Negara Indonesia adalah negara beragama bukan negara agama. Beragama artinya memiliki banyak agama dan hal itu diakui dalam butir pertama pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Namun siapa yang pernah menduga kalau agama-agama di Indonesia telah ditunggangi oleh berbagai kelompok kepentingan. banyak oknum yang berjuang untuk mendapatkan keuntungan ekonomi dan politik mengatasnamai agama. Isu-isu keagamaan biasanya sangat santer menjelang pesta demokrasi / pemilihan umum. Bahkan ada tega dan berani mengunakan kesempatan beribadah dan berdiri di atas mimbar Sabda, berbicara tentang hal yang berkaitan dengan politik. Tidak bisa dipungkiri bahwa berbicara tentang iman tidak terlepas dari diskusi soal ekonomi dan politik, tetapi perlu diingat, iman adalah perkara batiniah yang bersifat sangat pribadi, bukan sesuatu yang mesti diperagakan secara bombastis ala orang Farisi pada zaman Yesus. Dalam konteks Indonesia, pemandangan yang menggelikan terjadi. Orang tidak segam-segan mengunakan pakaian keagamaan untuk mengejar dan menuding yang lain kafir.
Dalam khotbah di bukit Yesus berkata“Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, kalian tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Kalian telah mendengar apa yang disabdakan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya, harus dihukum! Barangsiapa berkata kepada saudaranya: ‘Kafir!’ harus dihadapkan ke mahkamah agama, dan siapa yang berkata: ‘Jahil!’ harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Sebab itu jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah, dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dia di tengah jalan, supaya lawanmu jangan menyerahkan engkau kepada hakim, dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya, dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar utangmu sampai lunas.”
Kita sering menganggap sikap terhadap sesama sebagai perkara yang sepele, remeh, tidak perlu dikaitkan dalam hubungan manusia dengan Tuhan, misalnya ketika sedang berdoa dan semacamnya. Atau sebaliknya ada orang yang mengira doa dan persembahan dapat membereskan konflik dengan sesama di mata Tuhan. Tentu saja perkiraan dan pandangan ini tidak benar; maka Tuhan meluruskannya dengan memberikan pengajaran-Nya. Memang mempersembahkan korban itu sangat mulia dan luhur karena memperlihatkan sembah sujud dan bakti kita kepada Tuhan. Tetapi, semua itu tak ada artinya bila orang juga melakukan kejahatan terhadap sesamanya, seperti kekerasan fisik: membunuh, dan bahkan kekerasan non fisik: menghina, mengcacii-maki. Walaupun ia rajin membawa korban persembahan, orang seperti ini tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Bagi Tuhan hubungan manusia dengan sesamanya itu sangat menentukan dan mewarnai hubungan manusia dengan diri-Nya. Oleh karena itu, korban persembahan dan doa bukan hanya sekadar upacara ritual yang lahiriah atau dilakukan dalam kemunafikan seperti halnya orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat.
Ketahuilah saudara dan saudariku, hati yang bersih menjadi syarat mutlak bagi seseorang yang hendak mempersembahkan korban dan amal kepada Tuhan dan sesama. Maka Tuhan menuntut agar orang terlebih dahulu membersihkan hatinya dengan cara memperbaiki kembali relasi yang retak dengan sesama, atau berdamai lebih dahulu dengan sesamanya, sebelum menghadap Tuhan.
Monday, 9 July 2012
SOAL KEMAUAN
Kisah sukses kebanyakan orang selalu berawal dari sebuah kemauan. Hal ini ingin menegaskan sebuah pernyataan bahwa dimana ada kemauan pasti ada jalan. Dalam sebuah kemauan akan terbuka sebuah inisiatif, alternative, solusi dan kreatifitas. Lalu apa itu kemauan? Bagaimana kemauan itu bisa dilukiskan dalam berbagai alur kisah sukses? Mungkin perlu disadari bahwa kemauan sebenarnya keinginan teguh dalam diri yang didukung oleh sebuah komitmen dan daya juang. Tanpa sebuah komitmen dan daya juang maka kemauan tidak lebih dari sebuah angan semata yang bersifat fatamorgana. Kemauan berasal dari sebuah kata kehidupan yakni mau atau ingin. Itu berarti semua orang mempunyai hasrat atau mimpi yang mau atau ingin diraih. Namun sekali lagi kemauan atau keinginan dalam diri harus didukung oleh sebuah orientasi yang jelas dan tegas. Kita tidak bisa menginginkan kesuksesan dalam usaha dan karya atau dalam bidang akademis tanpa didukung oleh sebuah sikap dan gaya hidup disiplin, hemat dan memiliki berdaya juang.
Kemauan untuk maju dan sukses dalam usaha dan karya serta gemilang dalam hal akademis hampir sama bentuknya dalam kisah kemauan seorang beriman untuk dekat dengan Tuhan penciptanya. Iman bukanlah sesautu yang terberi tanpa sebuah perjuangan untuk menjernihkannya dalam satu cara. Iman yang tidak dipugar atau dimurnikan akan berujung pada dua ekstrim yang menakutkan yakni radikalisme agama dan atheisme modern. Kemauan untuk selalu dekat dengan Tuhan harus dijabarkan dalam berbagai sikap hidup baik dalam doa maupun relasi yang dibangun dengan orang lain. Doa tanpa sebuah relasi yang baik dengan orang lain adalah bentuk kemunafikan yang mengkerdilkan diri sendiri.
Penginjil Matius menampilkan cerita Yesus soal kemauan seorang perempuan yang menderita penyakit pendarahan untuk menjamah jumbai jubah Yesus. Kemauan untuk mendekati dan mejamah jubah Yesus bukanlah sebuah gerakan reflex yang tanpa maksud dan tujuan. Ia menjamah jubah Yesus karena didorong oleh sebuah keinginan untuk sembuh. Memang terasa sulit dimengerti, sebuah kesembuhan terjadi hanya dengan menjamah jumbai jubah tetapi justru pada saat itulah ia mempertontonkan sebuah kualitas iman yang kokoh kepada Yesus dan semua orang. Kepadanya, Yesus berpesan, teguhkanlah hatimu sebab imanmu telah menyelamatkan kamu. Lain halnya dengan kadar iman kebanyakan orang yang tertawa sinis ketika di rumah Yairus Yesus mengatakan “Anak ini tidak mati tetapi tidur”. Dengan ini mau menegaskan bahwa iman yang hidup akan terlukis dalam sebuah sikap penyerahan, kerendahan hati dan kepasrahan pada penyelanggaraan Allah.
Iman atau kepercayaan itu mempunyai kekuatan yang dahsyat. Ia dapat menyembuhkan. Ia dapat menyelamatkan. Agar iman dapat tumbuh dan kokoh kita senantiasa berusaha mendekatkan diri dengan Allah. Kemauan untuk mendekatkan diri dengan Allah memampukan kita untuk bertahan dalam situasi sulit sekalipun. Iman dan kepasrahan kepada Allah selalu dituntut dari kita, walaupun tidak selalu sempurna. Kita dapat menyuburkan iman lewat doa-doa di rumah, misa atau ibadat di gereja, di lingkungan dan ikut aktif menggereja dan bermasyarakat. Rasul Paulus mengingatkan kita agar dalam kehidupan beriman kita juga memperhatikan kepentingan sesama, khususnya kaum miskin dan terpinggirkan. Solidaritas kepada kaum miskin itu bukan supaya mereka mendapat keringanan, tetapi terutama supaya ada keseimbangan. “Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan. Seperti ada tertulis: “Orang yang mengumpulkan banyak tidak kelebihan, dan orang yang mengumpulkan sedikit tidak kekurangan”.
Di sini ditekankan sikap mau berbagi dengan sesama dan kepedulian kita terhadap sesama, rasa senasib sepenanggunangan seperti yang diteladankan oleh Yesus. Kita telah dibaptis dalam nama Yesus Kristus. Kita telah dipersatukan dengan-Nya. Maka kita dapat membedakan kebenaran dan kejahatan. Segala sesuatu yang benar dan kekal berasal dari Allah, sedang segala kejahatan yang mengakibatkan kehancuran berasal dari setan. Oleh karena itu dalam segala keadaan kita mempergunakan iman sebagai perisai agar kita selamat.
Monday, 30 January 2012
SOAL BERADAPTASI
Pernahakah kita sadar bahwa perubahan dan keberagaman itu adalah dua hal yang saling mengadaikan. Kita tidak bisa berbicara bahkan memikirkan sebuah perubahan tanpa adanya keberagaman atau dengan bentuk lain, keberagaman adalah adalah motor pengerak adanya perubahan. Keberagaman dalam hal ini hadir dalam beragam bentuk seperti keberagaman dalam cara pandang dan gaya hidup. Tidak heran, untuk sebuah perubahan dan inovasi baru, benturan cara pandang dan gaya hidup antar generasi kerap terjadi. Kebanyakan generasi tua senang bernostalgia pada masa lalu dan berusaha mengformat generasi muda dalam cara pandang dan gaya hidup zaman dulu sementara generasi muda cenderung melihat nilai yang ditawarkan generasi tua sebagai bahan rongsokan yang pantas disampahkan karena ketinggalan zaman sembari mengikuti nilai yang ditawarkan zaman modern yang terkadang samar-samar. Lalu bagaimana sikap kita dalam upaya merangkai suasana damai dan persaudaraan dalam keberagaman untuk sebuah perubahan yang bersifat kontruktif dan produktif? Hampir sulit memikirkan hal lain kecuali beradaptasi. Beradaptasi bukan berarti ikut arus tanpa jati diri, komitmen dan tanggung jawab. Beradaptasi berarti terbuka terhadap arus zaman tetapi tetap berakar pada nilai luhur yang diwariskan seperti iman dan pengakuan kita akan penyelenggaraan Allah.
Dihari keenam belas dalam bulan pertama ditahun 2012 ini, kita disuguhkan cerita Yesus tentang merangkai perbedaan dalam sebuah perubahan dengan beradaptasi. Penginjil Markus menceritakan bagaimana orang mempertanyakan perbedaan gaya hidup murid-murid Yesus dan murid-murid Yohanes dalam hal berpuasa. Ketika murid-murid Yohanes berpuasa, pada saat yang sama murid-murid Yesus bersantai ria atau berleha-leha tanpa beban. Menjawabi pertanyaan ini, Yesus mengangkat sebuah analogi secari kain baru pada kain yang lama serta anggur yang baru pada kantong yang tua. Kain yang baru janganlah ditambalkan pada kain yang lama karena akan mencabiknya demikian halnya kantong anggur yang baru jangan dituangkan pada kantong anggur yang lama supaya jangan sampai basi, terbuang atau tidak terpakai. Dalam hal ini, Yesus menegaskan bahwa Ia adalah muara akhir dari doa dan puasa yang dibuat manusia. Ia adalah Allah yang menjelma menjadi manusia. Logikanya cukup jelas yakni untuk apa berpuasa selagi Dia yang menjadi sasaran akhir dari puasa kita sudah ada. Dalam hal ini, murid-murid Yesus tidak perlu berpuasa karena Yesus ada diantara mereka. Ceritanya lain kalau Yesus tidak ada maka para murid pasti dan harus berpuasa.
Hidup ini penuh warna sehingga kelihatan sangat indah. Tanpa sebuah perbedaan maka di sana tidak ada keindahan, dinamika dan perubahan. Dari perbedaan-perbedaan itu kita disatukan tetapi bukan untuk disamakan namun untuk disesuaikan. Untuk sebuah persaudaraan, toleransi dan tenggang rasa, hal pertama yang mesti diakui dan disadari yakni kita beda. Hanya dengan pengakuan dan kesadaraan akan adanya perbedaan maka kita dapat mencitai dan mengharagai perbedaan itu. Ketahuilah perbedaan atau keberagaman adalah motor pengerak sebuah perubahan. Dalam konteks bacaan suci hari ini, kita diajak agar menyadari diri kita sebagai sebuah komunitas umat manusia yang sedang berziarah menuju rumah Allah. Kita yakin dan percaya, apapun cara dan gaya kita dalam berdoa dan berpuasa semuanya tetap bermuara pada satu tujuan yakni membahagiakan sesama dan memuliakan Allah. Kadang-kadang kita mengatasi situasi sulit hanya dengan bersedia memahami orang lain. Sering yang paling dibutuhkan oleh seseorang adalah ada orang lain yang peduli dengan perasaan dan berusaha memahami posisi mereka. Semoga dihadapan terang Sabda Allah dan Roh pemberi karunia, lenyaplah kegelapan dosa dan kebutaan manusia tak beriman, dan semoga hati Yesus Hidup dalam hati semua orang. Amin
SOAL ATURAN
Ketika saya duduk di seminari menengah, seorang teman dekat saya memiliki kebiasaan untuk mengeluh. Dia mengeluh untuk banyak hal sehingga hampir tiada hari dilewatkan tanpa mengeluh. Bila diprosentasikan maka keluhan tentang aturan seminari mendapat porsi terbanyak. Ada banyak argumen yang diutarakannya termasuk aturan olahraga yang dibagi dalam kelompok. Menurutnya aturan semacam ini, bukan hanya membuat orang tertekan secara psikis tetapi juga mematikan kreatifitas dan inovasi seseorang. Akhirnya dalam bulan terakhir menjelang ujian akhir sekolah, ia memutuskan untuk menarik diri dari lembaga panti imam tersebut. Apakah di luar sana ada sebuah kebebasan mutlak tanpa control dalam bentuk aturan? Tidak. Di mana saja kita berada selalu dihadapkan dengan aneka aturan agar kebebasan kita tidak mengganggu apalagi membatasi kebebasan orang lain. Pada prinsipnya aturan atau hukum dibuat untuk sebuah tujuan yang baik tetapi persoalan selalu muncul ketika orang yang membentuk, menjaga dan yang menjalankan aturan tersebut memiliki persepsi atau cara pandang beragam atas aturan yang sama. Bandingkan saja situasi sosial di tanah air kita akhir-akhir ini. Hukum dengan mudah digadai dan diputarbalikkan sehingga yang kerap terjadi adalah yang benar disalahkan dan yang salah dibenarkan. Bandingkan proses hukum seorang koruptor yang mencuri uang rakyat bermilar-miliaran rupiah dengan seorang pencuri bunga dan sandal jepit.
Penginjil Markus menampilkan cerita Yesus tentang esensi sebuah aturan atau hukum. Masyarakat Yahudi pada zaman Yesus memiliki sebuah aturan atau hukum pengsakralan hari sabat sebagai hari khusus bagi Tuhan. Hal ini bertolak dari kisah kejadian tentang bagaiman Allah menciptaka langit dan bumi selama enam hari dan pada hari ketujuh dia beristrahat setelah menyaksikan semuanya itu baik. Aturan hari sabat menerapkan prinsip tunggal yakni tidak ada aktifitas lain kecuali bersujud dan berdoa kepada Yahwe. Apapun kegaitan tersebut walaupun untuk sebuah tujuan mulia tetap dikatakan dosa karena melanggar hukum hari sabat dan terjadilah demikian. Untuk mengisi perut yang keroncongan, para murid Yesus memetik bulir gandum. Yesus dimintai keterangan atas sikap pembangkangan para murid. Namun Yesus tidak bergeming sedikitpun. Ia mengunakan sebuah hukum tertinggi yakni penghargaan terhadap martabat manusia. Segala bentuk aturan atau hukum mestinya bermuara pada penghargaan atas martabat manusia yang merupakan citra Allah sendiri. Menurut Yesus aturan diciptakan untuk manusia dan bukan sebaliknya manusia untuk aturan. Yesus menujukkan legitimasi kekuasaannya atas surga dan dunia dengan mengatakan bahwa dirinya adalah tuan atas hari sabat.
Perjalanan panjang karya Yesus diwarnai dengan pesan-pesan pembaharuan dan tidak sedikit bersifat kontroversial dan revolusioner. Hukum itu mesti ditegakkan sejauh tidak membelenggu manusia sebagai pribadi yang bermartabat. Akhir-akhir ini dengan adanya sistem otonomi daerah, produksi undang-undang di daerah dan negara kita begitu banyak. Lebih parah lagi ketika tidak ada batasan yang jelas antara ruang privat, ruang publik dan doktrin agama. Semua orang binggung, baik masyarakat maupun lembaga pencetak undang-undang atau hukum itu sendiri. Kebingungan merambat pada pihak penegak hukum dan pengambil keputusan seperti hakim dan jaksa. Anda, saya dan kita semua berada dalam situasi binggung. Di tengah virus kebingungan ini apakah ada obat penawar yang menyajikan pencerahan dan solusi? Tidak ada cara lain selai kita harus kembali pada roh dari hukum itu sendiri yakni memberi kelegaan bagi mereka yang haus akan kebenaran dan keadilan sembari tetap menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sebagai citra Allah yang maha luhur. Perjuangan ini butuh kesabaran dan pengorbanan. Hal pertama yang mesti dibuatnya yakni memutuskan mata rantai gurita banalisasi kejahatan yang selalu datang menawarkan diri dalam beragam cara dan bentuk. Ketahuilah gurita kejahatan itu telah merasuki ranah kehidupan kelurga dan karya pelayanan gereja. Di sini pemikiran rasional, iman dan hati nurani hendaknya dipakai sebagai benteng agar kita tidak terseret pada virus kebinggungan yang berkepanjangan. Ingat, orang yang luar biasa itu selalu sederhana dalam ucapan tetapi hebat dalam tindakan.
SOAL PROSEDUR
Dalam berbagai urusan, banyak lembaga baik pemerintah, swasta maupun gereja sangat menekankan prosedur. Prosedur adalah tata cara yang mesti dilewati sehingga sebuah urusan mudah diakomodir, diteliti dan diifentarisasi. Dari satu sisi prosedur sangat penting dan bermanfaat karena berkaitan dengan kewenangan dan transparansi tetapi ada kecenderung dalam sebuah prosedur yang berbelit-belit, memberi peluang pada sikap kolusi dan nepotisme. Dalam kehidupan masyarakat prinsip “orang dalam” menjadi tren yang tidak bisa disangkal. Kemudahan dalam sebuah urusan tidak terletak pada prosedur yang rapi, jelas dan transparan tetapi terletak pada sejauhmana kita mengenal orang dan orang mengenal kita. Walaupun tidak selalu benar, biasanya sanak keluarga dari seorang pejabat publik atau tokoh agama selalu mendapat banyak kemudahan dalam urusan dalam masyarakat dan gereja dibandingkan masyarakat atau umat biasa yang tidak memiliki kerabat yang berpengaruh baik dalam hal ekonomi, politik maupun keagamaan.
Penginjil Markus menampilkan cerita Yesus tentang kehidupan masyarakat Yahudi pada zaman Yesus yang menekankan prosedur. Tata cara yang menyimpang dari prosedur yang digariskan dalam aturan atau hukum adalah tindakan bodoh yang mesti dipertanggungjawabkan. Yesus diamat-amati Kaum Farisi, jangan-jangan ia menyembuhkan orang pada hari sabat. Di sini bukan soal hasil tetapi soal cara atau proses. Sejauh tindakan itu tidak mendapat legitimasi dalam sebuah hukum atau aturan maka tetaplah merupakan sebuah kesalahan walaupun tindakan itu bermanfaat atau dapat menyelamatkan sebuah nyawa. Itulah hukum hari sabat versi penganut Yahudi klasik. Yesus mengajukan sebuah pertanyaan kritis dengan dasar moral dan teologis yang jelas, manakah yang diperbolehkan pada hari sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang lain. Tidak ada jawaban apalagi diskusi dari kaum farisi atas pertanyaan tersebut. Akal dan hati nurani mereka kaku, gugup dan gagap sehingga yang tersisa adalah butir-butir kebencian untuk menghabisi nyawa Yesus. Yesus mengabaikan prosedur dalam sebuah hukum hari sabat yang kaku dan kehilangan orientasi demi kebahagiaan dan keselamatan umat manusia.
Bukan tidak mungkin dalam tugas dan karya, kita terseret dalam dua ekstrim berbeda soal prosedur dalam sebuah aturan atau hukum. Pada satu sisi ada kecenderungan untuk menekankan prosedur. Kita berpikir dan merasa bahwa prosedur adalah segala-galanya dan selalu berusaha bersembunyi didalamnya. Ketika dimintai jawaban logis dari esensi aturan tersebut ,dengan enteng kita menjawab: Maaf, ini aturan atau regulasi yang sudah ditetapkan. Di sisi lain kita mengabaikan prosedur untuk meloloskan kepentingan diri, keluarga dan kerabat kenalan kita. Hak dan kebutuhan orang lain bukan menjadi tanggungjawab kita. Yang dimaksudkan Yesus dalam injil suci hari ini, bukan bermaksud agar kita bersembunyi dibalik sebuah aturan atau mengabaikan aturan untuk kepentingan diri tetapi hendaknya aturan atau hukum dijadikan sarana bagi kita untuk mengembangkan diri sembari mengakui dan menghargai hak dan martabat orang lain. Dalam kehidupan mengereja, tentu kita tidak bisa dilepaspisahkan dari yang namanya prosedur atau aturan. Untuk itu kita mempunyai tanggungjawab moral untuk mengkritisi semua aturan yang membelenggu umat dan mendukung aturan yang memberdayakan dan mendukung perkembangan iman umat. Ketahuilah mengakui kesalahan dan melakukan perubahan atas kesalahan adalah bentuk tertinggi dari penghormatan atas diri sendiri.
SOAL KEJAHATAN
Dalam berbagai pemberitaan baik melalui media cetak maupun elektronik, kasus kejahatan hampir tidak pernah absen. Terlihat cukup jelas bagaimana kejahatan dalam berbagai kategori dapat diperankan oleh siapa dan di mana saja karena tidak butuh kursus atau keahlian khusus. Dengan demikian, anda, saya dan kita semua mempunyai kecenderungan dan kemampuan untuk berbuat jahat. Secara sederhana, kejahatan dimengerti sebagai upaya mencari dan meraih keuntungan bagi diri sendiri dengan mengorbankan kebaikan dan kebahagiaan orang lain. Pertanyaan mendasar untuk kita refleksi bersama yakni mengapa dan untuk apa orang berbuat jahat. Apakah orang melakukan kejahatan karena ketiadaan pengetahuan tentang yang baik ataukah kejahatan merupakan warisan terberi? Kalau manusia menyebut diri sebagai citra Allah mengapa manusia harus berbuat jahat selagi masih ada kemampuan untuk melakukan yang baik. Mungkin perlu dipahami bahwa kejahatan itu tidak seharusnya ada dalam diri manusia. Dengan ini mau menegaskan bahwa pada dasarnya manusia itu baik. Kejahatan muncul ketika ia tidak mampu menata hati nurani untuk mengelakkan yang jahat dan melakukan yang baik.
Penginjil Markus manampilkan cerita Yesus tentang pengakuan roh-roh jahat bahwa Yesus adalah anak Allah. Cerita yang unik dan menarik walaupun menyisakan banyak kebingungan. Roh jahat yang yang dikenal sebagai musuh terbesar kebaikan, kebenaran dan kekudusan justru berteriak penuh semangat bahwa Yesus adalah anak Allah. Apakah ini tanpa pertobatan roh-roh jahat sekaligus akhir dari segala peperangan dan penderitaan manusia? Tidak. Roh-roh jahat tetap merupakan musuh abadi baik untuk Yesus maupun umat manusia seluruhnya. Tidak heran kalau Yesus melarang mereka untuk memproklamirkan diri-Nya sebagai anak Allah. Iblis mempunyai seribu satu cara untuk menjerat manusia. Ia terkadang tampil sebagai naga merah padam yang serem dan menakutkan tetapi terkadang tampil sebagai naga putih bercahaya, dengan tatapan mata yang sayu dan penuh kelembutan. Sekali manusia lengah, maka ia akan mengulurkan cakarnya, mencincang dan menjerumuskan manusia dalam lembah dosa yang menakutkan.
Ketahuilah dan sadarlah, iblis itu telah ada dalam dunia. Ia hadir dalam aneka wajah dan cara untuk memburu manusia yang mempunyai kadar iman yang lemah. Kalau boleh menerka, bidang politik, ekonomi dan agama menjadi sarana empuk bagi iblis bertahta. Dalam bidang politik, terlihat jelas dalam pribadi yang haus kekuasaan, gila hormat dan popularitas. Kebenaran bisa saja dimanipilasi demi agenda pribadi dan partai. Sementara dalam bidang ekonomi nampak dalam pribadi yang tidak pernah puas dengan harta kekayaan. Bila si miskin memikirkan hari ini makan apa, maka si kaya yang tamak akan sibuk berpikir makan siapa dan di mana. Lain halnya dengan iblis yang bersantai ria dalam kehidupan mengereja. Ia bisa merasuki jiwa seorang pemimpin atau pengurus gereja dengan tingkah laku dan tutur kata yang kelihatan sopan, lembut dan bersahabat tetapi menyimpan banyak kemunafikan dalam bentuk ambisi pribadi, gila hormat dan kesalehan palsu. Sekali lagi, iblis bekerja dalam sebuah jaringan yang jelas dan rapi. Ia tidak lagi hadir dalam bentuk yang bringas, seram dan bertanduk tujuh tapi bisa hadir dalam pribadi yang ramah dan mempesona. Bacaan suci hari ini mengajak kita untuk kembali dan melihat diri kita, apakah semangat yang berkobar dalam diri kita, baik dalam karya dan doa-doa kita, sungguh-sungguh bertujuan memuliakan Allah dan berjuangan demi kebahagiaan dan kesejahteraan sesama? Ataukah sebaliknya. Jawabanya ada dalam hati kita masing-masing. Ketahuilah sifat cinta dan iman dalam diri kita sama seperti sifat air dalam tanah. Apabila kita tidak cukup dalam menggali maka anda mendapatkan air yang keruh tetapi apabila kita mengali cukup dalam maka kita mendapatkan air yang bersih dan jernih.