas untuk dihargai. Dengan demikian kita tiba pada sebuah kesadaran bahwa menghargai orang lain sama halnya menghargai diri sendiri. Memberi salam kepada orang lain adalah bentuk yang kelihatannya biasa dan sederhana. Mungkin karena hal itu bersifat sederhana dan biasa banyak orang justru melupakan atau mengabaikannya. Anggota keluarga dalam rumah misalnya, enggan untuk memberi salam atau menerima salam satu sama lain hanya karena selalu bertemu dan selalu ada bersama. Padahal salam adalah tanda atau simbol yang nampak jelas dari sebuah relasi yang hidup dan harmonis. Tentunya salam dalam hal ini bukan soal kepentingan atau prosedur yang mesti dibuat seperti salam seorang ajudan untuk seorang Bupati atau Gubernur, atau salam seorang perwira untuk pimpinannya ataupun salam seorang penjaga supermarket untuk para calon pembeli dan sebagainya. Salam dalam konteks ini adalah sebuah sikap bebas yang tulus dan spontan sebagai bukti eratnya rasa persaudaraan.
Penginjil Matius menampilkan cerita Yesus soal sikap yang mesti ditunjukkan pada murid saat pertama kali berkunjung pada sebuah rumah yakni memberi salam. Salam menjadikan kata awal yang terbilang kramat untuk sebuah relasi. Atau dengan bentuk lain, relasi dapat dibangun sejauh apakah salam itu diterima atau tidak. Yesus berpesan, apabila kamu masuk sebuah rumah berilah salam kepada seisi rumah itu, jika mereka layak menerimanya maka salammu itu turun ke atas mereka dan jika tidak salam itu akan kembali kepadamu. Apakah arti pernyataan ini? Terlihat jelas bahwa salam bukan sekadar kata hampa belaka. Salam adalah sebuah kalimat kramat yang berdaya guna dan bersifat mengikat. Lebih lanjut salam dilihat sebagai benih yang siap untuk ditaburkan. Lahan dan tanah yang adalah hati nurani tempat yang sepantasnya menerima benih atau salam tersebut. Semakin terbuka dan rendahnya sebuah hati maka salam itu akan ditaburkan dan berbuah dalam bentuk relasi yang hidup, rasa persaudaraan dan solidaritas. Namun jika salam itu tidak mendapat tempat atau ditolak maka yang ada hanyalah kekosongan, kecemasan abadi dan ketiadaan harapan serta kehilangan inspirasi. Kepada para muridnya Yesus berpesan agar jangan pernah berharap apalagi memaksa agar salam itu diterima. Salam itu hendaknya menjadi sebuah aliran air yang pantas mengalir pada sebuah huma yang rendah dan terbuka untuk diairi.
Setiap hari kita mendengar, memberi dan menerima salam tetapi sejauhmana kita memahami dan mekanai arti sepenggal kata salam. Apakah salam hanya dilihat sebagai sebuah kebiasaan yang semakin hambar dalam sebuah rutinitas harian yang sama dan monoton? Seberapa banyak kita memberi salam kepada semua orang tanpa harus melihat latar belakang kehidupannya. Apakah kita hanya memberi salam kepada orang yang sama status dengan kita atau memberi salam kepada orang yang berpengaruh baik dalam hal jabatan politis, keagamaan, kemakmuran ekonomi dan sebagainya ketimbang orang-orang biasa yang serba kekurangan dalam banyak hal? Dalam perayaan ekaristi kita selalu meberi salam damai kepada sesama di sekitar kita tetapi sejauhmana itu diaplikasikan dalam keseharian kita sehari-hari baik di rumah, di tempat kerja atau di tempat lain? Sesederhana apapun sepenggal kata salam sangat berarti bagi yang membutuhkannya. Berilah salam sebelum anda menerima salam. Ketahuilah, salammu adalah doamu dan juga dukunganmu. Semoga dihadapan terang Sabda Allah dan Roh pemberi akrunia lenyaplah kegelapan dosa dan kebutaan manusia tak beriman dan semoga hati Yesus hidup dalam hati semua orang. Amin
Wednesday, 11 July 2012
SOAL NAMA
Semua orang mempunyai nama dan seharusnya mempunyai nama. Nama adalah tanda (nomen is omen). Sebagai sebuah tanda, nama adalah gambaran diri seseorang. Nama juga berhubungan erat dengan sistem kekerabatan. Kita bisa mengenal asal-usul seseorang, entah soal suku, agama maupun tempat asal dari nama yang disandangnya. Dengan demikian, apapun nama yang dimiliki seseorang adalah baik dalam dirinya sendiri khususnya bagi yang bersangkutan. Implikasi lanjutnya yakni kita tidak berhak untuk mengantikan nama seseorang atau bergonta-ganti nama. Dalam arus zaman yang serba anonim, kecenderungan untuk bergonta-ganti nama sangat tinggi dan dilihat sebagai sebuah trend baru yang sangat digandrungi. Seseorang bisa memiliki beberapa nama sekaligus. Di satu tempat misalnya dipanggil Peter dan ditempat lain dipanggil Mahmud, atau di satu kota dipanggil mas Joko dan di kota lain dipanggil bung Nadus. Singkatnya nama bukan lagi tanda tetapi gaya. Di lain pihak banyak orang yang sibuk mencari nama. Nama akhirnya bukan hanya tanda atau gaya tetapi juga soal popularitas, harga diri dan kehormatan. Tidak heran ada yang berani mempertaruhkan segala yang dimilikinya hanya untuk sebuah nama agar dikenal oleh sebanyak mungkin orang.
Penginjil Matius hari ini menampilkan cerita Yesus tentang bagaimana Yesus memanggil orang-orang pilihannya seturut nama yang dimilikinya. Petrus, Andreas, Yokobus anak Zebedeus, Yohanes, Filipus, Bertolomeus, Thomas, Matius, Tadeus, Simon, Yokobus anak Alfeus dan Yudas Iskariot. Kedua nama ini adalah figure-figur pilihan yang kemudian disebut kedua belas rasul. Mereka dipanggil dalam sebuah nama yang bersifat unik, khas dan asli. Kepada mereka Yesus menitipkan pesan agar jangan menyimpang ke jalan bangsa lain melainkan pergi untuk mendapatkan domba-domba yang hilang dari umat Israel. “Pergilah dan beritakanlah, kerajaan Surga sudah dekat”.
Mungkin pertanyaan lanjut yakni mengapa hanya dua belas orang untuk sebuah tugas yang sangat besar yakni memberitakan kerajaan Allah ke seluruh dunia? Mengapa harus memilih Yudas Iskariot yang kemudian terbukti mengkhianati gurunya sendiri? Mengapa dipilih nama-nama dari kalangan bawah yang minim dan terbatas dalam hal akademis dan management? Pertanyaan-pertanyaan ini dinilai wajar dan lumrah. Dua belas nama yang dipilih Yesus dapat mewakili dua belas suku Israel dan pengkhianatan Yudas iskariot dapat dilihat sebagai simbol kerapuhan dan ketidaksetiaan manusia pada rencana dan kehendak Allah. Yesus memilih nama-nama dari kalangan bawah mau menujukkan bahwa dihadapan Allah semua orang sama. Keunggulan dalam bidang akademis dan kelimpahan harta kekayaan bukanlah jaminan untuk terlaksananya tugas yang diberikan Yesus untuk mewartakan kasih dan cinta Tuhan. Hanya dalam hati yang rendah dan mau berkorban, Tuhan hadir dan meraja sehingga yang kecil dan hina dimata manusia menjadi indah dan luhur di mata Allah.
Intisari dari cerita Yesus hari ini yakni bagaimana nama hendaknya mampu mewakili sebuah pribadi. Dengan demikian pribadi itulah yang justru mendapat penekanan dan bukan nama yang hanyalah sebuah tanda. Dengan demikian pribadi manusia harus mendapat tempat yang pantas dan wajar dari sebuah nama yang berwujud status, pangkat, kekayaan, ketenaran dan sebagainya. Nama yang indah dan menawan seyogianya mampu mewakili kepribadian yang menarik, penuh rasa persaudaraan dan rela berkorban untuk kebahagiaan orang lain. Persoalan selalu muncul ketika orang lebih menekankan nama yang dirangkai dalam bergama bentuk seperti pangkat, kekayaan, kecerdasan dan popularitas ketimbang pribadi yang sabar, bijaksana dan murah hati. Yesus memanggil kita seturut nama kita masing-masing untuk berkarya dan berusaha menjadikan Tuhan dan sesama sebagai tujuan pengabdian kita. Ketahuilah nama yang kita miliki tidak diberikan untuk kita gagal tetapi kita sendiri yang justru gagal merancang sebuah nama agar tetap harum dan dikenang semua orang.
Tuesday, 10 July 2012
SOAL BERJALAN
Kita semua mempunyai hasrat, kemampuan dan keharusan untuk berjalan. Berjalan berarti bergerak atau berpindah dari suatu tempat ke tempat lain dengan sebuah tujuan tertentu. Kita berjalan karena kita harus berjalan. Ketidakmampuan untuk berjalan dapat dinilai sebagai sebuah kekurangan tetapi bukan kemalangan. Seorang yang cacat atau lumpuh, secara badaniah memang tidak bisa berjalan tetapi ia tetap memiliki keinginan dan kerinduan untuk berjalan. Lalu mengapa orang harus berjalan? Hemat saya berjalan bukan karena kita harus mempergunakan karya Allah dalam sepasang kaki tetapi karena kita harus berusaha dan berkarya. Kita harus mampu menemukan cara dan bentuk baru dalam memaknai dan mempergunakan segala talenta dan buah karya Tuhan di dunia. Namun persoalan selalu muncul ketika orang selalu senang untuk berjalan dan berjalan. Lebih sedih lagi ketika perjalanan itu tanpa sebuah rencana, maksud dan orientasi yang jelas. Padahal hidup ini butuh kepastian, butuh masa depan dan butuh komitmen. Hidup ini memang sementara dan fana tetapi tetap memiliki nilai dalam satu bentuk tertentu. Kita harus bergerak atau berjalan maju karena di dunia ini tidak ada yang bersifat statis dan abadi. Waktu bergerak dan kitapun dituntut untuk berubah di dalamnya.
Penginjil Matius menampilkan cerita Yesus soal kebiasaan dan aktifitas utama Yesus dalam hidupnya yakni berjalan untuk mengajar, menyembuhkan dan memberitakan injil kerajaan surga dari suatu tempat ke tempat lain atau dari suatu kota ke kota lain. Yesus berjalan karena ia harus merebut peluang agar dapat menyelamatkan sekian banyak jiwa yang melarat dan terlantar. Diceritakan bahwa ketika dalam perjalanan Yesus melihat banyak orang yang mendambakan uluran kasih-Nya, Ia tergerak oleh belaskasihan kepada mereka karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tak bergembala. Dengan demikian Yesus berjalan karena didorong oleh sebuah motifasi mulia yang bersifat tunggal yakni merangkul dan membawa semua orang pada jalan keselamatan yang telah disediakan Allah. Ia berjalan bukan bermaksud untuk mempromosikan diri atau sekadar bertamasya sambil mencari kehormatan dan ketenaran. Yesus harus berjalan, mendapatkan dan merangkul banyak orang karena tidak sedikit yang berusaha menghindar dan menjauh dari-Nya. Diakhir ceritanya, penginjil Matius menegaskan kembali motifasi Yesus berjalan dalam sebuah kalimat afirmatif yang menantang yakni, “Tuaian banyak tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian supaya ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu”.
Tanpa kita sadari setiap hari kita berjalan seturut status dan peran kita. Kita berjalan bukan karena kita mampu berjalan tetapi karena tuntunan hidup. Namun motifasi dan orientasi kita untuk berjalan tentunya beragam. Ada yang berjalan karena tuntutan pekerjaan dan apnggilan hidup tetapi ada yang sekadar jalan-jalan. Tentunya kita menginginkan untuk berjalan sambil berbuat baik dan bukan sebaliknya berjalan untuk mencari kelemahan orang sembari mengambil keuntungan secara tidak halal darinya seperti mencuri atau berbagai sikap manipulatif lainnya. Dalam konteks iman perjalanan kita lazim disebut ziarah. Kita adalah kaum peziarah. Akhirnya disadari jika hidup ini dilihat sebagai sebuah perziarahan menuju keabadian. Kita bergerak dari kelemahan dan kerapuhan manusiawi kita menuju Dia yang adalah tujuan perjalanan kita yakni Tuhan sendiri. Yesus berkata “Akulah jalan, kebenaran dan kehidupan. Barangsiapa datang kepada-Ku akan mendapat keselamatan kekal”. Lalu untuk apalagi kita harus berdiam diri? untuk apalagi kita harus tetap terbelenggu pada rasa bersalah, psimis dan kehilangan motifasi untuk berjuang? Bangun dan berjalanlah sebab banyak orang menunggu kehadiran dan kreatifitas kita. Ketahuilah setiap orang yang sukses adalah pemimpi-pemimpi besar. Mereka berimajinasi tentang masa depan, berbuat sebaik mungkin, berjalan dan bekerja menuju visi ke depan yang menjadi tujuan mereka.
Monday, 9 July 2012
Soal Bekal
Berbicara tentang bekal, imajinasi kita sudah tertuju pada sebuah perjalanan jauh yang melelahkan. Bekal dalam konteks segala zaman memiliki nama, simbol dan arti sendiri. bekal untuk seorang masyarakat tradisional berbeda dengan seorang yang hidup pada zaman modern demikian halnya konsep bekal untuk seorang pengusaha berbeda dengan konsep bekal seorang akademisi. Mungkin untuk masyarakat radisional bekal adalah bahan makanan yang dijunjung dan dipikul. Sementara untuk masyarakat modern mungkin berupa sepotong kartu kredit atau ATM. Sementara itu bekal untuk seorang pengusaha diidentikkan dengan uang dan barang material sementara untuk seorang akademisi bekal adalah ketajaman intelektual dalam beranalisa dan berpikir kritis dan komprehensif. Lalu bagaimanakah konsep bekal untuk seorang yang beriman? Apakah bekal itu terletak pada kemahiran dalam menghafal ayat-ayat Kitab Suci, aktif dalam kehidupan mengereja atau terletak pada status dan pakaian tertentu seperti pemimpin gereja/jemaat dan jubah? Jawabannya tentu berdasarkan kadar dan kualitas iman pribadi. Pada kesempatan ini saya mengajak kita untuk bercermin pada konsep bekal dalam kehidupan iman keagamaan versi Yesus. Diceritakan oleh penginjil matius bahwa suatu ketika Yesus mengutus para murid untuk sebuah perjalan misi. Yesus berpesan “Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma. Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat. Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu.
Mungkin kita mengamini bersama kalau bekal satu-satunya untuk perjalanan dan perjuangan misi kerajaan Allah yakni iman. Dalam tugas yang dipercayakan kepada para murid, Yesus mengingatkan mereka untuk tidak memikirkan soal perbekalan mereka. Tentunya dalam hal ini bekal yang bersifat lahiriah dan fana. Mereka tidak perlu mengkhawatirkan semua itu. Suatu hal yang menarik bahwa sebagai utusan para murid percaya penuh pada Yesus yang mengutus mereka. Dan sebaliknya, Tuhan juga menaruh perhatian besar pada para utusan-Nya. Tuhan akan memperhatikan kebutuhan mereka dan Tuhan juga akan melindungi mereka. Yang terutama adalah bahwa mereka menjadi utusan yang sungguh-sungguh sehingga sebanyak mungkin orang mendengar warta keselamatan itu.
Yesus mengingatkan bahwa akan ada yang menerima mereka tetapi akan ada pula yang menolak mereka. Para utusan Yesus harus siap mengalami kenyataan seperti ini. Tetapi pada “hari penghakiman” Tuhan akan mengadakan perhitungan: yang menolak tawaran itu akan menanggung hukuman yang lebih berat daripada hukuman yang dijatuhkan Tuhan atas Sodom dan Gomora. Perjuangan kita dalam usaha untuk mapan dalam segala hal baik ekonomi, politik sosial dan ilmu hendaknya jangan sampai mengganggu apalagi menghambat persiapan kita untuk menyiapkan bekal bagi kehidupan kita diakhirat. Bekal-bekal lain seperti harta, pangkat, kejeniusan dan sebagainya adalah factor pendukung bagi sebuah bekal untuk kehidupan abadi yakni iman kita yang utuh dan hidup pada Yesus Kristus. Ketahuilah iman itu bukan sesuatu yang lahiriah tetapi suatu yang bersifat batiniah. Kualitas iman akan senantiasa terpancar dalam sikap hidup yang penuh kedamaian, kesederhanaan, solidaritas dan penuh kekeluargaan.
SOAL PERANAN
Setiap orang bisa, mampu dan seharusnya menjalani suatu peran tertentu. Tanpa sebuah peran, hidup itu seperti bayang-bayang, tanpa orientasi dan sasaran. Anda, saya dan semua orang tentunya memahami dan mengerti apa itu peran. Peran berarti sesuatu yang menjadi bagian atau memegang pimpinan yang terutama. Peran lebih enak didekatkan dengan kata peranan yang berarti sebuah prihal apa yang dapat dilakukan individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat. Peranan meliputi norma-norma yang dikembangkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat. Peranan dalam arti ini meruapakan rangkaian peraturan-peratuatran yang membimbing seseorang dalam kehidupan kemasyarakatan. Dengan demikian peranan lebih dekat dengan kata status dimana terdapat hak, kewajiaban atau tanggung jawab tertentu.
Dalam kotbah di atas bukit, Yesus bersabda: “Kalian ini garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah dapat diasinkan? Tiada gunanya lagi selain dibuang dan diinjak-injak orang. Kalian ini cahaya dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian, sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya cahayamu bersinar di depan orang, agar mereka melihat perbuatanmu yang baik, dan memuliakan Bapamu di surga.”
Tahukah kita sekalian tentang fungsi sebuah garam? Fungsi garam bukan hanya untuk menyedapkan rasa pada makanan, tetapi juga untuk mengawetkan daging atau ikan. Semntara lampu adalah sarana ampuh untuk menumpas kegelapan dan kedinginan. Lalu bagaimanakah hubungannya dengan peranan kita sebagai murid-murid Kristus. Hemat saya, panggilan kemuridan, dengan kesaksian hidupnya yang bermutu, mengawetkan dunia dari kehancuran karena dosa. Dan lagi, pola hidup mereka yang baik, menyinari orang-orang yang hidup dalam kegelapan.
Ketahuilah saudara/iku, seekor burung dapat disebut burung jika ia terbang, sekuntum mawar disebut mawar jika ia mekar dan seorang manusia yang memiliki jati diri dan sunggu disebut manusia jika ia mencinta. Apa yang terjadi jika burung itu tidak bisa terbang, mawar tak mampui mekar dan manusia tidak lagi saling mencinta maka identitas mereka sebagai burung, mawar dan manusia serentak dipertanyakan.