Upah dan kerja adalah dua hal yang berbeda tetapi memiliki hubungan yang sangat erat. Upah dan kerja berkaitan erat soal hak dan kewajiban. Dengan demikian kita tidak mempunyai sedikitpun alasan untuk memintah upah selagi kita mengabaikan kewajiban kita dalam kerja. Akhir-akhir ini pembicaraan tentang upah dan kerja telah menjadi hal yang selalu actual untuk dibicarakan. Banyak orang mengeluh karena upah yang diterimanya tidak sebanding dengan banyaknya waktu dan beban kerja yang dijalaninya. Tetapi tidak sedikit orang yang mengeluh karena upah yang diberikan terasa tidak sepadan dengan kualitas kerja dan hasil yang diterima. Dari sini dapat dilihat bahwa perang dingin antara pekerja dan pemilik modal terus berlanjut dan tidak akan pernah berakhir. Bandingkan saja cerita tentang revolusi industry di Inggris beberapa abad lalu. Lantas? Bagaimanakah upah kita sebagai seorang murid Kristus. Apakah upah yang bakal diterima oleh seseorang yang mendermakan diri untuk kerajaan Allah?
Penginjil Markus menceritakan bagaimana Petrus mengungkapkan keprihatinannya, betapa tidak gampang untuk memperoleh kehidupan kekal. Setelah Yesus berkata betapa sukarnya orang kaya masuk Kerajaan Allah, berkatalah Petrus kepada Yesus, “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau.” Maka Yesus menjawab, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, barangsiapa meninggalkan rumah, saudara-saudari, ibu atau bapa, anak-anak atau ladangnya, pada masa ini juga ia akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak-anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan; dan di masa datang ia akan menerima hidup yang kekal. Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir,dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu.” Petrus menyatakan bahwa bersama dengan teman-temannya yang lain, ia telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Yesus. Mereka telah menjadikan Yesus satu-satunya kekayaan mereka. Yesus lalu memberi kepastian bahwa mereka yang dengan sukarela meninggalkan segala-galanya akan mendapatkan kembali seratus kali lipat, dan pada masa yang akan datang mereka akan mendapatkan jaminan hidup kekal.
Yesus adalah segala-galanya bagi kita. Keberanian dan komitmen kita adalah hal yang mesti dimiliki ketika kita menyatakan “ya” atas tawaran kasih Yesus. Menjadi pelayan Tuhan tidak bisa disamakan dengan lapangan kerja yang berkaitan dengan upah. Mengutip pernyataan Paulus yakni upah kita adalah tanpa upah. Bila kita menyamakan karya pelayan dengan lapangan kerja maka yang terjadi adalah sebuah kekosongan yang mengerikan. Kita kehilangan orientasi dan arah dalam karya-karya pelayanan kita. Sekali lagi jubah bukanlah simbol status sosial yang dihubungkan dengan prestasi dan ekonomi tapi sebaliknya jubah adalah simbol kesederhanaan dan pelayanan tampa pambrih kepada semua orang. Iman dan kepercayaan kita adalah hiburan terbesar dalam menempuh ziarah pangggilan kita sebagai murid-murid Kristus.
Monday, 9 July 2012
SOAL KEHADIRAN
Arus transportasi dan komunikasi zaman ini telah membawa kemudahan bagi manusia dalam usaha dan karya. Dunia terasa begitu kecil bagai sebuah dusun mungil yang mudah dijangkau dan ditapaki. Kita semua pasti sangat berbangga dan puas walau ditaburi banyak kecemasan dan ketakutan. Arus transportasi dan komunikasi yang begitu pesat ternyata bukan hanya memberi banyak kemungkinan bagi manusia dalam berekspresi tetapi juga bisa menjauhkan yang dekat. Aktus kehadiran telah menjadi pristiwa langka dan sulit dibuat. Kehadiran diri personal dapat saja diwakili oleh selembar amplop berisi uang atau sebungkus kado hadiah. Bandingkan saja pengalaman berbagai kelompok arisan dalam masyarakat. Banyak anggota yang merasa tidak wajib hadir asalkan saja kewajibannya menyetor uang arisan dipenuhi atau yang sedikit lebih santu biasanya mengutus seseorang yang dapat mewakili. Atau juga soal keharan kita dalam ibadat atau misa kudus. Orang merasa tidak wajib hadir dengan sebuah alasan klasik dan murahan, toh Tuhan ada di mana-mana. Padahal kehadiran kita adalah tanda sekaligus merupakan berkat dsan kegembiraan bagi orang lain. Kehadiran tidak bisa diidentikkan dengan kado dan uang tetapi soal nilai sopan santu dan penghargaan. Kita diminta atau diharapkan hadir karena kita begitu berharga di mata sesama kita. Di hari pesta Maria mengunjungi Elisabet ini saya ingin mengajak kita untuk bercermin pada spiritualitas kehadiran seorang Bunda Maria. Apa dan bagaimanakah nilai kehadiran yang sejati?
Penginjil Lukas hari ini menampilkan cerita cinta tentang bagaimana Maria mengunjungi Elisabet saudaranya. Dua orang bersaudara ini sebenarnya dalam keadaan cerita hidup sama-sama unik dan menarik. Maria mengandung dari Roh Kudus sementara Elisabet mengandung seorang anak diusianya yang sudah usur. Secara ilmiah dan manusiawi status kandungan dari dua bersaudara ini sulit diterima. Bagaimana seorang perempuan mengandung tanpa kehadiran seorang laki-laki yang dapat disebut suami atau bagaimana mungkin bisa mengandung dalam usia yang sudah lanjut. Semuanya membingungkan tetapi sangat nyata dan real. Kunjungan Maria kepada saudaranya Elisabet merupakan cerita biasa dan lumrah. Sesama saudara biasa dan harus saling mengunjungi. Mungkin yang perlu didalami secara lebih mendalam yakni soal inisiatif dan esensi dari sebuah kunjungan. Tentunya yang menjadi penginisiatif dari cerita ini yakni Maria dan esensi dari kunjungan itu yakni soal kehadiran semata. Maria mengunjungi Elisabet dan bukan sebaliknya Elisabet mengunjungi Maria. Lebih dari itu salam kehadiran Maria menggetarkan jiwa Elisabet dan anak dalam kandungannyapun melonjak penuh kegirangan. Ada apa ini? Apakah sebuah kebetulan atau ada hal lain dari nilai sebuah kehadiran?
Mungkin kehadiran kita kita tidak seheboh seperti kehadiran seorang Maria sebagaimana yang dialami Elisabet, tetapi kita patut bertanya diri sejauhmana kita telah berinisiatif untuk mengunjungi orang lain dan bagaimanakah dampak lanjut dari kunjungan kita. Tentunya kunjungan kita tidak disambut meriah seperti lazimnya kunjungan kerja para pejabat pemerintah atau kunjungan kerja seorang pejabat gereja seperti Paus, Kardinal atau Uskup. Inti dari spiritualitas kehadiran Maria yakni kerelaan kita untuk mau mengnjungi dan memberi rasa aman, tenang dan gembira bagi orang yang kita kunjungi. Jangan sampai kehadiran kita membebankan orang lain atau bahkan membuat orang merasa tersakiti. Ketahuilah kunjungan tidak selalu diidentikkan dengan buah tangan atau oleh-oleh tetapi duduk mendengar keluh kesah dan rintihan hati sesama sudah merupakan bentuk dari sebuah spiritualitas kehadiran Maria. Hari ini kita menutup bulan Maria tetapi bukalah hatimu sebab Bunda Maria senantiasa datang dan merangkul jiwamu menuju hati terkudus Yesus.
Soal Hidup Keagamaan
Negara Indonesia adalah negara beragama bukan negara agama. Beragama artinya memiliki banyak agama dan hal itu diakui dalam butir pertama pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Namun siapa yang pernah menduga kalau agama-agama di Indonesia telah ditunggangi oleh berbagai kelompok kepentingan. banyak oknum yang berjuang untuk mendapatkan keuntungan ekonomi dan politik mengatasnamai agama. Isu-isu keagamaan biasanya sangat santer menjelang pesta demokrasi / pemilihan umum. Bahkan ada tega dan berani mengunakan kesempatan beribadah dan berdiri di atas mimbar Sabda, berbicara tentang hal yang berkaitan dengan politik. Tidak bisa dipungkiri bahwa berbicara tentang iman tidak terlepas dari diskusi soal ekonomi dan politik, tetapi perlu diingat, iman adalah perkara batiniah yang bersifat sangat pribadi, bukan sesuatu yang mesti diperagakan secara bombastis ala orang Farisi pada zaman Yesus. Dalam konteks Indonesia, pemandangan yang menggelikan terjadi. Orang tidak segam-segan mengunakan pakaian keagamaan untuk mengejar dan menuding yang lain kafir.
Dalam khotbah di bukit Yesus berkata“Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, kalian tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Kalian telah mendengar apa yang disabdakan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya, harus dihukum! Barangsiapa berkata kepada saudaranya: ‘Kafir!’ harus dihadapkan ke mahkamah agama, dan siapa yang berkata: ‘Jahil!’ harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Sebab itu jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah, dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dia di tengah jalan, supaya lawanmu jangan menyerahkan engkau kepada hakim, dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya, dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar utangmu sampai lunas.”
Kita sering menganggap sikap terhadap sesama sebagai perkara yang sepele, remeh, tidak perlu dikaitkan dalam hubungan manusia dengan Tuhan, misalnya ketika sedang berdoa dan semacamnya. Atau sebaliknya ada orang yang mengira doa dan persembahan dapat membereskan konflik dengan sesama di mata Tuhan. Tentu saja perkiraan dan pandangan ini tidak benar; maka Tuhan meluruskannya dengan memberikan pengajaran-Nya. Memang mempersembahkan korban itu sangat mulia dan luhur karena memperlihatkan sembah sujud dan bakti kita kepada Tuhan. Tetapi, semua itu tak ada artinya bila orang juga melakukan kejahatan terhadap sesamanya, seperti kekerasan fisik: membunuh, dan bahkan kekerasan non fisik: menghina, mengcacii-maki. Walaupun ia rajin membawa korban persembahan, orang seperti ini tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Bagi Tuhan hubungan manusia dengan sesamanya itu sangat menentukan dan mewarnai hubungan manusia dengan diri-Nya. Oleh karena itu, korban persembahan dan doa bukan hanya sekadar upacara ritual yang lahiriah atau dilakukan dalam kemunafikan seperti halnya orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat.
Ketahuilah saudara dan saudariku, hati yang bersih menjadi syarat mutlak bagi seseorang yang hendak mempersembahkan korban dan amal kepada Tuhan dan sesama. Maka Tuhan menuntut agar orang terlebih dahulu membersihkan hatinya dengan cara memperbaiki kembali relasi yang retak dengan sesama, atau berdamai lebih dahulu dengan sesamanya, sebelum menghadap Tuhan.
SOAL KEMAUAN
Kisah sukses kebanyakan orang selalu berawal dari sebuah kemauan. Hal ini ingin menegaskan sebuah pernyataan bahwa dimana ada kemauan pasti ada jalan. Dalam sebuah kemauan akan terbuka sebuah inisiatif, alternative, solusi dan kreatifitas. Lalu apa itu kemauan? Bagaimana kemauan itu bisa dilukiskan dalam berbagai alur kisah sukses? Mungkin perlu disadari bahwa kemauan sebenarnya keinginan teguh dalam diri yang didukung oleh sebuah komitmen dan daya juang. Tanpa sebuah komitmen dan daya juang maka kemauan tidak lebih dari sebuah angan semata yang bersifat fatamorgana. Kemauan berasal dari sebuah kata kehidupan yakni mau atau ingin. Itu berarti semua orang mempunyai hasrat atau mimpi yang mau atau ingin diraih. Namun sekali lagi kemauan atau keinginan dalam diri harus didukung oleh sebuah orientasi yang jelas dan tegas. Kita tidak bisa menginginkan kesuksesan dalam usaha dan karya atau dalam bidang akademis tanpa didukung oleh sebuah sikap dan gaya hidup disiplin, hemat dan memiliki berdaya juang.
Kemauan untuk maju dan sukses dalam usaha dan karya serta gemilang dalam hal akademis hampir sama bentuknya dalam kisah kemauan seorang beriman untuk dekat dengan Tuhan penciptanya. Iman bukanlah sesautu yang terberi tanpa sebuah perjuangan untuk menjernihkannya dalam satu cara. Iman yang tidak dipugar atau dimurnikan akan berujung pada dua ekstrim yang menakutkan yakni radikalisme agama dan atheisme modern. Kemauan untuk selalu dekat dengan Tuhan harus dijabarkan dalam berbagai sikap hidup baik dalam doa maupun relasi yang dibangun dengan orang lain. Doa tanpa sebuah relasi yang baik dengan orang lain adalah bentuk kemunafikan yang mengkerdilkan diri sendiri.
Penginjil Matius menampilkan cerita Yesus soal kemauan seorang perempuan yang menderita penyakit pendarahan untuk menjamah jumbai jubah Yesus. Kemauan untuk mendekati dan mejamah jubah Yesus bukanlah sebuah gerakan reflex yang tanpa maksud dan tujuan. Ia menjamah jubah Yesus karena didorong oleh sebuah keinginan untuk sembuh. Memang terasa sulit dimengerti, sebuah kesembuhan terjadi hanya dengan menjamah jumbai jubah tetapi justru pada saat itulah ia mempertontonkan sebuah kualitas iman yang kokoh kepada Yesus dan semua orang. Kepadanya, Yesus berpesan, teguhkanlah hatimu sebab imanmu telah menyelamatkan kamu. Lain halnya dengan kadar iman kebanyakan orang yang tertawa sinis ketika di rumah Yairus Yesus mengatakan “Anak ini tidak mati tetapi tidur”. Dengan ini mau menegaskan bahwa iman yang hidup akan terlukis dalam sebuah sikap penyerahan, kerendahan hati dan kepasrahan pada penyelanggaraan Allah.
Iman atau kepercayaan itu mempunyai kekuatan yang dahsyat. Ia dapat menyembuhkan. Ia dapat menyelamatkan. Agar iman dapat tumbuh dan kokoh kita senantiasa berusaha mendekatkan diri dengan Allah. Kemauan untuk mendekatkan diri dengan Allah memampukan kita untuk bertahan dalam situasi sulit sekalipun. Iman dan kepasrahan kepada Allah selalu dituntut dari kita, walaupun tidak selalu sempurna. Kita dapat menyuburkan iman lewat doa-doa di rumah, misa atau ibadat di gereja, di lingkungan dan ikut aktif menggereja dan bermasyarakat. Rasul Paulus mengingatkan kita agar dalam kehidupan beriman kita juga memperhatikan kepentingan sesama, khususnya kaum miskin dan terpinggirkan. Solidaritas kepada kaum miskin itu bukan supaya mereka mendapat keringanan, tetapi terutama supaya ada keseimbangan. “Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan. Seperti ada tertulis: “Orang yang mengumpulkan banyak tidak kelebihan, dan orang yang mengumpulkan sedikit tidak kekurangan”.
Di sini ditekankan sikap mau berbagi dengan sesama dan kepedulian kita terhadap sesama, rasa senasib sepenanggunangan seperti yang diteladankan oleh Yesus. Kita telah dibaptis dalam nama Yesus Kristus. Kita telah dipersatukan dengan-Nya. Maka kita dapat membedakan kebenaran dan kejahatan. Segala sesuatu yang benar dan kekal berasal dari Allah, sedang segala kejahatan yang mengakibatkan kehancuran berasal dari setan. Oleh karena itu dalam segala keadaan kita mempergunakan iman sebagai perisai agar kita selamat.
Monday, 30 January 2012
SOAL BERADAPTASI
Pernahakah kita sadar bahwa perubahan dan keberagaman itu adalah dua hal yang saling mengadaikan. Kita tidak bisa berbicara bahkan memikirkan sebuah perubahan tanpa adanya keberagaman atau dengan bentuk lain, keberagaman adalah adalah motor pengerak adanya perubahan. Keberagaman dalam hal ini hadir dalam beragam bentuk seperti keberagaman dalam cara pandang dan gaya hidup. Tidak heran, untuk sebuah perubahan dan inovasi baru, benturan cara pandang dan gaya hidup antar generasi kerap terjadi. Kebanyakan generasi tua senang bernostalgia pada masa lalu dan berusaha mengformat generasi muda dalam cara pandang dan gaya hidup zaman dulu sementara generasi muda cenderung melihat nilai yang ditawarkan generasi tua sebagai bahan rongsokan yang pantas disampahkan karena ketinggalan zaman sembari mengikuti nilai yang ditawarkan zaman modern yang terkadang samar-samar. Lalu bagaimana sikap kita dalam upaya merangkai suasana damai dan persaudaraan dalam keberagaman untuk sebuah perubahan yang bersifat kontruktif dan produktif? Hampir sulit memikirkan hal lain kecuali beradaptasi. Beradaptasi bukan berarti ikut arus tanpa jati diri, komitmen dan tanggung jawab. Beradaptasi berarti terbuka terhadap arus zaman tetapi tetap berakar pada nilai luhur yang diwariskan seperti iman dan pengakuan kita akan penyelenggaraan Allah.
Dihari keenam belas dalam bulan pertama ditahun 2012 ini, kita disuguhkan cerita Yesus tentang merangkai perbedaan dalam sebuah perubahan dengan beradaptasi. Penginjil Markus menceritakan bagaimana orang mempertanyakan perbedaan gaya hidup murid-murid Yesus dan murid-murid Yohanes dalam hal berpuasa. Ketika murid-murid Yohanes berpuasa, pada saat yang sama murid-murid Yesus bersantai ria atau berleha-leha tanpa beban. Menjawabi pertanyaan ini, Yesus mengangkat sebuah analogi secari kain baru pada kain yang lama serta anggur yang baru pada kantong yang tua. Kain yang baru janganlah ditambalkan pada kain yang lama karena akan mencabiknya demikian halnya kantong anggur yang baru jangan dituangkan pada kantong anggur yang lama supaya jangan sampai basi, terbuang atau tidak terpakai. Dalam hal ini, Yesus menegaskan bahwa Ia adalah muara akhir dari doa dan puasa yang dibuat manusia. Ia adalah Allah yang menjelma menjadi manusia. Logikanya cukup jelas yakni untuk apa berpuasa selagi Dia yang menjadi sasaran akhir dari puasa kita sudah ada. Dalam hal ini, murid-murid Yesus tidak perlu berpuasa karena Yesus ada diantara mereka. Ceritanya lain kalau Yesus tidak ada maka para murid pasti dan harus berpuasa.
Hidup ini penuh warna sehingga kelihatan sangat indah. Tanpa sebuah perbedaan maka di sana tidak ada keindahan, dinamika dan perubahan. Dari perbedaan-perbedaan itu kita disatukan tetapi bukan untuk disamakan namun untuk disesuaikan. Untuk sebuah persaudaraan, toleransi dan tenggang rasa, hal pertama yang mesti diakui dan disadari yakni kita beda. Hanya dengan pengakuan dan kesadaraan akan adanya perbedaan maka kita dapat mencitai dan mengharagai perbedaan itu. Ketahuilah perbedaan atau keberagaman adalah motor pengerak sebuah perubahan. Dalam konteks bacaan suci hari ini, kita diajak agar menyadari diri kita sebagai sebuah komunitas umat manusia yang sedang berziarah menuju rumah Allah. Kita yakin dan percaya, apapun cara dan gaya kita dalam berdoa dan berpuasa semuanya tetap bermuara pada satu tujuan yakni membahagiakan sesama dan memuliakan Allah. Kadang-kadang kita mengatasi situasi sulit hanya dengan bersedia memahami orang lain. Sering yang paling dibutuhkan oleh seseorang adalah ada orang lain yang peduli dengan perasaan dan berusaha memahami posisi mereka. Semoga dihadapan terang Sabda Allah dan Roh pemberi karunia, lenyaplah kegelapan dosa dan kebutaan manusia tak beriman, dan semoga hati Yesus Hidup dalam hati semua orang. Amin
SOAL ATURAN
Ketika saya duduk di seminari menengah, seorang teman dekat saya memiliki kebiasaan untuk mengeluh. Dia mengeluh untuk banyak hal sehingga hampir tiada hari dilewatkan tanpa mengeluh. Bila diprosentasikan maka keluhan tentang aturan seminari mendapat porsi terbanyak. Ada banyak argumen yang diutarakannya termasuk aturan olahraga yang dibagi dalam kelompok. Menurutnya aturan semacam ini, bukan hanya membuat orang tertekan secara psikis tetapi juga mematikan kreatifitas dan inovasi seseorang. Akhirnya dalam bulan terakhir menjelang ujian akhir sekolah, ia memutuskan untuk menarik diri dari lembaga panti imam tersebut. Apakah di luar sana ada sebuah kebebasan mutlak tanpa control dalam bentuk aturan? Tidak. Di mana saja kita berada selalu dihadapkan dengan aneka aturan agar kebebasan kita tidak mengganggu apalagi membatasi kebebasan orang lain. Pada prinsipnya aturan atau hukum dibuat untuk sebuah tujuan yang baik tetapi persoalan selalu muncul ketika orang yang membentuk, menjaga dan yang menjalankan aturan tersebut memiliki persepsi atau cara pandang beragam atas aturan yang sama. Bandingkan saja situasi sosial di tanah air kita akhir-akhir ini. Hukum dengan mudah digadai dan diputarbalikkan sehingga yang kerap terjadi adalah yang benar disalahkan dan yang salah dibenarkan. Bandingkan proses hukum seorang koruptor yang mencuri uang rakyat bermilar-miliaran rupiah dengan seorang pencuri bunga dan sandal jepit.
Penginjil Markus menampilkan cerita Yesus tentang esensi sebuah aturan atau hukum. Masyarakat Yahudi pada zaman Yesus memiliki sebuah aturan atau hukum pengsakralan hari sabat sebagai hari khusus bagi Tuhan. Hal ini bertolak dari kisah kejadian tentang bagaiman Allah menciptaka langit dan bumi selama enam hari dan pada hari ketujuh dia beristrahat setelah menyaksikan semuanya itu baik. Aturan hari sabat menerapkan prinsip tunggal yakni tidak ada aktifitas lain kecuali bersujud dan berdoa kepada Yahwe. Apapun kegaitan tersebut walaupun untuk sebuah tujuan mulia tetap dikatakan dosa karena melanggar hukum hari sabat dan terjadilah demikian. Untuk mengisi perut yang keroncongan, para murid Yesus memetik bulir gandum. Yesus dimintai keterangan atas sikap pembangkangan para murid. Namun Yesus tidak bergeming sedikitpun. Ia mengunakan sebuah hukum tertinggi yakni penghargaan terhadap martabat manusia. Segala bentuk aturan atau hukum mestinya bermuara pada penghargaan atas martabat manusia yang merupakan citra Allah sendiri. Menurut Yesus aturan diciptakan untuk manusia dan bukan sebaliknya manusia untuk aturan. Yesus menujukkan legitimasi kekuasaannya atas surga dan dunia dengan mengatakan bahwa dirinya adalah tuan atas hari sabat.
Perjalanan panjang karya Yesus diwarnai dengan pesan-pesan pembaharuan dan tidak sedikit bersifat kontroversial dan revolusioner. Hukum itu mesti ditegakkan sejauh tidak membelenggu manusia sebagai pribadi yang bermartabat. Akhir-akhir ini dengan adanya sistem otonomi daerah, produksi undang-undang di daerah dan negara kita begitu banyak. Lebih parah lagi ketika tidak ada batasan yang jelas antara ruang privat, ruang publik dan doktrin agama. Semua orang binggung, baik masyarakat maupun lembaga pencetak undang-undang atau hukum itu sendiri. Kebingungan merambat pada pihak penegak hukum dan pengambil keputusan seperti hakim dan jaksa. Anda, saya dan kita semua berada dalam situasi binggung. Di tengah virus kebingungan ini apakah ada obat penawar yang menyajikan pencerahan dan solusi? Tidak ada cara lain selai kita harus kembali pada roh dari hukum itu sendiri yakni memberi kelegaan bagi mereka yang haus akan kebenaran dan keadilan sembari tetap menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sebagai citra Allah yang maha luhur. Perjuangan ini butuh kesabaran dan pengorbanan. Hal pertama yang mesti dibuatnya yakni memutuskan mata rantai gurita banalisasi kejahatan yang selalu datang menawarkan diri dalam beragam cara dan bentuk. Ketahuilah gurita kejahatan itu telah merasuki ranah kehidupan kelurga dan karya pelayanan gereja. Di sini pemikiran rasional, iman dan hati nurani hendaknya dipakai sebagai benteng agar kita tidak terseret pada virus kebinggungan yang berkepanjangan. Ingat, orang yang luar biasa itu selalu sederhana dalam ucapan tetapi hebat dalam tindakan.